Edukasi Penyimpanan Obat Tingkatkan Keamanan Penggunaan Obat Warga Desa Rejosari Kudus

Gambar Ilustrasi AI


FORMOSA NEWS - Kudus - Edukasi Penyimpanan Obat Tingkatkan Keamanan Penggunaan Obat Warga Desa Rejosari Kudus. Pengabdian masyarakat yang dilakukan Dwi Susiloningrum, Dian Arsanti Palupi, Yulia Pratiwi, Lilis Sugiarti, dan Eko Prasetyo dari Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus dalam artikel ilmiah yang terbit di Asian Journal of Community Services (AJCS) edisi Vol. 5 No. 1 Tahun 2026. Pengabdian ini menyoroti tentang Kesalahan menyimpan obat di rumah masih menjadi persoalan yang kerap diabaikan, padahal dampaknya dapat langsung memengaruhi keamanan dan efektivitas pengobatan.

Pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh Dwi SusiloningrumDian Arsanti PalupiYulia PratiwiLilis Sugiarti, dan Eko Prasetyo dari Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus menyoroti tentang Obat yang terpapar panas, lembap, atau disimpan sembarangan berisiko rusak tanpa disadari, bahkan dapat menimbulkan efek samping berbahaya.

Masalah Umum di Rumah Tangga


Obat memiliki sifat fisik dan kimia yang sensitif terhadap lingkungan. Paparan suhu tinggi, kelembapan berlebih, cahaya langsung, atau penyimpanan yang tidak aman dapat menurunkan kualitas obat, mengurangi khasiatnya, bahkan memicu risiko toksisitas. Sayangnya, perubahan ini sering tidak terlihat secara kasat mata.

 

Di tingkat rumah tangga, kesalahan penyimpanan obat masih sering ditemukan. Obat disimpan di dapur yang panas, di kamar mandi yang lembap, tanpa kemasan asli, atau diletakkan di tempat yang mudah dijangkau anak-anak. Kondisi ini semakin berisiko seiring meningkatnya kebiasaan masyarakat menyimpan obat bebas dan sisa obat resep di rumah.

 

Tim dari Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus mencatat bahwa di Desa Rejosari, masih banyak warga yang belum memahami petunjuk penyimpanan yang tercantum pada kemasan obat. Situasi ini menunjukkan perlunya intervensi edukatif yang terstruktur dan berkelanjutan.

 

Edukasi Langsung ke Masyarakat


Program pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan edukatif dan partisipatif. Kegiatan dilaksanakan pada 21 Oktober 2025 di rumah Kepala Desa Rejosari, dengan melibatkan sekitar 50 warga. Sebelum penyuluhan dimulai, peserta mendapatkan pemeriksaan tekanan darah sebagai bagian dari layanan kesehatan dasar.

 

Materi edukasi disampaikan melalui presentasi visual, pemutaran video, demonstrasi langsung, dan simulasi penyimpanan obat yang benar. Tim pengabdian juga memberikan pendampingan langsung kepada warga untuk mempraktikkan cara menyimpan obat sesuai jenis dan bentuk sediaannya.


Enam Prinsip Penting Penyimpanan Obat


Dari hasil kegiatan, tim merangkum sejumlah prinsip utama yang ditekankan kepada warga Desa Rejosari, antara lain:

  • Membaca dan mengikuti petunjuk penyimpanan pada kemasan obat.
  • Menyimpan obat di tempat yang tidak mudah dijangkau anak-anak.
  • Menghindarkan obat dari paparan sinar matahari langsung, panas, dan kelembapan.
  • Menyimpan obat dalam kemasan aslinya dengan label yang masih jelas.
  • Memeriksa tanggal kedaluwarsa dan kondisi fisik obat secara berkala.
  • Menyediakan tempat khusus, idealnya lemari obat yang dapat dikunci.

Edukasi ini juga menekankan bahwa setiap bentuk obat tablet, kapsul, sirup, salep, hingga obat tertentu yang memerlukan pendinginan, memiliki cara penyimpanan yang berbeda.


Implikasi bagi Kesehatan Masyarakat


Temuan ini memiliki implikasi luas bagi upaya peningkatan keselamatan penggunaan obat di tingkat rumah tangga. Edukasi penyimpanan obat yang benar dapat menjadi strategi preventif untuk menekan risiko efek samping, kegagalan terapi, dan penyalahgunaan obat.

 

Penulis merekomendasikan agar program serupa dilakukan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak wilayah, dengan melibatkan perangkat desa dan kader kesehatan. Pendampingan lanjutan melalui kunjungan rumah juga dinilai penting untuk memastikan praktik penyimpanan obat benar-benar diterapkan.


Dengan pendekatan sederhana, berbasis edukasi, dan melibatkan masyarakat secara aktif, program ini menunjukkan bahwa peningkatan literasi obat ditingkat desa dapat menjadi fondasi penting bagi penggunaan obat yaang lebih aman dan efektif di Indonesia.


Profil Singkat Penulis


Dwi Susiloningrum, S.Farm., M.Farm. Dosen Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus.

Bidang Keahlian: farmasi komunitas.


Dian Arsanti Palupi, S.Farm., M.Farm. Dosen Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus.
Bidang Keahlian: manajemen kefarmasian.


Yulia Pratiwi, S.Farm.  Akademisi Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus, 

Bidang keahlian: fokus edukasi kesehatan masyarakat.


Lilis Sugiarti, S.Farm., M.Farm. Dosen Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus, bidang Keahlian: pelayanan kefarmasian.


Eko Prasetyo, S.Farm.
 Praktisi farmasi, terlibat dalam edukasi obat berbasis komunitas.


Sumber Penelitian


Dwi Susiloningrum, Dian Arsanti Palupi, Yulia Pratiwi, Lilis Sugiarti, Eko Prasetyo. Let’s Store Medicine Correctly in the Village Community, Rejosari KudusAsian Journal of Community Services, Vol. 5 No. 1, hlm. 57-66. 2026

DOI: https://doi.org/10.55927/ajcs.v5i1.571

URL: https://srhformosapublisher.org/index.php/ajcs

Posting Komentar

0 Komentar