Optimalisasi Briket Biomassa Meranti Merah (Shorea Leprosula Miq.) dan Bambu Betung (Dendrocalamus Asper) untuk Produksi Energi Berkelanjutan

Ilustrasi by Ai


FORMOSA NEWS- Kalimantan Timur

Briket Biomassa Meranti Merah–Bambu Betung Tawarkan Energi Bersih dari Limbah Hutan Tropis

Peneliti dari Universitas Mulawarman menemukan formulasi optimal briket biomassa berbahan limbah kayu meranti merah dan bambu betung yang berpotensi menjadi bahan bakar rumah tangga berenergi tinggi dan lebih ramah lingkungan. Riset ini dipublikasikan pada Januari 2026 di Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA), dan menawarkan solusi praktis untuk memanfaatkan sisa industri kayu dan bambu sebagai energi terbarukan.

Studi tersebut ditulis oleh Rindayatno, Mawan Indah Sari Tambunan, dan Agung Priyo Hutomo—tiga akademisi kehutanan Universitas Mulawarman—yang menguji berbagai komposisi briket dari arang kayu meranti merah (Shorea leprosula Miq.) dan bambu betung (Dendrocalamus asper). Hasilnya penting karena Indonesia memiliki ketersediaan biomassa melimpah, namun masih belum dimanfaatkan optimal sebagai pengganti bahan bakar fosil.

Limbah Kayu dan Bambu, Potensi Energi Terabaikan

Kebutuhan energi yang terus meningkat dan tuntutan pengurangan emisi mendorong pencarian sumber energi alternatif yang lebih bersih. Di kawasan tropis seperti Indonesia, limbah penggergajian kayu dan sisa panen bambu sering kali terbuang, padahal keduanya kaya bahan lignoselulosa—komponen utama pembentuk arang berkualitas.

Kayu meranti merah dikenal memiliki kandungan lignin tinggi yang berkontribusi pada nilai kalor dan karbon terikat. Sebaliknya, bambu betung tumbuh cepat dan mudah diperbarui, namun cenderung menghasilkan arang dengan zat volatil lebih tinggi. Mengombinasikan keduanya membuka peluang untuk mendapatkan briket dengan keseimbangan antara energi, kekuatan mekanik, dan kemudahan penyalaan.

Cara Sederhana Menguji Briket Terbaik

Tim peneliti menyiapkan arang dari limbah kayu meranti merah dan bambu betung melalui proses karbonisasi bersuhu sekitar 500 derajat Celsius. Arang kemudian dihancurkan, diayak hingga ukuran seragam, dicampur perekat alami dari tepung tapioka, lalu dipres menjadi briket.

Lima komposisi diuji: 100% meranti merah; 75% meranti + 25% bambu; 50:50; 25% meranti + 75% bambu; dan 100% bambu. Setiap variasi diuji kepadatan, kadar air, kekuatan tekan, kadar abu, zat volatil, karbon terikat, dan nilai kalor menggunakan standar pengujian internasional.

Hasil Utama: Energi Tinggi dengan Komposisi Seimbang

Hasil pengujian menunjukkan perbedaan jelas antar komposisi:

  • Nilai kalor tertinggi dicapai briket 100% meranti merah, mencapai sekitar 6.648 kalori per gram, menandakan potensi energi besar untuk memasak dan kebutuhan rumah tangga.
  • Kinerja paling seimbang justru ditemukan pada campuran 75% meranti merah dan 25% bambu betung, dengan nilai kalor tinggi (sekitar 6.289 kalori per gram), kepadatan baik, dan kekuatan tekan yang stabil.
  • Penambahan bambu meningkatkan kepadatan dan kemudahan penyalaan, tetapi cenderung menurunkan nilai kalor karena meningkatnya zat volatil.
  • Campuran 100% bambu memiliki kepadatan tertinggi, namun nilai kalor paling rendah dibanding formulasi lain.

Secara statistik, komposisi bahan baku terbukti sangat memengaruhi hampir semua parameter mutu briket, kecuali kekuatan tekan yang relatif stabil pada semua perlakuan.

Lolos Standar Nasional, Tapi Masih Bisa Dioptimalkan

Ketika dibandingkan dengan Standar Nasional Indonesia (SNI 01-6235-2000), sebagian besar briket memenuhi batas kadar air dan nilai kalor minimum. Namun, kadar zat volatil masih di atas standar, dan karbon terikat belum mencapai ambang ideal. Artinya, proses karbonisasi masih bisa disempurnakan untuk menghasilkan briket yang lebih bersih dan efisien.

Meski begitu, peneliti menilai bahwa untuk penggunaan domestik, terutama di wilayah dengan akses energi terbatas, briket campuran meranti–bambu sudah sangat layak digunakan.

Dampak Nyata bagi Masyarakat dan Industri

Temuan ini membuka peluang nyata bagi masyarakat dan pelaku usaha kecil untuk memproduksi bahan bakar alternatif dari sumber lokal. Limbah penggergajian kayu dan bambu yang sebelumnya tidak bernilai kini bisa diolah menjadi produk energi bernilai tambah.

Selain mengurangi ketergantungan pada LPG dan kayu bakar, briket biomassa juga berpotensi menekan emisi karbon dan mendorong ekonomi sirkular di sektor kehutanan. “Pendekatan pencampuran biomassa memungkinkan kita menyesuaikan karakter briket sesuai kebutuhan, tidak semata mengejar energi tertinggi,” tulis Rindayatno dan tim dalam artikelnya.

Profil Singkat Penulis

  • Dr. Rindayatno – Dosen Fakultas Kehutanan, Universitas Mulawarman. Keahlian: teknologi hasil hutan dan bioenergi.
  • Mawan Indah Sari Tambunan, M.Sc. – Peneliti bioenergi dan pemanfaatan limbah biomassa, Universitas Mulawarman.
  • Agung Priyo Hutomo, M.Si. – Akademisi kehutanan dengan fokus pada material biomassa dan energi terbarukan.

Sumber Penelitian

Rindayatno; Tambunan, M. I. S.; Hutomo, A. P. (2026). Optimization of Biomass Briquettes from Red Meranti (Shorea leprosula Miq.) and Betung Bamboo (Dendrocalamus asper) for Sustainable Energy Production. Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA), Vol. 6 No. 1, Januari 2026, hlm. 50–59.

Artikel ini menunjukkan bahwa energi bersih tidak selalu harus datang dari teknologi mahal—kadang, jawabannya justru ada pada limbah yang selama ini kita abaikan.

Posting Komentar

0 Komentar