Air bersih merupakan kebutuhan dasar masyarakat sekaligus faktor penting dalam pembangunan berkelanjutan. Namun, banyak perusahaan penyedia air minum di Indonesia masih menghadapi masalah Non-Revenue Water (NRW) atau air tidak berekening, yaitu air yang telah diproduksi dan dialirkan kepada pelanggan tetapi tidak menghasilkan pendapatan. Kondisi ini terjadi karena kebocoran fisik, kesalahan administrasi, maupun penggunaan air yang tidak tercatat.
Masalah tersebut bukan hanya mengurangi pendapatan perusahaan daerah air minum, tetapi juga meningkatkan biaya operasional dan menghambat perluasan layanan kepada masyarakat. Data nasional menunjukkan tingkat kehilangan air di Indonesia masih berada di atas target pemerintah. Di lokasi penelitian, rata-rata kehilangan air bahkan mencapai 34,16 persen, lebih tinggi dari target nasional sebesar 30 persen. Nilai kehilangan air antarinstalasi juga sangat bervariasi, mulai dari 15,53 persen hingga 59,51 persen, menandakan bahwa setiap wilayah memiliki penyebab yang berbeda-beda.
Untuk mengetahui penyebab utama kehilangan air tersebut, tim peneliti menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Metode ini membantu menyusun berbagai faktor penyebab ke dalam urutan prioritas sehingga perusahaan dapat menentukan langkah penanganan yang paling efektif.
Penelitian dilakukan selama 42 hari kerja, mulai 19 Januari hingga 20 Maret 2026, pada tujuh instalasi pengolahan air milik PERUMDA City X. Selain melakukan observasi lapangan, peneliti juga mewawancarai pejabat teknis perusahaan dan menganalisis berbagai dokumen operasional perusahaan sebagai dasar penilaian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor teknis merupakan penyebab terbesar kehilangan air dengan bobot prioritas 55,8 persen. Posisi berikutnya ditempati faktor administrasi sebesar 26,3 persen, disusul faktor operasional 12,2 persen, sedangkan penggunaan air resmi yang tidak ditagihkan hanya memberikan kontribusi 5,7 persen.
Ketika seluruh penyebab dianalisis secara lebih rinci, tiga faktor muncul sebagai penyumbang terbesar kehilangan air.
- Kebocoran jaringan pipa memberikan kontribusi 35,88 persen.
- Sambungan ilegal menyumbang 19,04 persen.
- Pipa yang sudah tua atau mengalami korosi berkontribusi 15,79 persen.
Ketiga faktor tersebut secara bersama-sama menyumbang sekitar 70,71 persen dari seluruh penyebab kehilangan air. Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar masalah sebenarnya berasal dari beberapa faktor utama yang dapat diprioritaskan penanganannya.
Penelitian juga menemukan bahwa ketiadaan District Meter Area (DMA) memperburuk kondisi tersebut. DMA merupakan sistem pembagian jaringan distribusi air ke dalam beberapa zona sehingga kebocoran dapat dideteksi lebih cepat. Tanpa sistem ini, perusahaan kesulitan mengetahui lokasi kebocoran maupun mendeteksi adanya sambungan ilegal sehingga kehilangan air berlangsung lebih lama sebelum diperbaiki.
Berdasarkan hasil analisis tersebut, tim peneliti menyusun lima strategi prioritas yang dinilai paling efektif untuk menurunkan kehilangan air.
Strategi pertama adalah membentuk tim respons cepat kebocoran, menggunakan alat pendeteksi kebocoran modern, serta menerapkan sistem DMA secara bertahap pada wilayah dengan tingkat kehilangan air tertinggi.
Strategi kedua berfokus pada penertiban sambungan ilegal melalui inspeksi rutin, program legalisasi pelanggan, pemasangan meter induk, penegakan regulasi, dan edukasi kepada masyarakat.
Langkah berikutnya adalah mengganti pipa-pipa tua secara bertahap berdasarkan tingkat risiko kerusakan. Peneliti juga merekomendasikan pembangunan basis data aset jaringan berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) agar penggantian infrastruktur menjadi lebih tepat sasaran.
Selain itu, perusahaan perlu memperluas penerapan DMA yang terintegrasi dengan sistem pemantauan digital sehingga kondisi jaringan dapat dipantau secara real time. Kalibrasi dan penggantian meter air pelanggan yang sudah berusia lebih dari lima tahun juga menjadi bagian penting dari strategi pengurangan kehilangan air.
Melalui simulasi yang dilakukan peneliti, penerapan seluruh strategi tersebut diperkirakan mampu menurunkan tingkat kehilangan air sebesar 12,8 hingga 17,4 poin persentase. Jika kondisi awal kehilangan air berada pada angka 34,16 persen, maka setelah seluruh program dijalankan secara konsisten selama tiga hingga lima tahun, tingkat kehilangan air diproyeksikan turun menjadi sekitar 17 hingga 21 persen. Angka tersebut sudah mendekati bahkan memenuhi standar ideal perusahaan air minum yang efisien.
Menurut tim peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengendalian kehilangan air tidak cukup hanya dengan memperbaiki kerusakan yang terlihat. Perusahaan perlu menentukan prioritas berdasarkan tingkat pengaruh masing-masing penyebab sehingga sumber daya, anggaran, dan tenaga kerja dapat digunakan secara lebih efektif. Pendekatan berbasis prioritas tersebut juga membantu perusahaan mengambil keputusan yang lebih objektif dan terukur dalam meningkatkan pelayanan air bersih kepada masyarakat.
Selain memberikan manfaat bagi perusahaan daerah air minum, hasil penelitian ini juga dapat menjadi referensi bagi pemerintah daerah dalam merancang kebijakan pengelolaan air minum yang lebih efisien. Pengurangan kehilangan air tidak hanya meningkatkan pendapatan perusahaan, tetapi juga memperluas akses masyarakat terhadap air bersih, mengurangi pemborosan sumber daya, serta mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan di sektor air minum.
Profil Penulis
Rudolf Simatupang merupakan akademisi dan peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo yang memiliki minat penelitian pada bidang teknik sipil, sistem distribusi air minum, manajemen infrastruktur, serta pengelolaan Non-Revenue Water (NRW). Penelitian ini disusun bersama Haiqal Alief Djibran, Eko Adityawan Tumenggung Zees, dan Jamal Darussalam Giu, yang juga berasal dari Universitas Negeri Gorontalo.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Determining Dominant Causes of Non-Revenue Water Using AHP and Priority-Based Control Strategies
Penulis: Rudolf Simatupang, Haiqal Alief Djibran, Eko Adityawan Tumenggung Zees, Jamal Darussalam Giu
Afiliasi: Universitas Negeri Gorontalo
Jurnal: Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR)
Volume 5, Nomor 6 (2026), Halaman 1783–1800
0 Komentar