Pemberdayaan Desa Adat Ifale Jayapura Berbasis Data Terbukti Mengakselerasi Pembangunan Ekonomi Lokal


Ilustration by AI 

Tim peneliti dan pengabdi dari Universitas Cenderawasih melaksanakan program pendampingan pengembangan desa berbasis data (data-driven village) di Kampung Adat Ifale, Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua, pada 3 Maret hingga 28 May 2026. Kegiatan yang dipimpin oleh Abner Herry Bajari bersama lima akademisi Universitas Cenderawasih ini dihadirkan untuk menjawab persoalan klasik terkait data perdesaan yang kerap tersebar, tidak diperbarui, dan belum terintegrasi ke dalam sistem keputusan ekonomi. Melalui pendekatan pendampingan partisipatif, riset pengabdian ini terbukti berhasil mentransformasi catatan administratif menjadi instrumen digital kolektif yang siap memacu pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), sektor perikanan Danau Sentani, pariwisata berbasis komunitas, serta pelestarian aset budaya.

Secara geografis dan ekologis, kehidupan masyarakat Kampung Adat Ifale sangat bergantung pada potensi Danau Sentani. Desa ini menyimpan kekayaan ekonomi lokal mulai dari perikanan tangkap, pengolahan hasil danau, kuliner, transportasi air, hingga kerajinan tangan dan wisata budaya. Namun, potensi besar tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkeadilan akibat ketiadaan basis data mikro yang akurat. Pemerintah kampung sebelumnya kesulitan mengidentifikasi pelaku usaha, lokasi, kapasitas produksi, kendala pasar, hingga kelompok mana saja yang terancam terpinggirkan dari akses pembangunan.

Guna mengatasi keterbatasan tersebut, para peneliti menerapkan metode Participatory Community Assistance yang berlangsung selama 10 minggu. Pendekatan ini memosisikan warga setempat bukan sekadar sebagai objek pendataan, melainkan pemilik pengetahuan dan pengelola informasi lokal. Program ini melatih 12 kader data lokal dari total 38 peserta yang mencakup perangkat kampung, pemuda, pengurus BUMKam, tokoh adat (ondoafi), serta perwakilan kelompok usaha. Proses pendampingan mencakup lima tahapan sistematis: analisis kebutuhan, penyusunan instrumen dan etika data adat, pendataan dan pemetaan partisipatif, validasi dan digitalisasi, hingga forum perencanaan pemanfaatan data.

Pendataan lapangan berhasil menjangkau 126 kepala keluarga (487 jiwa) dengan tingkat kelengkapan data mencapai 92 persen dan tingkat validasi silang bersama tokoh adat mencapai 88 persen. Dari proses pendataan dan pemetaan ini, tim berhasil merekam dan mengelompokkan potensi ekonomi desa:

  • 41 Unit UMKM: Teridentifikasi berdasarkan profil produk, kapasitas produksi, status legalitas, serta kebutuhan akses pasar.
  • 28 Unit Usaha Perikanan: Mencakup nelayan tangkap dan pengolah hasil danau yang membutuhkan penguatan rantai pasok dan teknologi pendingin.
  • 5 Aset Pariwisata Utama: Terdiri dari lokasi pantai/danau, objek ekowisata, dan potensi wisata budaya yang dipetakan kesiapannya.
  • 9 Aset Budaya Adat: Dokumentasi tradisi, kerajinan tangan, dan situs adat yang diklasifikasikan hak akses informasinya berdasarkan persetujuan adat.
  • Peningkatan Kapasitas Kader: Rata-rata skor kompetensi 12 kader data meningkat drastis dari 47,0 menjadi 81,6 (naik 34,6 poin), di mana 83 persen kader kini mampu memperbarui data digital secara mandiri.

Hasil riset ini memberikan implikasi nyata bagi tata kelola pembangunan desa dan kebijakan publik perdesaan. Kehadiran basis data interaktif, direktori bisnis, serta peta potensi ekonomi memungkinkan pemerintah kampung menyalurkan bantuan pembangunan secara presisi. Bantuan tidak lagi bersifat seragam, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan spesifik—seperti fasilitasi kemasan dan legalitas bagi UMKM, jaringan dingin (cold chain) untuk sektor perikanan, serta paket tur terintegrasi bagi pengembangan pariwisata Danau Sentani. Selain itu, model pendataan berbasis hak adat ini menetapkan standar tata kelola data yang amanah, di mana informasi sensitif budaya tetap dilindungi di bawah kewenangan masyarakat adat setempat.

Abner Herry Bajari dari Universitas Cenderawasih menegaskan pentingnya keberlanjutan basis data ini dalam perencanaan perdesaan. "Pemberdayaan desa berbasis data bukan sekadar digitalisasi dokumen, melainkan perubahan tata kelola pembangunan. Ketika warga dan kader lokal menguasai datanya sendiri, perencanaan program ekonomi tidak lagi dikira-kira, melainkan didasarkan pada bukti nyata di lapangan," ungkapnya.

Profil Penulis

  • Renida Jozelina Toroby, S.Sos., M.Si.: Dosen dan peneliti di Universitas Cenderawasih. Memiliki kepakaran di bidang ilmu sosial, administrasi publik, dan pemberdayaan masyarakat perdesaan Papua.
  • Y. Gabriel Maniagasi, S.Sos., M.Si.: Akademisi Universitas Cenderawasih yang berfokus pada studi kebijakan publik, pembangunan daerah, dan penguatan kelembagaan lokal.
  • Dr. Abner Herry Bajari, S.Sos., M.Si.: Peneliti utama dan Ketua Tim Pengabdian Masyarakat dari Universitas Cenderawasih. Berpengalaman luas dalam metodologi riset partisipatif, komunikasi pembangunan, serta pemetaan ekonomi masyarakat adat.
  • Dr. Hiskia C.M. Sapioper, S.Sos., M.Si.: Dosen Universitas Cenderawasih dengan keahlian pada manajemen tata kelola pemerintahan desa dan pengembangan potensi ekonomi lokal.
  • Dorthea Renyaan, S.Sos., M.Si.: Akademisi Universitas Cenderawasih yang aktif dalam riset pendampingan komunitas, kesetaraan gender, dan pengembangan UMKM.
  • Melkianus Rumbrawer, S.E., M.Si.: Dosen dan peneliti ilmu ekonomi Universitas Cenderawasih yang mendalami analisis rantai nilai perikanan, BUMKam, dan perencanaan bisnis lokal.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Assistance in Building Data-Based Villages for Local Economic Development in the Ifale Traditional Village, Jayapura Regency
Nama Jurnal: Indonesian Journal of Society Development (IJSD)
Tahun Publikasi: 2026 (Vol. 5, No. 3, hlm. 343–360)
DOI : https://doi.org/10.55927/ijsd.v5i3.34

Posting Komentar

0 Komentar