Membangun Kembali Identitas Seni Tradisional Melalui Budaya Visual Media Sosial di Era Algoritma

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Bagaimana Media Sosial dan Algoritma Membentuk Ulang Identitas Seni Tradisional di Era Digital. Penelitian yang dilakukan oleh Wahyudiyanto dan Trinil Windrowati dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Sustainable Research (FJSR) edisi Vol. 5 No. 9 Tahun 2026 menyoroti bahwa bagaimana budaya visual media sosial mendorong rekonstruksi identitas seni tradisional di era algoritma.

Evolusi Digital dan Makna Kultural

Dalam masyarakat kontemporer, teknologi digital telah berkembang jauh melampaui sekadar sarana komunikasi, bertransformasi menjadi arena utama tempat makna kultural, nilai estetika, dan representasi artistik dinegosiasikan ulang. Platform seperti Instagram, TikTok, dan YouTube memanfaatkan mekanisme algoritmik kompleks yang mengatur tingkat visibilitas konten berdasarkan interaksi pengguna, popularitas, dan pola konsumsi visual. Meskipun digitalisasi memperluas akses publik dan jangkauan global, hal ini secara bersamaan menghadirkan tantangan terkait keaslian budaya, penyederhanaan makna, serta dominasi estetika populer. Komunitas seni tradisional harus menavigasi ekosistem digital ini secara cermat untuk menjaga signifikansi kultural mereka.

Metodologi Penelitian
Untuk memahami bagaimana komunitas seni beradaptasi dengan pergeseran digital tersebut, para peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnografi digital. Studi ini mengumpulkan data melalui observasi konten serta wawancara mendalam semi-terstruktur dengan 12 informan kunci yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Kelompok informan terdiri dari tujuh pelaku seni pertunjukan, empat manajer studio dan komunitas seni, serta satu pengelola konten kultural, yang semuanya memiliki pengalaman luas dalam bidang seni tradisional dan penerbitan digital. Analisis data dilakukan menggunakan pengkodean tematik dan organisasi data yang didukung oleh perangkat lunak NVivo 14 untuk mengevaluasi praktik budaya digital serta transformasi identitas.

Temuan Utama Transformasi Seni Digital
Penelitian ini mengungkapkan beberapa wawasan penting mengenai persimpangan antara seni tradisional dan budaya visual digital:

  • Media Sosial sebagai Ruang Rekonstruksi: Media sosial berfungsi lebih dari sekadar promosi, beroperasi sebagai ruang dinamis tempat identitas seni tradisional bergeser dari akar geografis lokal ke representasi yang dinegosiasikan secara digital. Seniman secara aktif mengkurasi simbol visual, kostum, musik, dan nilai filosofis untuk membentuk pemahaman publik.
  • Strategi Adaptasi Visual: Komunitas seni beradaptasi dengan menerjemahkan pertunjukan fisik menjadi pengalaman visual yang dimediasi layar melalui video pendek, pengambilan gambar sinematik, dan penonjolan detail kostum tanpa mengubah substansi artistik inti.
  • Narasi Digital untuk Kedalaman Kultural: Dengan menyertakan konteks historis, latar belakang filosofis, dan nilai sosial ke dalam konten digital, para seniman mengubah penonton pasif menjadi pengalaman edukatif yang memperdalam pemahaman audiens.
  • Pembangunan Komunitas Partisipatif: Interaksi digital langsung, komentar, dan mekanisme berbagi menumbuhkan komunitas kultural baru serta mendorong generasi muda untuk berpartisipasi dalam pelestarian dan regenerasi artistik.
  • Negosiasi Algoritmik: Meskipun algoritma menuntut pola konsumsi yang cepat dan format yang mudah diakses, para seniman berhasil bernegosiasi antara mendapatkan visibilitas digital dan melestarikan cerita seni tradisional yang berlapis-lapis.
Dampak Nyata dan Implikasi Dunia Nyata
Implikasi dari penelitian ini mencakup bidang pelestarian budaya, pendidikan, dan manajemen komunitas. Dengan memahami bahwa teknologi digital bukan musuh tradisi melainkan ruang baru untuk negosiasi kultural, institusi budaya dan manajer seni dapat merancang strategi digital yang efektif. Temuan ini mendorong para praktisi untuk membangun literasi digital dan kerangka produksi konten berbasis budaya yang mengangkat seni tradisional sekaligus melibatkan generasi muda. Pendekatan ini memberdayakan seniman untuk mempertahankan integritas artistik sambil memanfaatkan ekonomi platform demi keberlanjutan jangka panjang.

Profil  Penulis
Wahyudiyanto dan Trinil Windrowati adalah peneliti serta staf pengajar di Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta dengan keahlian khusus di bidang seni tradisional, kajian budaya, dan transformasi seni digital.

Sumber Penelitian
Wahyudiyanto dan Trinil Windrowati. Reconstructing Traditional Arts Identity through Social Media Visual Culture in the Algorithmic Era. Formosa Journal of Sustainable Research (FJSR). Vol. 5, No. 9, hal. 763-776.
DOI: https://doi.org/10.55927/fjsr.v5i9.64
URL : https://journalfjsr.my.id/index.php/fjsr

Posting Komentar

0 Komentar