Temuan ini penting di tengah meningkatnya penggunaan teknologi AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, Microsoft Copilot, dan Blackbox AI di lingkungan kampus. AI kini digunakan mahasiswa untuk mencari penjelasan materi, menghasilkan ide, merangkum bacaan, memperbaiki tata bahasa, hingga membantu menyusun tugas.
Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa teknologi tersebut tidak otomatis membuat mahasiswa menjadi pemikir yang lebih kritis. Manfaat terbesar muncul ketika mahasiswa tetap aktif memeriksa, membandingkan, mempertanyakan, dan mengevaluasi jawaban yang dihasilkan AI.
Melibatkan 250 Mahasiswa dari Lima Perguruan Tinggi
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 250 mahasiswa sarjana dari lima perguruan tinggi. Setiap perguruan tinggi menyumbang 50 responden yang berasal dari kelompok bidang pendidikan, sosial-humaniora, ekonomi dan bisnis, sains dan teknologi, serta kesehatan.
Seluruh responden merupakan mahasiswa yang telah menggunakan aplikasi AI untuk kegiatan akademik dalam enam bulan terakhir. Para mahasiswa mengisi kuesioner mengenai penggunaan AI dan mengikuti tes kemampuan berpikir kritis.
Peneliti mengukur empat aspek utama, yaitu intensitas penggunaan AI, literasi digital dalam menggunakan AI, penggunaan AI secara reflektif, dan penggunaan AI secara pasif. Penggunaan reflektif mencakup kebiasaan membandingkan jawaban AI dengan sumber lain, memeriksa informasi, mengajukan pertanyaan lanjutan, serta memperbaiki instruksi ketika jawaban AI belum memadai.
Sebaliknya, penggunaan pasif menggambarkan kecenderungan menerima atau menyalin jawaban AI tanpa melakukan pemeriksaan dan analisis lebih lanjut.
Penggunaan AI Sangat Tinggi, ChatGPT Paling Populer
Hasil penelitian menunjukkan bahwa AI sudah menjadi bagian penting dari aktivitas akademik mahasiswa. ChatGPT menjadi aplikasi yang paling banyak digunakan, yakni oleh 88,8% responden, disusul Gemini sebesar 62,8%, Microsoft Copilot 30,4%, dan Blackbox AI 20,4%.
Skor rata-rata kemampuan berpikir kritis mahasiswa mencapai 75,68 dari skala 100.
Cara Menggunakan AI Lebih Penting daripada Frekuensi
Analisis penelitian memperlihatkan bahwa empat faktor yang diuji secara bersama-sama menjelaskan 41,9% variasi kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Dari seluruh faktor tersebut, penggunaan AI secara reflektif menjadi prediktor paling kuat. Mahasiswa yang terbiasa membandingkan jawaban AI dengan sumber ilmiah, memeriksa kembali informasi, mengajukan pertanyaan lanjutan, dan mengevaluasi kelemahan jawaban memperoleh skor berpikir kritis lebih tinggi.
Artinya, terdapat selisih 13,70 poin antara kelompok mahasiswa dengan penggunaan AI reflektif tinggi dan rendah.
AI Bukan Pengganti Proses Berpikir
Danny Yonathan dan rekan-rekannya menegaskan bahwa AI sebaiknya diposisikan sebagai alat pendukung proses berpikir, bukan pengganti penalaran manusia.
Mahasiswa tetap perlu mempertanyakan jawaban yang dihasilkan sistem, memeriksa sumber informasi, mengenali kemungkinan kesalahan, dan membandingkan berbagai sudut pandang. Dalam pola penggunaan seperti ini, AI dapat membantu menyediakan informasi awal, alternatif gagasan, dan umpan balik yang kemudian diproses kembali melalui analisis dan refleksi.
Implikasi bagi Kampus dan Dosen
Bagi perguruan tinggi, hasil penelitian ini memberikan pesan yang jelas: kebijakan penggunaan AI tidak cukup hanya berupa larangan atau izin.
Kampus dan dosen perlu mengajarkan cara menggunakan AI secara kritis dan bertanggung jawab. Aktivitas pembelajaran dapat dirancang dengan meminta mahasiswa membandingkan jawaban AI dengan sumber ilmiah, menemukan kesalahan dalam keluaran AI, mempertahankan argumen melalui diskusi, serta menjelaskan proses yang mereka lakukan untuk memperbaiki jawaban teknologi.
Penilaian akademik juga dapat lebih menekankan proses penalaran, bukan hanya hasil akhir. Peneliti bahkan merekomendasikan penggunaan riwayat prompt, refleksi penggunaan AI, diskusi, dan presentasi sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Profil Singkat Penulis
Danny Yonathan merupakan penulis utama dan penulis korespondensi dari Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup. Ia menulis penelitian bersama Moh. Rodli dari Universitas Mayjen Sungkono Mojokerto, Lucky Dewanti dari Universitas Muhammadiyah Bogor Raya, dan Pierre Marcello Lopulalan dari Politeknik Pelayaran Banten, Indonesia.
Berdasarkan fokus artikel, bidang kajian tim penulis mencakup pendidikan tinggi, teknologi pendidikan, kecerdasan buatan dalam pembelajaran, literasi digital, dan kemampuan berpikir kritis. Gelar akademik lengkap para penulis tidak tercantum dalam teks artikel yang tersedia.
Ke depan, para penulis merekomendasikan penelitian jangka panjang dan eksperimen untuk melihat hubungan sebab-akibat antara penggunaan AI dan perkembangan kemampuan berpikir kritis. Studi berikutnya juga dapat memasukkan faktor seperti metakognisi, regulasi diri, motivasi belajar, desain pembelajaran, serta peran dosen.
0 Komentar