Faktor Risiko Kambuhnya Keloid Usai Operasi Terungkap Melalui Tinjauan Sistematis Terbaru

Ilustrasi by AI

Sebuah studi tinjauan sistematis komprehensif berhasil mengidentifikasi berbagai faktor penentu yang memicu kambuhnya kembali bekas luka keloid setelah tindakan operasi pengangkatan (eksisis). Penelitian ilmiah ini dilakukan oleh dr. Badariyatud Dini dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang dan dipublikasikan pada September 2026 dalam Multitech Journal of Science and Technology. Temuan ini menjadi sangat penting karena memberikan panduan klinis baru bagi para dokter kulit dan bedah plastik dalam menekan angka kekambuhan keloid, yang selama ini menjadi tantangan medis berat bagi jutaan pasien di seluruh dunia.

Keloid merupakan kondisi pembentukan jaringan parut patologis berlebih yang tumbuh melebihi batas luka aslinya. Selain mengganggu penampilan secara estetika, keloid sering kali menimbulkan rasa nyeri hebat, gatal kronis, hingga pembatasan fungsi gerak tubuh. Meskipun tindakan bedah pengangkatan sering dilakukan untuk memotong jaringan keloid yang tebal, operasi tunggal tanpa penanganan lanjutan memiliki tingkat kekambuhan yang sangat tinggi. Selama ini, sebagian besar riset hanya berfokus pada efektivitas metode pengobatan pascaoperasi. Riset teranyar dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang ini mengisi celah medis tersebut dengan menganalisis kombinasi bawaan tubuh pasien, karakteristik benjolan, serta faktor teknik pembedahan.

Dalam menjalankan penelitian ini, Dr. Badariyatud Dini menerapkan metodologi tinjauan sistematis berdasarkan standar PRISMA 2020 dan pedoman studi faktor prognostik. Peneliti menyaring ribuan data literatur primer manusia yang diterbitkan sejak Januari 2020 hingga September 2026 dari basis data ilmiah terkemuka seperti Scopus, PubMed/MEDLINE, Embase, Web of Science, dan CENTRAL. Dari penelusuran ketat tersebut, sebanyak 24 studi primer independen dianalisis dan dinilai risiko biasnya menggunakan perangkat Quality In Prognosis Studies (QUIPS). Faktor-faktor risiko yang ditemukan kemudian dikelompokkan secara terstruktur ke dalam tiga domain utama: karakteristik pasien, profil benjolan keloid, dan kondisi pembedahan.

Hasil sintesis data ilmiah menunjukkan bahwa risiko kekambuhan keloid pascaoperasi dipicu oleh interaksi beberapa faktor utama:

  • Riwayat Keluarga dan Genetik: Pasien yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat keloid terbukti memiliki kecenderungan biologis yang lebih tinggi untuk mengalami kekambuhan.
  • Ukuran dan Tingkat Keaktifan Luka: Benjolan keloid dengan ukuran diameter 2 cm atau lebih, serta memiliki tingkat aktivitas biologis dan peradangan yang tinggi (Keloid Activity Assessment Scale), jauh lebih mudah tumbuh kembali setelah dioperasi.
  • Lokasi Anatomi dan Regangan Mekanis: Area tubuh dengan tingkat tegangan kulit yang tinggi—seperti dada depan, bahu, dan area suprapubik—menunjukkan risiko kekambuhan yang lebih signifikan dibandingkan area tubuh lainnya.
  • Komplikasi Luka dan Infeksi Pascaoperasi: Infeksi pada bekas jahitan, luka terbuka (dehiscence), dan proses penyembuhan yang tertunda menjadi penentu utama yang memicu kembali pertumbuhan jaringan parut abnormal.
  • Faktor Usia dan Jenis Kelamin: Usia yang lebih muda serta jenis kelamin laki-laki dalam beberapa populasi menunjukkan korelasi terhadap peningkatan risiko kekambuhan.

Implikasi dan dampak dari riset ini sangat besar bagi dunia kedokteran dan masyarakat umum. Peneliti menegaskan bahwa pencegahan keloid tidak bisa hanya mengandalkan teknik pemotongan jaringan semata atau sekadar terapi radiasi. Dokter harus melakukan evaluasi risiko secara menyeluruh sejak sebelum operasi (prakondisi), memperhitungkan faktor keturunan, memilih teknik operasi yang meminimalisasi regangan kulit, serta mengawal ketat proses penyembuhan agar tidak terjadi infeksi. Bagi dunia usaha medis dan pembuat kebijakan kesehatan, temuan ini mendorong pentingnya penyusunan panduan klinis berbasis manajemen risiko terpadu guna meningkatkan keberhasilan terapi dan kualitas hidup pasien keloid.

"Pencegahan kekambuhan keloid harus dimulai sebelum tindakan pembedahan dilakukan dan dilanjutkan sepanjang perawatan pascaoperasi. Komplikasi luka seperti infeksi dan peradangan harus diperlakukan sebagai pemicu utama kekambuhan, bukan sekadar komplikasi rutin," ungkap dr. Badariyatud Dini dalam pembahasan hasil penelitiannya.

Profil Penulis

dr. Badariyatud Dini adalah seorang dokter, akademisi, dan peneliti di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Indonesia. Beliau memiliki keahlian dan fokus riset di bidang ilmu kedokteran, penyembuhan luka (wound healing), bedah, serta analisis faktor risiko dan prognosis penyakit jaringan kulit.

Sumber Penelitian

 


Posting Komentar

0 Komentar