Penggunaan AI yang Reflektif Terbukti Berkaitan dengan Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa

Gambar Ilustrasi AI
FORMOSA NEWS - Jawa Tengah - Cara mahasiswa menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) ternyata lebih penting daripada sekadar seberapa sering teknologi itu digunakan. Studi yang ditulis Danny Yonathan dari Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup, bersama Moh. Rodli dari Universitas Mayjen Sungkono Mojokerto, Lucky Dewanti dari Universitas Muhammadiyah Bogor Raya, dan Pierre Marcello Lopulalan dari Politeknik Pelayaran Banten, menunjukkan bahwa penggunaan AI secara reflektif memiliki hubungan paling kuat dengan kemampuan berpikir kritis mahasiswa. Artikel tersebut diterima untuk publikasi pada 23 Agustus 2026 dan menyoroti pentingnya literasi digital dalam pembelajaran perguruan tinggi.

Temuan ini penting di tengah meningkatnya penggunaan teknologi AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, Microsoft Copilot, dan Blackbox AI di lingkungan kampus. AI kini digunakan mahasiswa untuk mencari penjelasan materi, menghasilkan ide, merangkum bacaan, memperbaiki tata bahasa, hingga membantu menyusun tugas.

Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi tersebut tidak otomatis membuat mahasiswa menjadi pemikir yang lebih kritis. Manfaat terbesar muncul ketika mahasiswa tetap aktif memeriksa, membandingkan, mempertanyakan, dan mengevaluasi jawaban yang dihasilkan AI.

Melibatkan 250 Mahasiswa dari Lima Perguruan Tinggi

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 250 mahasiswa sarjana dari lima perguruan tinggi. Setiap perguruan tinggi menyumbang 50 responden yang berasal dari kelompok bidang pendidikan, sosial-humaniora, ekonomi dan bisnis, sains dan teknologi, serta kesehatan.

Seluruh responden merupakan mahasiswa yang telah menggunakan aplikasi AI untuk kegiatan akademik dalam enam bulan terakhir. Para mahasiswa mengisi kuesioner mengenai penggunaan AI dan mengikuti tes kemampuan berpikir kritis.

Peneliti mengukur empat aspek utama, yaitu intensitas penggunaan AI, literasi digital dalam menggunakan AI, penggunaan AI secara reflektif, dan penggunaan AI secara pasif. Penggunaan reflektif mencakup kebiasaan membandingkan jawaban AI dengan sumber lain, memeriksa informasi, mengajukan pertanyaan lanjutan, serta memperbaiki instruksi ketika jawaban AI belum memadai.

Sebaliknya, penggunaan pasif menggambarkan kecenderungan menerima atau menyalin jawaban AI tanpa melakukan pemeriksaan dan analisis lebih lanjut.

Penggunaan AI Sangat Tinggi, ChatGPT Paling Populer

Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI sudah menjadi bagian penting dari aktivitas akademik mahasiswa. ChatGPT menjadi aplikasi yang paling banyak digunakan, yakni oleh 88,8% responden, disusul Gemini sebesar 62,8%, Microsoft Copilot 30,4%, dan Blackbox AI 20,4%.

Sebanyak 32% mahasiswa menggunakan AI setiap hari, sedangkan 43,6% menggunakannya tiga hingga lima kali dalam seminggu. Penggunaan AI terutama diarahkan untuk mencari penjelasan tambahan mengenai materi kuliah, menghasilkan ide awal, merangkum bacaan, memeriksa tata bahasa, dan membantu penyusunan tugas.
Rata-rata intensitas penggunaan AI berada pada angka 3,84 dari skala 5. Literasi digital mahasiswa dalam menggunakan AI mencapai rata-rata 3,72, sedangkan penggunaan reflektif mencapai 3,79. Sementara itu, penggunaan AI secara pasif berada pada angka rata-rata 2,41.

Skor rata-rata kemampuan berpikir kritis mahasiswa mencapai 75,68 dari skala 100.

Cara Menggunakan AI Lebih Penting daripada Frekuensi

Analisis penelitian memperlihatkan bahwa empat faktor yang diuji secara bersama-sama menjelaskan 41,9% variasi kemampuan berpikir kritis mahasiswa.

Dari seluruh faktor tersebut, penggunaan AI secara reflektif menjadi prediktor paling kuat. Mahasiswa yang terbiasa membandingkan jawaban AI dengan sumber ilmiah, memeriksa kembali informasi, mengajukan pertanyaan lanjutan, dan mengevaluasi kelemahan jawaban memperoleh skor berpikir kritis lebih tinggi.

Literasi digital menjadi faktor kuat berikutnya, disusul oleh intensitas penggunaan AI. Sementara itu, penggunaan AI secara pasif menunjukkan arah hubungan negatif, tetapi hasilnya belum cukup kuat secara statistik untuk dinyatakan sebagai pengaruh yang signifikan.
Perbedaan paling menarik terlihat ketika mahasiswa dikelompokkan berdasarkan tingkat penggunaan AI secara reflektif. Mahasiswa dengan tingkat penggunaan reflektif tinggi memperoleh rata-rata skor berpikir kritis 82,60. Kelompok dengan tingkat penggunaan sedang memperoleh skor 75,40, sedangkan kelompok dengan penggunaan reflektif rendah hanya mencapai 68,90.

Artinya, terdapat selisih 13,70 poin antara kelompok mahasiswa dengan penggunaan AI reflektif tinggi dan rendah.

AI Bukan Pengganti Proses Berpikir

Danny Yonathan dan rekan-rekannya menegaskan bahwa AI sebaiknya diposisikan sebagai alat pendukung proses berpikir, bukan pengganti penalaran manusia.

Mahasiswa tetap perlu mempertanyakan jawaban yang dihasilkan sistem, memeriksa sumber informasi, mengenali kemungkinan kesalahan, dan membandingkan berbagai sudut pandang. Dalam pola penggunaan seperti ini, AI dapat membantu menyediakan informasi awal, alternatif gagasan, dan umpan balik yang kemudian diproses kembali melalui analisis dan refleksi.

Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa frekuensi penggunaan AI saja bukan faktor paling menentukan. Mahasiswa dapat menggunakan AI secara intensif, tetapi jika interaksinya hanya berorientasi pada jawaban cepat, proses berpikir mendalam belum tentu berkembang.
Sebaliknya, literasi digital membantu mahasiswa memahami bahwa jawaban AI tidak selalu akurat. Kemampuan memeriksa kredibilitas sumber, mengenali kemungkinan bias, memahami keterbatasan teknologi, dan menggunakan informasi secara etis menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas proses berpikir.

Implikasi bagi Kampus dan Dosen

Bagi perguruan tinggi, hasil penelitian ini memberikan pesan yang jelas: kebijakan penggunaan AI tidak cukup hanya berupa larangan atau izin.

Kampus dan dosen perlu mengajarkan cara menggunakan AI secara kritis dan bertanggung jawab. Aktivitas pembelajaran dapat dirancang dengan meminta mahasiswa membandingkan jawaban AI dengan sumber ilmiah, menemukan kesalahan dalam keluaran AI, mempertahankan argumen melalui diskusi, serta menjelaskan proses yang mereka lakukan untuk memperbaiki jawaban teknologi.

Penilaian akademik juga dapat lebih menekankan proses penalaran, bukan hanya hasil akhir. Peneliti bahkan merekomendasikan penggunaan riwayat prompt, refleksi penggunaan AI, diskusi, dan presentasi sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Menurut para penulis, pendekatan ini dapat membantu memastikan bahwa AI menjadi alat yang memperkuat kemampuan berpikir mahasiswa, bukan teknologi yang mengurangi tanggung jawab intelektual mereka.
Penelitian ini juga mengingatkan bahwa penggunaan pasif tetap memiliki risiko. Walaupun pengaruh negatifnya dalam penelitian ini belum signifikan secara statistik, kebiasaan menerima atau menyalin jawaban AI tanpa pemeriksaan dapat mengurangi keterlibatan mahasiswa dalam proses analisis dan evaluasi.

Profil Singkat Penulis

Danny Yonathan merupakan penulis utama dan penulis korespondensi dari Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup. Ia menulis penelitian bersama Moh. Rodli dari Universitas Mayjen Sungkono Mojokerto, Lucky Dewanti dari Universitas Muhammadiyah Bogor Raya, dan Pierre Marcello Lopulalan dari Politeknik Pelayaran Banten, Indonesia.

Berdasarkan fokus artikel, bidang kajian tim penulis mencakup pendidikan tinggi, teknologi pendidikan, kecerdasan buatan dalam pembelajaran, literasi digital, dan kemampuan berpikir kritis. Gelar akademik lengkap para penulis tidak tercantum dalam teks artikel yang tersedia.

Ke depan, para penulis merekomendasikan penelitian jangka panjang dan eksperimen untuk melihat hubungan sebab-akibat antara penggunaan AI dan perkembangan kemampuan berpikir kritis. Studi berikutnya juga dapat memasukkan faktor seperti metakognisi, regulasi diri, motivasi belajar, desain pembelajaran, serta peran dosen.

Sumber Penelitian:
The Impact of Artificial Intelligence Adoption on University Students’ Critical Thinking Skills in Higher Education Learning oleh Danny Yonathan, Moh. Rodli, Lucky Dewanti, dan Pierre Marcello Lopulalan, artikel open-access yang diterima pada 23 Agustus 2026.
Nama jurnal:Jurnal Ilmiah Pendidikan Holistik (JIPH)


Posting Komentar

0 Komentar