Kepemimpinan Strategis Dorong Agilitas Digital dan Transformasi Bisnis Berkelanjutan UMKM

Created by AI

FORMOSA NEWS - PURWOKERTO Kemampuan UMKM beradaptasi dengan perubahan teknologi tidak cukup hanya dengan menggunakan media sosial, pembayaran digital, atau marketplace. Penelitian Berli Lana dari Universitas Amikom Purwokerto, Indonesia, yang dipublikasikan pada 2026, menunjukkan bahwa kepemimpinan strategis dan agilitas digital menjadi faktor penting yang mendorong transformasi model bisnis berkelanjutan pada UMKM di Jawa Tengah. Temuan ini penting karena transformasi digital UMKM tidak hanya berkaitan dengan penggunaan teknologi, tetapi juga kemampuan pemimpin mengarahkan organisasi agar cepat beradaptasi dan mengubah cara menciptakan nilai.

Perubahan perilaku konsumen, perkembangan teknologi, dan persaingan pasar membuat UMKM menghadapi tekanan untuk melakukan transformasi. Kehadiran marketplace, pemasaran melalui media sosial, pembayaran elektronik, hingga aplikasi operasional telah membuka peluang baru bagi pelaku usaha. Namun, penggunaan berbagai teknologi tersebut belum otomatis menghasilkan keunggulan bisnis jangka panjang.

Menurut penelitian Berli Lana, persoalannya terletak pada kemampuan organisasi dalam memanfaatkan teknologi secara strategis. Digitalisasi tidak semestinya dipandang hanya sebagai pembelian atau penggunaan perangkat teknologi, melainkan sebagai proses perubahan organisasi yang melibatkan strategi, kepemimpinan, sumber daya, dan kemampuan beradaptasi.

Kepemimpinan Menjadi Penggerak Agilitas Digital

Penelitian ini mengkaji hubungan antara strategic leadership, digital agility, dan sustainable business model transformation pada UMKM di Jawa Tengah.

Sebanyak 250 pemilik dan manajer UMKM menjadi responden penelitian. Mereka dipilih berdasarkan sejumlah kriteria, antara lain menjalankan usaha minimal tiga tahun, telah menggunakan sedikitnya satu teknologi digital, serta terlibat dalam pengambilan keputusan strategis.

Responden berasal dari berbagai sektor usaha. Sebanyak 32,8 persen bergerak di sektor makanan dan minuman, 24,4 persen manufaktur, 22,4 persen industri kreatif, serta 20,4 persen jasa dan ritel.

Dari sisi usia usaha, 43,2 persen responden menjalankan bisnis selama 6–10 tahun, 29,6 persen selama 3–5 tahun, dan 27,2 persen telah beroperasi lebih dari 10 tahun. Mayoritas responden merupakan pemilik usaha, yakni 69,2 persen, sedangkan 30,8 persen adalah manajer.

Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala penilaian tujuh tingkat. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan perangkat lunak SmartPLS 4.

Secara sederhana, analisis tersebut digunakan untuk melihat apakah kepemimpinan strategis berhubungan dengan kemampuan UMKM beradaptasi secara digital, serta apakah kemampuan tersebut kemudian berhubungan dengan perubahan model bisnis yang lebih berkelanjutan.

Pengaruh Kepemimpinan Terhadap Agilitas Digital Cukup Kuat

Hasil penelitian menunjukkan hubungan yang kuat antara kepemimpinan strategis dan agilitas digital.

Koefisien hubungan antara strategic leadership dan digital agility mencapai 0,653 dengan nilai p < 0,001. Artinya, semakin kuat kemampuan pemimpin dalam menentukan arah strategi, mendorong inovasi, menyediakan sumber daya, dan mendukung perubahan, semakin tinggi pula kemampuan UMKM untuk merespons perubahan digital.

Model penelitian menunjukkan bahwa kepemimpinan strategis mampu menjelaskan 42,6 persen variasi agilitas digital.

Temuan ini memperlihatkan bahwa transformasi digital UMKM bukan semata-mata persoalan tersedia atau tidaknya teknologi. Cara pemimpin menentukan prioritas, mengalokasikan sumber daya, membuka ruang inovasi, dan mendorong organisasi untuk bereksperimen juga menentukan keberhasilan proses tersebut.

Dalam konteks UMKM, peran tersebut menjadi semakin penting karena keputusan strategis sering kali sangat bergantung pada pemilik atau manajer utama.

Agilitas Digital Jadi Jembatan Menuju Transformasi Bisnis

Temuan paling kuat terlihat pada hubungan antara digital agility dan sustainable business model transformation.

Penelitian Berli Lana mencatat koefisien sebesar 0,719 dengan nilai p < 0,001. Angka tersebut menunjukkan bahwa kemampuan UMKM untuk bergerak cepat dalam menghadapi perubahan digital memiliki hubungan positif dan signifikan dengan transformasi model bisnis berkelanjutan.

Agilitas digital bukan sekadar kemampuan menggunakan aplikasi atau platform digital. Kemampuan ini mencakup kecepatan perusahaan dalam membaca peluang, menggunakan informasi digital untuk mengambil keputusan, serta menyesuaikan produk, layanan, proses operasional, dan cara berinteraksi dengan pelanggan.

Digital agility juga mampu menjelaskan 51,8 persen variasi transformasi model bisnis berkelanjutan dalam model penelitian.

Dengan kata lain, UMKM yang lebih siap membaca perubahan digital dan mengambil tindakan secara cepat memiliki kapasitas lebih besar untuk mengubah cara mereka menciptakan, menyampaikan, dan menangkap nilai bisnis.

Agilitas Digital Memediasi Pengaruh Kepemimpinan

Temuan utama penelitian terletak pada peran digital agility sebagai penghubung antara kepemimpinan strategis dan transformasi model bisnis berkelanjutan.

Hasil analisis mediasi menghasilkan koefisien pengaruh tidak langsung sebesar 0,470 dengan nilai p < 0,001. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan strategis berkontribusi terhadap transformasi bisnis melalui pengembangan kemampuan agilitas digital.

Temuan ini memberikan gambaran bahwa pemimpin yang memiliki visi digital saja belum cukup. Visi tersebut harus diterjemahkan menjadi kemampuan organisasi untuk bertindak cepat, beradaptasi, dan melakukan perubahan nyata.

Dalam kerangka yang ditawarkan Berli Lana, kepemimpinan memberikan arah, sementara agilitas digital menjadi mekanisme yang menerjemahkan arah tersebut menjadi perubahan model bisnis.

Karena itu, transformasi digital yang berkelanjutan membutuhkan lebih dari sekadar investasi teknologi.

Implikasi bagi Pengembangan UMKM

Hasil penelitian ini memberikan sejumlah implikasi praktis bagi pelaku UMKM dan pembuat kebijakan.

Pertama, program digitalisasi UMKM sebaiknya tidak berhenti pada pemberian akses terhadap teknologi. Pelatihan perlu mencakup kepemimpinan strategis, pengambilan keputusan berbasis data, inovasi, dan kemampuan beradaptasi.

Kedua, pemilik dan manajer UMKM perlu melihat teknologi sebagai bagian dari strategi bisnis. Media sosial, marketplace, pembayaran digital, maupun aplikasi operasional seharusnya digunakan untuk menghasilkan perubahan nyata dalam pelayanan pelanggan, efisiensi proses, pengembangan produk, dan penciptaan sumber pendapatan baru.

Ketiga, pengembangan UMKM perlu memperkuat budaya organisasi yang memungkinkan eksperimen dan respons cepat terhadap perubahan pasar.

Temuan ini juga memperkuat pandangan bahwa UMKM tidak selalu harus bersaing dengan perusahaan besar melalui jumlah sumber daya. Kecepatan mengambil keputusan, fleksibilitas, dan kemampuan beradaptasi dapat menjadi kekuatan strategis UMKM.

Berli Lana melalui penelitian dari Universitas Amikom Purwokerto menempatkan agilitas digital sebagai mekanisme penting yang menghubungkan kemampuan kepemimpinan dengan transformasi model bisnis berkelanjutan. Pendekatan tersebut memperluas pemahaman bahwa transformasi digital merupakan proses pembangunan kapabilitas organisasi, bukan sekadar adopsi teknologi.

Profil Penulis

Berli Lana merupakan penulis penelitian dan akademisi dari Universitas Amikom Purwokerto, Indonesia. Penelitiannya dalam artikel ini berfokus pada kepemimpinan strategis, agilitas digital, transformasi digital, transformasi model bisnis berkelanjutan, serta pengembangan dan daya saing UMKM.

Sumber Penelitian

Judul: Orchestrating Digital Agility through Strategic Leadership and Organizational Learning for Sustainable Business Model Transformation
Penulis: Berli Lana
Afiliasi: Universitas Amikom Purwokerto, Indonesia
Tahun Publikasi: 2026
Jurnal: International Journal of Management, Business, and Innovation (IJMBI)
DOI: 10.59890/ijmbi.v4i4.54
ISSN-E: 3025-5589

Posting Komentar

0 Komentar