Penelitian terbaru dari Universitas Pertahanan Republik Indonesia mengungkapkan bahwa penggunaan media sosial menjadi faktor paling berpengaruh dalam membentuk kesadaran keamanan data lokasi (GEOINT) pada generasi Z di Indonesia. Studi yang dilakukan oleh Safnita Andriani Rambe, Asep Adang Supriyadi, dan Yosef Prihanto pada Juni 2026 ini menyoroti bagaimana kebiasaan berbagi lokasi secara digital sering kali mengabaikan risiko keamanan pribadi
Latar Belakang dan Masalah
Di era digital, fitur berbagi lokasi telah menjadi bagian dari aktivitas harian, mulai dari check-in di media sosial hingga mengunggah foto dengan geotag. Namun, kemudahan ini sering kali mengaburkan kesadaran pengguna akan kerentanan data pribadi. Fenomena ini diperparah oleh adanya "paradoks privasi," di mana individu sadar akan risiko keamanan data namun tetap berperilaku seolah risiko tersebut tidak ada demi kebutuhan untuk tetap terhubung secara sosial
Metodologi Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan menyurvei 100 responden dari generasi Z kelahiran 1997-2012 yang aktif di media sosial. Para peneliti menganalisis hubungan antara tiga variabel utama: intensitas penggunaan media sosial, literasi GEOINT, serta faktor sosiodemografis dan pengaruh sosial. Data dianalisis menggunakan metode regresi linear berganda dengan bantuan perangkat lunak statistik
Temuan Utama
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 78% responden pernah membagikan lokasi mereka di media sosial, meskipun 64% di antaranya pernah mendapatkan edukasi mengenai keamanan digital. Temuan kunci lainnya meliputi
- Media Sosial sebagai Penggerak Utama: Intensitas dan pola penggunaan media sosial merupakan prediktor terkuat terhadap kesadaran GEOINT dengan koefisien Beta 0,334
. - Peran Literasi GEOINT: Literasi memiliki pengaruh signifikan (koefisien Beta 0,327), namun posisinya sedikit di bawah media sosial karena sering dianggap sebagai konsep yang abstrak dan kurang relevan dengan interaksi harian
. - Faktor Sosiodemografis: Latar belakang sosial dan demografis berkontribusi secara signifikan sebagai faktor kontekstual dengan koefisien Beta 0,296
. - Model Prediksi: Secara keseluruhan, ketiga faktor tersebut mampu menjelaskan 84,5% variasi kesadaran keamanan data geospasial pada generasi Z
.
Implikasi dan Rekomendasi
Penelitian ini menegaskan bahwa pendekatan edukasi keamanan digital yang hanya mengandalkan transfer pengetahuan kognitif tidak cukup untuk mengubah perilaku generasi Z. Karena media sosial telah menjadi "dunia kehidupan" bagi mereka, strategi edukasi harus diintegrasikan ke dalam ekosistem digital tersebut. Para peneliti menyarankan pendekatan yang lebih kontekstual, seperti menggunakan konten video pendek, kolaborasi dengan influencer, atau format interaktif agar pesan keamanan lebih mudah diterima dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari
Profil Penulis
Penelitian ini disusun oleh tim dari Departemen Penginderaan Jauh, Fakultas Teknik Pertahanan, Universitas Pertahanan Republik Indonesia:
- Safnita Andriani Rambe
- Asep Adang Supriyadi
- Yosef Prihanto
Sumber Penelitian
Rambe, S. A., Supriyadi, A. A., & Prihanto, Y. (2026). The Influence of Social Media, Geoint Literacy, and Socio-Demographic Factors on Geoint Awareness among Generation Z. International Journal of Educational Technology Research (IJETR), 4(6), 93-110. DOI:
0 Komentar