Struktur Beton Pracetak Pangkas Biaya Proyek RS Borong hingga Rp1,15 Miliar

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Penerapan struktur beton pracetak (precast) pada pembangunan Rumah Sakit Borong di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, terbukti mampu mempercepat waktu konstruksi sekaligus menekan biaya proyek. Temuan ini dipublikasikan oleh Aldo Salam Lubis, Ony Frengky Rumihin, dan Buntara Sthenly Gan dari Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam riset yang terbit pada 2026 di Formosa Journal of Science and Technology.

Penelitian tersebut mengevaluasi penggunaan desain struktur pracetak dalam skema proyek Design and Build untuk pembangunan rumah sakit yang ditargetkan selesai dalam waktu singkat namun tetap memenuhi standar mutu tinggi. Hasilnya menunjukkan bahwa metode pracetak mampu menghemat waktu pelaksanaan hingga 46 hari dan menurunkan biaya struktur lebih dari Rp1,15 miliar dibanding metode konstruksi konvensional.

Pembangunan fasilitas kesehatan menjadi salah satu tantangan besar dalam penyediaan layanan publik di Indonesia. Kebutuhan rumah sakit yang berkualitas terus meningkat seiring perubahan pola penyakit masyarakat, pertumbuhan jumlah penduduk lanjut usia, serta target pemerintah memperkuat layanan kesehatan di berbagai daerah.

Dalam konteks tersebut, pemerintah menjalankan program peningkatan kapasitas rumah sakit di sejumlah wilayah, termasuk peningkatan status rumah sakit kelas D menjadi kelas C. Salah satu lokasi yang menjadi fokus pengembangan adalah RSUD Borong di Kabupaten Manggarai Timur.

Proyek rumah sakit ini dirancang menggunakan pendekatan Design and Build, yaitu model pelaksanaan yang menggabungkan proses perencanaan dan pembangunan dalam satu kontrak terpadu. Pendekatan tersebut dipilih untuk mempercepat penyelesaian proyek dan meningkatkan koordinasi antara perancang dan pelaksana konstruksi.

Namun, proyek dengan target waktu ketat membutuhkan metode konstruksi yang lebih efisien dibanding teknik pengecoran konvensional yang dilakukan seluruhnya di lokasi pembangunan.

Tim peneliti kemudian membandingkan dua pendekatan struktur bangunan: metode beton konvensional dan metode beton pracetak.

Pada metode konvensional, seluruh tahapan dilakukan di lapangan mulai dari pemasangan bekisting, penulangan, pengecoran, perawatan beton, hingga pembongkaran cetakan. Proses ini berlangsung berurutan sehingga memerlukan waktu lebih panjang.

Sebaliknya, metode pracetak memungkinkan elemen struktur seperti balok, kolom, dan pelat lantai diproduksi lebih dahulu di pabrik atau area fabrikasi sebelum dikirim dan dipasang di lokasi proyek. Dengan cara ini, produksi elemen dapat berjalan bersamaan dengan pekerjaan lapangan.

Untuk mengukur efektivitasnya, peneliti melakukan analisis terhadap gambar kerja, rencana anggaran biaya, durasi pelaksanaan, serta perbandingan elemen struktur utama pada proyek pembangunan Rumah Sakit Borong.

Hasil evaluasi menunjukkan perbedaan yang cukup signifikan.

Dari sisi biaya, metode konvensional membutuhkan anggaran struktur sebesar Rp11,09 miliar. Sementara itu, metode pracetak menurunkan kebutuhan biaya menjadi sekitar Rp9,95 miliar.

Artinya, terjadi penghematan sebesar Rp1.150.515.798 atau sekitar 5,18 persen dari total biaya struktur.

Efisiensi biaya tersebut terutama berasal dari beberapa faktor:

• berkurangnya penggunaan bekisting di lapangan
• kebutuhan tenaga kerja yang lebih rendah
• pengurangan material terbuang
• waktu pekerjaan yang lebih singkat sehingga biaya operasional ikut turun

Dari sisi waktu, dampaknya bahkan lebih besar.

Durasi pekerjaan struktur dengan metode konvensional tercatat sekitar 110 hari. Ketika menggunakan sistem pracetak, waktu pelaksanaan turun menjadi 64 hari.

Dengan kata lain, proyek dapat dipercepat selama 46 hari atau setara efisiensi waktu sebesar 20,91 persen.

Menurut penulis, percepatan terjadi karena proses fabrikasi elemen dilakukan secara paralel dengan pekerjaan persiapan di lapangan. Tim proyek tidak perlu menunggu seluruh proses pengecoran dan pembongkaran cetakan selesai sebelum melanjutkan ke tahap berikutnya.

Selain itu, produksi di area fabrikasi juga membuat pekerjaan lebih terkendali terhadap faktor cuaca yang selama ini sering menjadi penyebab keterlambatan proyek konstruksi.

Meski menawarkan efisiensi tinggi, metode pracetak tetap memiliki tantangan. Sistem ini membutuhkan investasi awal lebih besar, koordinasi logistik yang matang, alat angkat khusus, serta perencanaan sambungan struktur yang presisi agar keamanan bangunan tetap terjaga.

Namun dalam proyek rumah sakit yang memiliki pola pekerjaan berulang dan tenggat ketat, peneliti menilai manfaat yang dihasilkan jauh lebih besar dibanding tantangannya.

Temuan ini memberi gambaran bahwa pendekatan konstruksi berbasis manufaktur dapat menjadi salah satu strategi percepatan pembangunan fasilitas publik di Indonesia, terutama untuk sektor kesehatan yang membutuhkan kualitas bangunan tinggi dan waktu penyelesaian cepat.

Bagi pemerintah maupun pelaku industri konstruksi, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa efisiensi proyek tidak selalu harus dicapai melalui pengurangan spesifikasi bangunan, tetapi juga melalui perubahan metode kerja yang lebih modern dan terintegrasi.

Profil Singkat Penulis

Aldo Salam Lubis — Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Ony Frengky Rumihin — Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Buntara Sthenly Gan — Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

Sumber Penelitian

Lubis, A. S., Rumihin, O. F., & Gan, B. S. (2026). Assessment of Precast Structural Design for Economy and Time Savings in the Borong Hospital Design and Build Initiative. Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 6, 1331–1342.

URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i6.88

Posting Komentar

0 Komentar