Temuan ini menjadi penting karena industri perbankan Indonesia terus menghadapi tantangan menjaga stabilitas keuangan di tengah ketidakpastian ekonomi global, transformasi digital, serta meningkatnya tuntutan terhadap pengelolaan risiko. Bank-bank BUMN memiliki peran strategis sebagai penyalur kredit bagi sektor produktif, sehingga kemampuan mereka menghasilkan laba secara berkelanjutan turut memengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional.
Profitabilitas Bank Menjadi Ukuran Kesehatan Industri Keuangan
Dalam dunia perbankan, laba tidak hanya menjadi indikator keberhasilan bisnis, tetapi juga mencerminkan kemampuan bank menjaga ketahanan keuangan. Salah satu ukuran yang paling banyak digunakan adalah Return on Assets (ROA), yaitu rasio yang menunjukkan seberapa efektif bank menghasilkan keuntungan dari seluruh aset yang dimiliki.
Selama periode 2016–2025, profitabilitas bank-bank BUMN mengalami fluktuasi. Sebelum pandemi COVID-19, rata-rata ROA menunjukkan tren yang relatif stabil. Namun ketika pandemi melanda pada 2020, profitabilitas mengalami penurunan akibat meningkatnya tekanan ekonomi dan risiko kredit. Setelah kondisi ekonomi membaik, kinerja bank kembali meningkat seiring pemulihan aktivitas bisnis.
Di tengah dinamika tersebut, pengelolaan risiko kredit menjadi salah satu aspek yang paling menentukan keberlangsungan industri perbankan.
Penelitian Menganalisis Empat Faktor Risiko Kredit
Andreas dan Sarwo Edy Handoyo menganalisis hubungan antara pengelolaan risiko kredit dengan profitabilitas empat bank BUMN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia selama periode 2016–2025. Penelitian menggunakan data laporan keuangan tahunan yang telah diaudit sehingga mencerminkan kondisi keuangan aktual masing-masing bank.
Empat indikator utama yang dianalisis meliputi:
- Non-Performing Loan (NPL) atau rasio kredit bermasalah.
- Loan Loss Provision (LLP) atau pencadangan kerugian kredit.
- Capital Adequacy Ratio (CAR) atau rasio kecukupan modal.
- Cost-to-Income Ratio (CIR) atau rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional.
Keempat indikator tersebut kemudian dibandingkan dengan tingkat profitabilitas yang diukur menggunakan Return on Assets (ROA). Analisis dilakukan menggunakan regresi data panel terhadap 40 observasi yang berasal dari empat bank BUMN selama sepuluh tahun.
Modal Kuat Meningkatkan Profitabilitas
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Capital Adequacy Ratio (CAR) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap profitabilitas bank.
Artinya, semakin kuat modal yang dimiliki bank, semakin besar kemampuannya menghadapi risiko sekaligus memperluas penyaluran kredit yang menghasilkan pendapatan. Modal yang memadai juga meningkatkan kepercayaan investor, nasabah, maupun regulator terhadap stabilitas bank.
Sebaliknya, Cost-to-Income Ratio (CIR) memiliki pengaruh negatif yang signifikan terhadap ROA. Semakin tinggi biaya operasional dibandingkan pendapatan, semakin rendah laba yang diperoleh bank. Temuan ini menegaskan bahwa efisiensi operasional merupakan salah satu kunci utama dalam meningkatkan kinerja keuangan bank.
Kredit Bermasalah Tidak Selalu Menurunkan Laba
Salah satu hasil yang cukup menarik adalah tidak ditemukannya pengaruh signifikan antara Non-Performing Loan (NPL) terhadap profitabilitas.
Secara teori, meningkatnya kredit bermasalah akan menurunkan laba karena bank harus menanggung risiko gagal bayar. Namun dalam penelitian ini, pengaruh tersebut tidak terbukti signifikan secara statistik.
Hal serupa juga ditemukan pada Loan Loss Provision (LLP). Meskipun pencadangan kerugian kredit cenderung mengurangi laba dalam jangka pendek, besarnya pencadangan selama periode penelitian ternyata tidak memberikan dampak signifikan terhadap Return on Assets.
Peneliti menjelaskan bahwa kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh kuatnya struktur permodalan bank BUMN serta strategi restrukturisasi kredit yang diterapkan selama periode pengamatan, termasuk pada masa pandemi COVID-19.
Efisiensi Menjadi Kunci Daya Saing Perbankan
Penelitian ini memperlihatkan bahwa keberhasilan bank tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengelola risiko kredit, tetapi juga oleh efisiensi operasional.
Bank yang mampu mengendalikan biaya operasional memiliki peluang lebih besar meningkatkan laba dibandingkan bank yang hanya berfokus pada pengelolaan kredit bermasalah.
Selain itu, modal yang kuat memberikan ruang bagi bank untuk memperluas pembiayaan, mengembangkan layanan digital, dan menghadapi berbagai gejolak ekonomi tanpa mengurangi stabilitas keuangan.
Andreas dan Sarwo Edy Handoyo dari Tarumanagara University menegaskan bahwa penguatan modal serta peningkatan efisiensi operasional merupakan strategi yang paling efektif untuk meningkatkan profitabilitas bank BUMN. Sementara itu, pengelolaan risiko kredit tetap harus dipertahankan sebagai langkah menjaga ketahanan keuangan dalam jangka panjang.
Implikasi bagi Industri Perbankan dan Regulator
Temuan penelitian memberikan sejumlah rekomendasi bagi industri perbankan maupun pembuat kebijakan.
Bagi manajemen bank, prioritas utama adalah memperkuat kecukupan modal, meningkatkan efisiensi biaya melalui transformasi digital, serta menyederhanakan proses operasional agar rasio biaya terhadap pendapatan dapat ditekan.
Bagi regulator, hasil penelitian mendukung pentingnya kebijakan yang mendorong permodalan yang sehat, pengawasan berbasis risiko, serta percepatan digitalisasi sektor perbankan guna meningkatkan daya saing industri nasional.
Sementara bagi investor, penelitian ini menunjukkan bahwa indikator seperti Capital Adequacy Ratio (CAR) dan Cost-to-Income Ratio (CIR) dapat menjadi pertimbangan penting dalam menilai prospek profitabilitas jangka panjang bank-bank BUMN.
Profil Penulis
Andreas merupakan peneliti dari Tarumanagara University dengan minat penelitian pada manajemen risiko perbankan, analisis laporan keuangan, dan profitabilitas sektor perbankan.
Sarwo Edy Handoyo, adalah peneliti di Tarumanagara University. Bidang keahliannya meliputi manajemen keuangan, perbankan, tata kelola perusahaan, serta analisis kinerja keuangan.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: The Effect of Credit Risk Management on Bank Profitability: Evidence from Listed Government-Owned Banks
Penulis: Andreas; Sarwo Edy Handoyo
Jurnal: International Journal of Economic, Finance and Business Statistics (IJEFBS), Vol. 4 No. 3, 2026
DOI: https://doi.org/10.59890/ijefbs.v4i3.9
URL: http://journalijefbs.my.id/index.php/ijefbs
0 Komentar