Penelitian dilakukan pada proyek pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) MIN 5 Tulungagung, sebuah proyek fasilitas pendidikan yang memiliki karakteristik cukup kompleks karena berada di area permukiman dengan akses jalan terbatas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa risiko keselamatan dan kesehatan kerja (K3) bukan hanya berkaitan dengan potensi kecelakaan kerja, tetapi juga berdampak langsung terhadap kelancaran pekerjaan dan ketepatan waktu penyelesaian proyek.
Isu ini menjadi penting karena sektor konstruksi masih menjadi salah satu penyumbang angka kecelakaan kerja yang tinggi di Indonesia. Dalam kondisi proyek yang melibatkan pekerja, alat berat, distribusi material, perubahan cuaca, serta interaksi dengan lingkungan sekitar, pengelolaan risiko menjadi bagian yang menentukan keberhasilan pembangunan.
Tim peneliti menemukan bahwa pendekatan keselamatan kerja yang hanya berfokus pada penggunaan alat pelindung diri (APD) tidak lagi cukup. Proyek konstruksi membutuhkan pengendalian risiko yang lebih menyeluruh, mulai dari pengawasan lapangan, pengaturan metode kerja, hingga sistem koordinasi antaraktor proyek.
Untuk memetakan sumber risiko, penelitian menggunakan metode Risk Breakdown Structure (RBS), yaitu pendekatan yang mengelompokkan risiko berdasarkan sumber penyebabnya. Peneliti kemudian menggabungkannya dengan Probability Impact Matrix untuk menilai seberapa besar kemungkinan risiko terjadi dan seberapa besar dampaknya terhadap proyek.
Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, wawancara, studi dokumen proyek, serta penyebaran kuesioner kepada 15 responden yang terlibat langsung dalam proyek. Responden terdiri atas site engineer, site manager, petugas K3, pelaksana lapangan, mandor kontraktor, dan konsultan pengawas yang memiliki pengalaman kerja dan pemahaman teknis terkait kondisi proyek.
Dari proses analisis tersebut, peneliti berhasil mengidentifikasi 20 faktor risiko K3 yang berasal dari lima kelompok utama, yaitu faktor lingkungan, faktor manusia, faktor peralatan, metode kerja, dan faktor manajemen atau organisasi.
Hasil paling menonjol menunjukkan bahwa risiko tertinggi bukan berasal dari alat atau kondisi fisik proyek, melainkan dari aspek koordinasi.
Lima risiko utama yang ditemukan meliputi:
Menariknya, tidak ada risiko yang masuk kategori sangat tinggi. Namun seluruh risiko dominan tersebut tetap dinilai cukup serius karena dapat memengaruhi keselamatan kerja sekaligus memperlambat penyelesaian proyek.
Penelitian juga memperluas analisis dengan mengukur dampak risiko terhadap durasi pelaksanaan proyek. Melalui pendekatan expert judgment atau penilaian para ahli yang terlibat langsung di lapangan, diketahui bahwa cuaca ekstrem menjadi faktor yang paling berpotensi menyebabkan keterlambatan.
Perkiraan dampaknya mencapai 1–7 hari keterlambatan pekerjaan. Sementara itu, risiko lain seperti lemahnya koordinasi, paparan debu, rendahnya keterampilan pekerja, instalasi listrik sementara yang tidak aman, dan rendahnya disiplin kerja diperkirakan dapat menyebabkan keterlambatan sekitar 1–3 hari.
Menurut tim peneliti, temuan ini menunjukkan bahwa keberhasilan proyek konstruksi tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknis dan ketersediaan material, tetapi juga oleh kualitas komunikasi dan tata kelola pekerjaan.
Sebagai langkah pengendalian, penelitian merekomendasikan sejumlah tindakan praktis yang dapat diterapkan di lapangan. Di antaranya adalah memperkuat koordinasi internal proyek, menyesuaikan jadwal kerja terhadap kondisi cuaca, mengendalikan debu melalui penyiraman area kerja, meningkatkan keterampilan pekerja melalui briefing teknis, mewajibkan penggunaan APD, memperkuat pengawasan K3, melakukan toolbox meeting secara rutin, serta mengevaluasi pelaksanaan keselamatan kerja secara berkala.
Bagi proyek pembangunan sekolah dan fasilitas publik lain yang berada di lingkungan permukiman, rekomendasi tersebut dinilai relevan karena risiko proyek tidak hanya memengaruhi pekerja, tetapi juga masyarakat sekitar.
Eko Budi Utomo dan tim menegaskan bahwa pengelolaan risiko K3 yang dilakukan secara sistematis dapat membantu menjaga keselamatan kerja sekaligus mendukung penyelesaian proyek sesuai target waktu.
0 Komentar