Penelitian ini menyoroti bagaimana Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kalimantan Tengah masih jauh dari ideal, sekaligus mengkaji pentingnya penggunaan anggaran berbasis riset dalam mendukung pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2021–2026. Hasilnya menunjukkan bahwa tanpa pembenahan menyeluruh pada sisi pendapatan dan tata kelola anggaran, target pembangunan inklusif akan sulit tercapai.
PAD Rendah, Ketergantungan Tinggi
Berdasarkan analisis dokumen APBD 2019–2023, kontribusi PAD Kalimantan Tengah rata-rata hanya 18,7 persen dari total pendapatan daerah. Sisanya, sekitar 78 persen, masih bergantung pada dana transfer pusat seperti Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK), dan Dana Bagi Hasil (DBH).
“Angka ini menunjukkan tingkat kemandirian fiskal yang rendah. Padahal, daerah ini memiliki sumber daya alam besar di sektor kehutanan, perkebunan, dan pertambangan,” tulis Sastori Aryantoni dan tim dalam artikelnya.
Ironisnya, sektor-sektor tersebut belum memberi kontribusi signifikan terhadap PAD. Pajak kendaraan bermotor masih menjadi tulang punggung utama, menyumbang lebih dari 50 persen PAD, sementara potensi ekonomi hijau, jasa lingkungan, dan aset daerah belum tergarap optimal.
Masalah Ganda: Fiskal Lemah dan Anggaran Tak Berbasis Data
Penelitian ini menemukan dua masalah utama yang saling berkaitan.
Pertama, kesenjangan fiskal, yaitu jarak antara potensi ekonomi daerah dengan kemampuan riil pemerintah daerah dalam mengumpulkan pendapatan.
Kedua, kesenjangan pengetahuan dalam penganggaran, yakni lemahnya penggunaan data dan riset dalam menentukan prioritas belanja daerah. Banyak program masih disusun berdasarkan pendekatan rutin dan politis, bukan berdasarkan analisis kebutuhan atau evaluasi dampak.
“Perencanaan anggaran sering kali belum didukung kajian akademik, data kemiskinan terbaru, atau evaluasi program sebelumnya. Akibatnya, belanja daerah kurang tepat sasaran,” jelas para penulis.
Kondisi ini membuat program pengentasan kemiskinan, pengurangan stunting, dan pemberdayaan ekonomi lokal berjalan kurang efektif meskipun anggaran terus meningkat.
Metode Penelitian: Analisis Dokumen dan Kebijakan
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus, dengan sumber data utama berupa:
- Dokumen APBD dan laporan keuangan daerah
- RPJMD Kalimantan Tengah 2021–2026
- Data Badan Pusat Statistik (BPS)
- Laporan evaluasi kinerja pemerintah daerah
- Literatur akademik dan kebijakan publik
Analisis dilakukan dengan metode reduksi data, pemetaan kebijakan, serta penarikan kesimpulan berbasis pola hubungan antara fiskal daerah, kualitas belanja, dan capaian pembangunan.
Temuan Utama: Empat Strategi Kunci
Penelitian ini merumuskan empat strategi utama untuk memperkuat kemandirian fiskal sekaligus meningkatkan kualitas belanja daerah.
Dampak bagi Pembangunan Daerah
Jika strategi tersebut diterapkan secara konsisten, Kalimantan Tengah dinilai mampu:
- Mengurangi ketergantungan pada dana pusat
- Meningkatkan kualitas belanja publik
- Mempercepat pengentasan kemiskinan
- Mendorong pemerataan pembangunan desa–kota
- Mewujudkan pembangunan berkelanjutan berbasis potensi lokal
Menurut penulis, kunci keberhasilan bukan hanya pada besarnya anggaran, tetapi pada bagaimana anggaran itu direncanakan dan digunakan secara cerdas.
.png)
0 Komentar