![]() |
| Illustration by AI |
Sebuah studi dari Politeknik Negeri Banjarmasin menemukan bahwa keterlambatan proyek pembangunan jalan di Gunung Aru, Pulau Laut, Kalimantan Selatan, dapat dipulihkan hingga 94 hari melalui kombinasi metode Fast Tracking dan Crashing yang disimulasikan menggunakan Microsoft Project. Proyek yang semula direncanakan selesai dalam 234 hari diperkirakan membutuhkan 328 hari setelah mengalami keterlambatan akibat mundurnya waktu mulai pekerjaan, hujan lebat, kondisi lokasi yang berlumpur, serta gangguan pada pekerjaan galian dan timbunan. Analisis Futri Ellys dan H. Muhammad Humaidi pada 2026 menunjukkan bahwa strategi percepatan dapat mengembalikan durasi proyek menjadi 234 hari, sehingga seluruh keterlambatan 94 hari dapat dipulihkan.
Proyek Jalan Mengalami Keterlambatan Signifikan
Jalan Lintas Tengah Pulau Laut, yang dalam penelitian
disebut sebagai proyek Gunung Aru, merupakan salah satu proyek infrastruktur
penting di Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan.
Pembangunan jalan tersebut diharapkan meningkatkan
konektivitas antarmasyarakat, memperlancar pergerakan orang dan barang, serta
mengurangi waktu perjalanan dan biaya logistik. Infrastruktur jalan yang lebih
baik juga dapat mendukung aktivitas ekonomi masyarakat melalui distribusi
barang dan jasa yang lebih lancar.
Namun, pelaksanaan proyek mengalami keterlambatan yang cukup
besar.
Berdasarkan evaluasi kurva-S, keterlambatan mulai terlihat
pada pekerjaan galian dan timbunan. Pada minggu keempat Oktober, progres yang
direncanakan seharusnya mencapai 55,656 persen, tetapi realisasi
pekerjaan baru mencapai 8,391 persen.
Salah satu penyebab utamanya adalah curah hujan yang tinggi.
Hujan yang terus berlangsung menghambat aktivitas konstruksi, sementara kondisi
jalan yang berlumpur membuat alat berat tidak dapat beroperasi secara optimal.
Distribusi material juga ikut terganggu sehingga menyebabkan efek berantai
terhadap pekerjaan berikutnya.
Peneliti Menggunakan Microsoft Project untuk Menentukan
Jalur Kritis
Futri Ellys dan H. Muhammad Humaidi menggunakan pendekatan
studi kasus kuantitatif untuk menganalisis keterlambatan dan mencari strategi
percepatan proyek.
Peneliti menggunakan data sekunder dari proyek Jalan Gunung
Aru, termasuk kurva-S rencana dan aktual, metode pelaksanaan konstruksi, serta
laporan mingguan proyek. Data tersebut dibandingkan untuk mengetahui tingkat
keterlambatan dan mengidentifikasi pekerjaan yang menjadi penyebab utama.
Data kemudian dimasukkan ke dalam Microsoft Project 2016
untuk menyusun jadwal proyek, menganalisis hubungan antarpekerjaan, menentukan
jalur kritis, dan melakukan simulasi strategi percepatan.
Peneliti menggunakan Precedence Diagram Method (PDM)
untuk memetakan hubungan antara berbagai pekerjaan konstruksi.
Secara sederhana, PDM membantu manajer proyek menentukan
pekerjaan mana yang harus dilakukan terlebih dahulu dan pekerjaan mana yang
dapat dilakukan secara bersamaan. Metode ini juga membantu menentukan jalur
kritis, yaitu rangkaian pekerjaan yang tidak memiliki waktu cadangan.
Keterlambatan pada salah satu pekerjaan tersebut dapat langsung memengaruhi
waktu penyelesaian keseluruhan proyek.
Sebanyak 19 dari 28 Aktivitas Berada pada Jalur Kritis
Jadwal proyek yang dibuat dalam Microsoft Project terdiri
atas 28 aktivitas pekerjaan. Dari jumlah tersebut, 19 aktivitas
dikategorikan sebagai aktivitas kritis, sedangkan sembilan lainnya
merupakan aktivitas nonkritis.
Aktivitas kritis memiliki Total Slack sebesar nol.
Artinya, tidak tersedia waktu tambahan untuk menunda aktivitas tersebut tanpa
memengaruhi jadwal penyelesaian proyek secara keseluruhan.
Jadwal awal menetapkan durasi proyek selama 234 hari,
dimulai pada 15 April 2025 dan direncanakan selesai pada 4 Desember 2025.
Namun, kondisi aktual berbeda.
Waktu mulai proyek bergeser dari 15 April menjadi 17 Mei
2025. Ditambah dengan dampak cuaca buruk, durasi proyek diperkirakan
membengkak menjadi 328 hari, dengan tanggal penyelesaian bergeser hingga
9 April 2026.
Dengan demikian, proyek mengalami keterlambatan 94 hari
kalender dibandingkan jadwal awal.
Fast Tracking Memungkinkan Beberapa Pekerjaan Berjalan
Bersamaan
Untuk mengembalikan waktu yang hilang, peneliti
menggabungkan dua metode percepatan, yaitu Fast Tracking dan Crashing.
Fast Tracking dilakukan dengan memungkinkan beberapa
aktivitas yang semula dijadwalkan secara berurutan untuk dikerjakan secara
tumpang tindih apabila secara teknis memungkinkan. Dengan demikian, pekerjaan
berikutnya dapat dimulai sebelum pekerjaan sebelumnya benar-benar selesai.
Dalam simulasi, peneliti mengubah hubungan antarpekerjaan
pada aktivitas kritis dengan menambahkan waktu lead. Cara ini
memungkinkan beberapa pekerjaan berjalan secara bersamaan dalam batas yang
telah ditentukan.
Sebagai contoh, hubungan pekerjaan batu berubah menjadi
FS-16 hari, sedangkan pekerjaan marka jalan menggunakan hubungan FS-5 hari.
Perubahan tersebut memungkinkan pekerjaan berikutnya dimulai lebih awal.
Metode ini dapat menghemat waktu tanpa mengubah keseluruhan
ruang lingkup pekerjaan, tetapi membutuhkan koordinasi yang ketat agar
pekerjaan yang dilakukan secara bersamaan tetap aman dan layak secara teknis.
Crashing Memanfaatkan Jam Kerja Tambahan
Metode kedua adalah Crashing, yaitu memperpendek
durasi pekerjaan dengan menambah sumber daya atau meningkatkan jam kerja.
Dalam penelitian ini, peneliti memilih pendekatan lembur
daripada menambahkan sumber daya dalam jumlah besar. Kalender kerja khusus
dibuat di Microsoft Project untuk mengakomodasi jam kerja tambahan, kemudian
lembur diterapkan pada aktivitas yang berada di jalur kritis.
Kombinasi kedua metode tersebut menghasilkan perubahan
signifikan pada jadwal proyek.
Perbandingan Jadwal
- Rencana
awal: 15 April 2025 – 4 Desember 2025, selama 234 hari
- Realisasi/perkiraan
setelah keterlambatan: 17 Mei 2025 – 9 April 2026, selama 328 hari
- Jadwal
setelah percepatan: 17 Mei 2025 – 5 Januari 2026, selama 234 hari
Dengan demikian, simulasi mampu memangkas 94 hari dari
jadwal yang mengalami keterlambatan dan mengembalikan durasi proyek ke target
awal 234 hari.
Teknologi Membantu Pengambilan Keputusan Proyek
Temuan penelitian menunjukkan bahwa perangkat lunak
manajemen proyek dapat membantu pengambilan keputusan ketika suatu proyek
konstruksi mengalami keterlambatan.
Microsoft Project memungkinkan peneliti membuat model
jadwal, memasukkan kondisi aktual di lapangan, menentukan aktivitas kritis, dan
menguji berbagai skenario percepatan sebelum strategi diterapkan pada proyek.
Pendekatan tersebut memberikan cara yang lebih sistematis untuk mengevaluasi
solusi dibandingkan sekadar melakukan perubahan jadwal secara manual.
Pada proyek infrastruktur berskala besar, analisis seperti
ini dapat menjadi penting karena keterlambatan satu pekerjaan dapat menimbulkan
efek berantai terhadap berbagai pekerjaan lain yang bergantung padanya.
Penelitian tersebut juga menunjukkan pentingnya
mengidentifikasi aktivitas kritis sejak awal. Karena aktivitas pada jalur
kritis tidak memiliki waktu cadangan, keterlambatan pada pekerjaan tersebut
membutuhkan penanganan segera.
Berpotensi Membantu Proyek Infrastruktur yang Terlambat
Temuan penelitian ini dapat menjadi referensi bagi
kontraktor, manajer proyek, maupun pemerintah yang bertanggung jawab terhadap
pembangunan infrastruktur.
Bagi kontraktor, kombinasi Fast Tracking dan Crashing
memberikan alternatif untuk memulihkan waktu yang hilang ketika proyek
mengalami keterlambatan. Bagi pemilik proyek, simulasi jadwal dapat membantu
menilai apakah strategi percepatan mampu mengembalikan proyek ke target waktu
yang telah ditetapkan.
Bagi masyarakat, penyelesaian proyek jalan sesuai atau
mendekati jadwal yang direncanakan dapat mempercepat akses terhadap jaringan
transportasi dan manfaat ekonomi yang diharapkan dari peningkatan konektivitas.
Namun, penelitian ini berfokus pada pemulihan waktu,
bukan pada penentuan strategi yang paling murah. Artikel tidak memberikan
perbandingan biaya secara rinci mengenai tambahan biaya lembur atau konsekuensi
lain dari pekerjaan yang dilakukan secara tumpang tindih.
Karena itu, efektivitas strategi dalam penelitian terutama
dinilai berdasarkan kemampuannya mengembalikan waktu yang hilang,
khususnya melalui optimalisasi aktivitas pada jalur kritis.
Profil Penulis
Futri Ellys — Politeknik Negeri Banjarmasin. Penulis
pertama artikel mengenai percepatan jadwal proyek konstruksi menggunakan PDM,
Microsoft Project, Fast Tracking, dan Crashing.
H. Muhammad Humaidi — Politeknik Negeri Banjarmasin.
Penulis kedua sekaligus corresponding author dalam penelitian tersebut.
Informasi kontaknya tercantum dalam artikel yang diterbitkan.
Artikel tidak memberikan informasi rinci mengenai gelar
akademik maupun bidang keahlian masing-masing penulis. Karena itu, informasi
tersebut tidak ditambahkan agar profil tetap faktual.
Sumber Penelitian
Judul: Acceleration of Late Work on the Middle
Cross Road of the East Sea Island (Mount Aru) Using Microsoft Project with the
Precedence Diagram Method (PDM)
Penulis: Futri Ellys, H. Muhammad Humaidi
Afiliasi: Politeknik Negeri Banjarmasin
Jurnal: International Journal of Integrative
Research (IJIR)
Volume: 4, No. 7
Tahun: 2026
Halaman: 567–576
Situs jurnal: International
Journal of Integrative Research (IJIR)

0 Komentar