Penelitian terbaru dari Universitas Djuanda mengungkap bahwa keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) dan penerapan prinsip good governance berpengaruh langsung terhadap kepuasan kerja aparatur sipil negara (ASN) di Kabupaten Bogor. Kepuasan kerja inilah yang kemudian menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kinerja pegawai.
Studi ini dilakukan oleh Bernika S. R. A. Zurifa, Muhammad Husein Maruapey, dan Rusliandy dari Universitas Djuanda dan diterbitkan pada 2026 dalam International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS). Penelitian dilaksanakan pada Agustus–Desember 2025 di Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Bogor. Hasilnya penting karena memberikan gambaran empiris tentang faktor-faktor yang benar-benar mendorong kinerja ASN di tingkat pemerintah daerah.
Tantangan Kinerja ASN di Era Kerja Fleksibel
Perubahan pola kerja pascapandemi COVID-19, termasuk sistem kerja hybrid dan work from home, mengaburkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Banyak pegawai mengaku sulit menjaga keseimbangan waktu kerja dan waktu keluarga. Di sisi lain, pemerintah juga terus didorong menerapkan prinsip tata kelola yang baik—transparan, akuntabel, dan responsif.
Dalam praktiknya, belum semua upaya tersebut berdampak langsung pada kinerja pegawai. Di sejumlah instansi, kinerja masih terkendala lambannya pelayanan, minim inovasi, dan kurangnya sensitivitas terhadap kebutuhan publik.
Penelitian ini menguji apakah dua faktor utama—work-life balance dan good governance—benar-benar berdampak pada kinerja pegawai, serta apakah pengaruh tersebut terjadi melalui kepuasan kerja.
Survei terhadap 105 Pegawai BKPSDM
Tim peneliti melibatkan seluruh 105 pegawai BKPSDM Kabupaten Bogor sebagai responden. Metode yang digunakan adalah survei kuesioner berbasis Google Form dengan teknik total sampling, sehingga seluruh populasi menjadi sampel penelitian.
Data dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS), yang memungkinkan pengujian pengaruh langsung maupun tidak langsung antarvariabel.
Secara statistik, model penelitian mampu menjelaskan:
- 33,04% variasi kepuasan kerja pegawai
- 49,73% variasi kinerja pegawai
Artinya, hampir separuh kinerja pegawai dapat dijelaskan oleh variabel-variabel yang diuji dalam penelitian ini.
Temuan Utama Penelitian
Berikut hasil utama penelitian:
1.
Work-life balance berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan kerja.
Pegawai yang mampu
menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi cenderung lebih puas terhadap
pekerjaannya.
2.
Good governance berpengaruh signifikan terhadap
kepuasan kerja.
Sistem kerja yang
transparan, adil, dan akuntabel meningkatkan rasa nyaman dan kepuasan pegawai.
3.
Kepuasan kerja berpengaruh signifikan terhadap
kinerja pegawai.
Pegawai yang puas
bekerja lebih efektif dan produktif.
4.
Work-life balance tidak berpengaruh langsung
terhadap kinerja.
Pengaruhnya terjadi
melalui peningkatan kepuasan kerja.
5.
Good governance tidak berpengaruh langsung terhadap
kinerja.
6.
Persepsi kepercayaan publik berpengaruh langsung
terhadap kinerja pegawai.
Pegawai yang merasa
dipercaya masyarakat menunjukkan kinerja lebih baik.
Penelitian ini menegaskan bahwa meningkatkan kinerja ASN tidak cukup hanya dengan memperbaiki sistem tata kelola. Pemerintah daerah perlu memastikan pegawai memiliki beban kerja yang seimbang dan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan psikologis.
Bernika S. R. A. Zurifa dari Universitas Djuanda menekankan bahwa keseimbangan kerja bukan sekadar isu personal, tetapi strategi manajemen sumber daya manusia. Ketika pegawai merasa didukung untuk mengatur waktu kerja dan kehidupan pribadi, kepuasan meningkat dan berdampak pada produktivitas.
Sementara itu, penerapan good governance tetap penting untuk menciptakan sistem yang adil dan transparan. Namun, sistem yang baik perlu diiringi pendekatan manajerial yang lebih personal agar benar-benar berdampak pada kinerja individu.
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa persepsi kepercayaan publik dapat menjadi pendorong motivasi. Pegawai yang merasa dipercaya masyarakat terdorong bekerja lebih optimal. Dengan kata lain, citra dan legitimasi institusi turut memengaruhi perilaku kerja ASN.
Rekomendasi Praktis
Berdasarkan temuan tersebut, BKPSDM Kabupaten Bogor dan instansi sejenis dapat mempertimbangkan langkah berikut:
- Menetapkan jadwal kerja yang jelas dan membatasi lembur berlebihan
- Menyediakan dukungan kesehatan mental atau sesi wellness singkat
- Memperkuat sistem transparansi kinerja melalui publikasi laporan berkala
- Mengembangkan sistem pengaduan digital untuk meningkatkan responsivitas
- Membangun komunikasi internal yang mendukung kesejahteraan pegawai
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kepuasan kerja, tetapi juga memperkuat hubungan antara institusi dan masyarakat.
Kontribusi Akademik
Secara akademik, studi ini memperkaya literatur manajemen publik dengan menguji faktor internal (work-life balance, good governance) dan faktor eksternal (persepsi kepercayaan publik) secara simultan dalam konteks pemerintah daerah.
Hasilnya menunjukkan bahwa dalam birokrasi lokal, faktor psikologis seperti kepuasan kerja memiliki peran strategis dalam menjembatani kebijakan organisasi dan kinerja individu.
Profil Penulis
Bernika S. R. A. Zurifa
Akademisi dan peneliti di Universitas Djuanda
Muhammad Husein Maruapey
Dosen Universitas Djuanda yang meneliti bidang manajemen organisasi dan kebijakan publik.
Rusliandy
Peneliti Universitas Djuanda
Sumber Penelitian
Zurifa, B. S. R. A., Maruapey, M. H., & Rusliandy. (2026). The Effect of Work Life Balance and Good Government on Employee Performance Mediated by Employee Job Satisfaction at The Personnel and Human Resource Development Agency of Bogor Regency. International Journal of Applied Research and Sustainable Sciences (IJARSS), Vol. 4 No. 2, 1147–1162.

0 Komentar