Masalah Umum di Rumah Tangga
Obat memiliki sifat fisik dan kimia yang
sensitif terhadap lingkungan. Paparan suhu tinggi, kelembapan berlebih, cahaya
langsung, atau penyimpanan yang tidak aman dapat menurunkan kualitas obat,
mengurangi khasiatnya, bahkan memicu risiko toksisitas. Sayangnya, perubahan
ini sering tidak terlihat secara kasat mata.
Di tingkat rumah tangga, kesalahan penyimpanan
obat masih sering ditemukan. Obat disimpan di dapur yang panas, di kamar mandi
yang lembap, tanpa kemasan asli, atau diletakkan di tempat yang mudah dijangkau
anak-anak. Kondisi ini semakin berisiko seiring meningkatnya kebiasaan
masyarakat menyimpan obat bebas dan sisa obat resep di rumah.
Tim dari Institut Teknologi Kesehatan Cendekia
Utama Kudus mencatat bahwa di Desa Rejosari, masih banyak warga yang belum
memahami petunjuk penyimpanan yang tercantum pada kemasan obat. Situasi ini
menunjukkan perlunya intervensi edukatif yang terstruktur dan berkelanjutan.
Edukasi Langsung ke Masyarakat
Program pengabdian masyarakat ini menggunakan
pendekatan edukatif dan partisipatif. Kegiatan dilaksanakan pada 21 Oktober
2025 di rumah Kepala Desa Rejosari, dengan melibatkan sekitar 50 warga. Sebelum
penyuluhan dimulai, peserta mendapatkan pemeriksaan tekanan darah sebagai
bagian dari layanan kesehatan dasar.
Materi edukasi disampaikan melalui presentasi
visual, pemutaran video, demonstrasi langsung, dan simulasi penyimpanan obat
yang benar. Tim pengabdian juga memberikan pendampingan langsung kepada warga
untuk mempraktikkan cara menyimpan obat sesuai jenis dan bentuk sediaannya.
Enam Prinsip Penting Penyimpanan Obat
Dari hasil kegiatan, tim merangkum sejumlah prinsip utama yang ditekankan kepada warga Desa Rejosari, antara lain:
- Membaca dan mengikuti petunjuk penyimpanan pada kemasan obat.
- Menyimpan obat di tempat yang tidak mudah dijangkau anak-anak.
- Menghindarkan obat dari paparan sinar matahari langsung, panas, dan kelembapan.
- Menyimpan obat dalam kemasan aslinya dengan label yang masih jelas.
- Memeriksa tanggal kedaluwarsa dan kondisi fisik obat secara berkala.
- Menyediakan tempat khusus, idealnya lemari obat yang dapat dikunci.
Edukasi ini juga menekankan bahwa setiap bentuk
obat tablet, kapsul, sirup, salep, hingga obat tertentu yang memerlukan
pendinginan, memiliki cara penyimpanan yang berbeda.
Implikasi bagi Kesehatan Masyarakat
Temuan ini memiliki implikasi luas bagi upaya
peningkatan keselamatan penggunaan obat di tingkat rumah tangga. Edukasi
penyimpanan obat yang benar dapat menjadi strategi preventif untuk menekan
risiko efek samping, kegagalan terapi, dan penyalahgunaan obat.
Penulis merekomendasikan agar program serupa
dilakukan secara berkelanjutan dan menjangkau lebih banyak wilayah, dengan
melibatkan perangkat desa dan kader kesehatan. Pendampingan lanjutan melalui
kunjungan rumah juga dinilai penting untuk memastikan praktik penyimpanan obat
benar-benar diterapkan.
Profil Singkat Penulis
Dwi Susiloningrum, S.Farm., M.Farm. Dosen Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus.
Bidang Keahlian: farmasi komunitas.
Dian
Arsanti Palupi, S.Farm., M.Farm. Dosen Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus.
Bidang Keahlian: manajemen
kefarmasian.
Yulia Pratiwi, S.Farm. Akademisi Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus,
Bidang keahlian: fokus edukasi kesehatan masyarakat.
Lilis Sugiarti, S.Farm., M.Farm. Dosen Institut Teknologi Kesehatan Cendekia Utama Kudus, bidang Keahlian: pelayanan kefarmasian.
Eko
Prasetyo, S.Farm. Praktisi
farmasi, terlibat dalam edukasi obat berbasis komunitas.
Sumber Penelitian
Dwi Susiloningrum, Dian Arsanti Palupi, Yulia Pratiwi, Lilis Sugiarti, Eko Prasetyo. Let’s Store Medicine Correctly in the Village Community, Rejosari Kudus. Asian Journal of Community Services, Vol. 5 No. 1, hlm. 57-66. 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/ajcs.v5i1.571

0 Komentar