Cimahi— Yayasan Terkait TNI AD Kesulitan
Terapkan Standar Akuntansi Baru Tanpa Kepemimpinan dan Budaya Organisasi Kuat.
Penelitian yang dilakukan oleh Jati Dwi Apriyanto dan Heni Nurani Hartikayanti
dari Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani), Cimahi yang dipublikasikan
Januari 2026 di International Journal of Business and Applied Economics
(IJBAE).
Penelitian yang dilakukan oleh Jati Dwi
Apriyanto dan Heni Nurani Hartikayanti menunjukkan bahwa Yayasan Kartika Eka
Paksi—yayasan yang berada dalam lingkungan TNI Angkatan Darat masih menghadapi
hambatan besar karena adaptasi regulasi berjalan lambat, budaya organisasi yang
terlalu hierarkis, dan kepemimpinan yang belum sepenuhnya mendorong perubahan.
Temuan Apriyanto dan Hartikayanti menunjukkan bahwa di lapangan, penerapan standar akuntansi tidak semudah mengganti format laporan. Banyak yayasan masih menjalankan akuntansi sebagai rutinitas administratif, bukan sebagai budaya akuntabilitas.
Temuan Utama 1: Adaptasi
Regulasi Masih Bersifat Prosedural
Temuan
pertama yang menonjol adalah bahwa adaptasi regulasi di Yayasan Kartika Eka
Paksi masih cenderung prosedural.Artinya, pihak yayasan mengetahui adanya
perubahan standar, namun penerapannya belum benar-benar masuk ke sistem kerja
internal, kebijakan, maupun prosedur akuntansi yang konsisten.
Akibatnya,
laporan keuangan lebih sering disusun untuk memenuhi kebutuhan administratif,
terutama saat audit, bukan sebagai upaya membangun tata kelola keuangan yang
berkelanjutan.
Penelitian
juga menemukan masalah yang terdengar sederhana, tetapi dampaknya besar:
informasi regulasi sering terlambat diterima.
Salah satu
informan, Ginansyah Ahmad, menyampaikan bahwa yayasan kerap mendapatkan
informasi perubahan aturan tidak tepat waktu. Kondisi ini membuat yayasan
kesulitan menyiapkan penyesuaian sejak awal.
Dalam
penilaian penelitian, adaptasi regulasi hanya mencapai 50% dan masuk
kategori “kurang baik.”
Temuan
Utama 2: Budaya Hierarkis Membuat Perubahan Bergerak Lambat
Tema kedua
adalah budaya organisasi.
Yayasan
Kartika Eka Paksi menjalankan budaya kerja yang kuat dalam struktur, prosedur,
dan hierarki. Di satu sisi, budaya ini menciptakan keteraturan. Namun di sisi
lain, struktur yang terlalu kaku membuat organisasi kurang fleksibel dalam
menghadapi perubahan.
Komunikasi
internal berjalan formal, dan pegawai cenderung menunggu instruksi resmi
sebelum melakukan penyesuaian, meskipun mereka mengetahui adanya standar baru.
Penelitian
menilai nilai akuntabilitas belum sepenuhnya menjadi budaya bersama. Pelaporan
keuangan masih dianggap tanggung jawab unit tertentu, bukan sebagai komitmen
seluruh organisasi.
Hasil
penilaian budaya organisasi mencapai 67% (kategori “cukup”), namun belum
cukup kuat untuk mempercepat perubahan.
Temuan
Utama 3: Kepemimpinan Menjadi Penghubung Antara Aturan dan Praktik
Pesan
paling kuat dari penelitian ini terletak pada peran kepemimpinan.
Apriyanto
dan Hartikayanti menemukan bahwa kepemimpinan menjadi penghubung utama yang
menerjemahkan aturan menjadi perilaku organisasi.
Kepemimpinan
mempengaruhi penerapan standar melalui:
- arah kebijakan,
- pengawasan dan
monitoring,
- pengembangan sumber
daya manusia,
- serta kemampuan
mendorong motivasi kerja.
Ketika
peran kepemimpinan tidak cukup aktif, penerapan standar cenderung bergantung
pada individu tertentu dan mudah melemah ketika tekanan eksternal (misalnya
audit) tidak ada.
Dalam
penelitian ini, kepemimpinan memperoleh nilai 67%, masuk kategori
“cukup.” Artinya dukungan ada, tetapi belum cukup cepat dan belum sepenuhnya
proaktif dalam mengawal perubahan.
Tiga Faktor
Ini Saling Terhubung dan Tidak Bisa Dipisahkan
Salah satu
kontribusi penting penelitian ini adalah menunjukkan bahwa adaptasi regulasi,
budaya organisasi, dan kepemimpinan tidak berdiri sendiri.
Ketiganya
saling mempengaruhi:
- Tanpa kepemimpinan yang
kuat, adaptasi regulasi hanya menjadi formalitas.
- Tanpa budaya organisasi
yang mendukung akuntabilitas, kepatuhan hanya bersifat sementara.
- Tanpa sistem adaptasi
regulasi yang cepat, pegawai tetap kesulitan menerapkan standar meski
pimpinan mendukung.
Dengan kata
lain, reformasi pelaporan keuangan tidak bisa hanya mengandalkan perubahan
aturan.
Dampak
Lebih Luas: Relevan untuk Banyak Yayasan di Indonesia
Walaupun
studi ini fokus pada yayasan yang berada di lingkungan TNI AD, implikasinya
sangat relevan bagi ribuan yayasan lain di Indonesia.
Banyak
yayasan, lembaga sosial, lembaga pendidikan, hingga organisasi komunitas
menghadapi masalah yang serupa, seperti:
- kurangnya SDM akuntansi
yang kompeten,
- lambatnya revisi
kebijakan internal,
- lemahnya budaya tata
kelola keuangan,
- dan ketergantungan pada
audit eksternal.
Penelitian
ini menyarankan beberapa langkah praktis, seperti:
- membangun mekanisme
informasi regulasi yang lebih cepat (forum, grup profesional, memo
internal),
- memperkuat pembelajaran
organisasi melalui workshop dan diskusi rutin,
- meningkatkan komunikasi
pimpinan dengan unit akuntansi,
- mengadakan pelatihan
dan pendampingan rutin tentang SAK EP dan ISAK 35,
- serta menyusun SOP yang
lebih adaptif agar kebijakan internal cepat diperbarui.
Profil Singkat Penulis
- ·
Jati Dwi
Apriyanto - Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani),
Cimahi
- ·
Heni Nurani
Hartikayanti - Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani),
Cimahi
Sumber Penelitian
Apriyanto,
Jati Dwi., & Hartikayanti, Heni Nurani. (2026).
The Meaning of Regulatory Adaptation, Organizational Culture, and Leadership
in Commitment to Implementing Financial Accounting Standards (Case Study at the
Indonesian Army Military Foundation). International Journal of Business and Applied Economics (IJBAE), Vol. 5
No. 1, Januari 2026, hlm.467–486.
DOI:https://doi.org/10.55927/ijbae.v5i1.596
URL resmi: https://nblformosapublisher.org/index.php/ijbae
.png)
0 Komentar