Kajian ini penting karena pesantren selama ini dikenal sebagai lembaga pendidikan yang membentuk karakter, moral, dan spiritual santri. Namun, maraknya pemberitaan negatif—terutama di media daring dan media sosial—berpotensi membentuk stigma yang tidak proporsional dan menggerus kepercayaan publik, meskipun kasus yang diberitakan bersifat terbatas dan tidak mewakili keseluruhan pesantren.
Pesantren dan Tantangan Reputasi Publik
Pesantren merupakan bagian resmi dari sistem pendidikan nasional Indonesia. Undang-Undang Pesantren Tahun 2019 menegaskan peran strategis lembaga ini dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat. Dalam praktiknya, pesantren mengintegrasikan pendidikan spiritual, moral, emosional, dan intelektual secara menyeluruh.
Namun, Teddy Dyatmika mencatat bahwa lanskap komunikasi publik telah berubah. Di era digital, satu peristiwa negatif dapat menyebar luas melalui media sosial dan membentuk opini publik dalam waktu singkat. Isu seperti kekerasan fisik, perundungan, atau kekerasan seksual—meskipun tidak mencerminkan kondisi umum pesantren—sering kali menjadi sorotan utama pemberitaan.
Situasi ini menempatkan pesantren pada posisi defensif. Tidak cukup hanya menjaga kualitas pendidikan internal, pesantren juga dituntut aktif mengelola komunikasi publik agar reputasi institusi tetap terjaga.
Mengkaji Strategi Komunikasi Pesantren
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis kajian literatur dan analisis konseptual. Penulis menelaah berbagai sumber ilmiah yang membahas manajemen reputasi, komunikasi institusi, serta posisi pesantren dalam sistem pendidikan nasional.
Melalui pendekatan ini, Teddy Dyatmika memetakan bagaimana komunikasi strategis dapat membantu lembaga pendidikan, termasuk pesantren, membangun citra positif dan mempertahankan kepercayaan publik di tengah tekanan media.
Bahasa akademik yang kompleks disederhanakan menjadi kerangka komunikasi yang mudah dipahami dan relevan dengan praktik lapangan.
Identitas dan Posisi Institusi Menjadi Penentu
Salah satu temuan utama penelitian ini adalah pentingnya identitas institusi dalam komunikasi publik. Pesantren yang mampu mendefinisikan nilai, visi, dan perannya secara jelas akan lebih siap menghadapi krisis reputasi.
Beberapa poin kunci yang disoroti antara lain:
· Identitas kelembagaan harus dikomunikasikan secara konsisten, baik melalui media internal maupun eksternal.
· Posisi pesantren di masyarakat perlu ditegaskan sebagai lembaga pendidikan yang adaptif, terbuka, dan bertanggung jawab.
· Manajemen komunikasi tidak boleh bersifat reaktif semata, tetapi dirancang sebagai strategi jangka panjang.
· Media digital harus dimanfaatkan sebagai sarana edukasi publik, bukan hanya promosi institusi.
Menurut kajian ini, komunikasi yang terencana membantu pesantren membingkai narasi positif tentang kontribusinya bagi masyarakat, sekaligus meredam dampak pemberitaan negatif yang tidak berimbang.
Media Digital: Tantangan Sekaligus Peluang
Penelitian ini juga menekankan bahwa media digital tidak selalu menjadi ancaman. Dengan strategi yang tepat, media sosial dan platform daring justru dapat menjadi alat penting untuk membangun reputasi.
Pesantren yang aktif menyampaikan aktivitas pendidikan, prestasi santri, serta nilai-nilai moderasi dan toleransi berpeluang membentuk persepsi publik yang lebih akurat. Transparansi dan keterbukaan informasi dinilai mampu memperkuat kepercayaan masyarakat.
Teddy Dyatmika menegaskan bahwa reputasi tidak dibangun dalam semalam. Ia terbentuk dari komunikasi yang berkelanjutan, selaras antara praktik internal dan pesan yang disampaikan ke publik.
Dampak bagi Pendidikan dan Kebijakan
Temuan ini relevan tidak hanya bagi pesantren, tetapi juga bagi lembaga pendidikan lain yang menghadapi tekanan reputasi di era digital. Bagi pengelola pendidikan, riset ini menekankan pentingnya literasi komunikasi dan manajemen krisis.
Bagi pembuat kebijakan, kajian ini menunjukkan bahwa penguatan pesantren tidak cukup melalui regulasi dan kurikulum, tetapi juga melalui dukungan pada kapasitas komunikasi institusi. Pendekatan ini penting untuk menjaga keberlanjutan kepercayaan publik terhadap pendidikan berbasis nilai dan karakter.
Profil Penulis
Teddy Dyatmika, M.I.Kom. adalah akademisi dan peneliti di bidang komunikasi dan pendidikan Islam. Fokus keahliannya meliputi komunikasi institusi, manajemen reputasi, serta strategi komunikasi organisasi pendidikan. Ia aktif mengkaji relasi antara media, opini publik, dan lembaga pendidikan keagamaan.
Sumber Penelitian
Dyatmika, T. (2026). Communication Strategy and Reputation Management of Islamic Boarding Schools in the Digital Era. Indonesian Journal of Advanced Research, Vol. 5 No. 1, hlm. 85–98.
DOI: https://doi.org/10.55927/ijar.v5i1.16104
URL: https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijar
0 Komentar