Kualitas Hidup Dewasa dengan ADHD di Indonesia Cenderung Stabil Berkat Pendidikan dan Dukungan Sosial

AI Generated Ilustration 

FORMOSA NEWS - Sebuah riset terbaru dari Universitas Sumatera Utara mengungkap gambaran kualitas hidup orang dewasa dengan Attention Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) di Indonesia. Studi yang dipimpin oleh Chairunnisa Pratiwi bersama Hasnida dan Josetta Maria Remila Tuapattinaja ini menunjukkan bahwa mayoritas responden berada pada tingkat kualitas hidup “sedang”. Temuan ini penting karena menantang anggapan umum bahwa ADHD pada usia dewasa selalu berujung pada kehidupan yang buruk dan penuh kegagalan.

Penelitian yang diterbitkan dalam Indonesian Journal of Education and Psychological Science edisi 2026 tersebut melibatkan 120 orang dewasa dengan diagnosis ADHD klinis. Para peneliti ingin melihat bagaimana individu-individu ini menilai kesejahteraan hidup mereka secara menyeluruh—mulai dari kesehatan, pekerjaan, relasi sosial, hingga kepuasan hidup.

Hasilnya cukup mengejutkan. Sebanyak 67,5 persen responden berada pada kategori kualitas hidup “rata-rata”. Sekitar 15 persen masuk kategori “tinggi”, sementara 12,5 persen berada pada kategori “rendah”. Hanya sebagian kecil yang berada di ujung ekstrem: 2,5 persen sangat rendah dan 2,5 persen sangat tinggi.

Temuan ini memberi pesan penting: meskipun ADHD membawa tantangan nyata dalam perhatian, pengelolaan emosi, dan fungsi eksekutif, kondisi ini tidak otomatis menjatuhkan kualitas hidup seseorang ke level rendah. Ada faktor-faktor pelindung yang mampu menjaga keseimbangan hidup mereka.

Mengapa Kualitas Hidup Bisa Tetap Stabil?

ADHD sering dipersepsikan sebagai gangguan masa kanak-kanak. Namun, riset global menunjukkan bahwa sekitar 2,5–4,4 persen orang dewasa di dunia hidup dengan ADHD. Kondisi ini kerap disertai masalah lain seperti kecemasan, depresi, gangguan tidur, hingga kesulitan di tempat kerja dan hubungan sosial.

Di Indonesia, gambaran yang muncul dari penelitian ini lebih bernuansa. Mayoritas responden berada pada usia produktif, terutama 20–29 tahun. Lebih dari separuh memiliki pendidikan sarjana, dan banyak yang telah bekerja di sektor swasta, menjadi mahasiswa, atau bekerja secara lepas.

Menurut Chairunnisa Pratiwi, faktor-faktor seperti pendidikan, pekerjaan, dan dukungan sosial berperan besar dalam menjaga kualitas hidup. Individu yang memiliki akses terhadap pendidikan tinggi cenderung memiliki lebih banyak sumber daya—baik pengetahuan, jaringan sosial, maupun peluang ekonomi—untuk beradaptasi dengan tantangan ADHD.

Lingkungan sosial juga menjadi penopang penting. Banyak responden tergabung dalam komunitas ADHD atau jaringan dukungan. Ruang ini memungkinkan mereka berbagi pengalaman, mengurangi stigma, dan memahami bahwa kesulitan yang dialami bukanlah kegagalan pribadi, melainkan bagian dari kondisi neurodevelopmental.

“Ketika seseorang memahami dirinya dan mendapat dukungan, ia lebih mampu memaknai hidup secara positif meskipun masih menghadapi keterbatasan,” tulis para peneliti dalam artikelnya.

Selain itu, sebagian besar responden telah mendapatkan diagnosis profesional serta akses terhadap pengobatan atau terapi psikologis. Pendekatan ini membantu mengurangi dampak gejala ADHD dalam kehidupan sehari-hari, terutama di ranah pekerjaan dan hubungan sosial.

Bagaimana Penelitian Ini Dilakukan?

Tim peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring yang disebarkan di komunitas dan media sosial yang relevan dengan orang dewasa dengan ADHD.

Untuk mengukur kualitas hidup, mereka memakai Quality of Life Inventory (QOLI) yang dikembangkan oleh Michael Frisch dan telah diadaptasi ke bahasa Indonesia. Instrumen ini menilai 16 aspek kehidupan, seperti kesehatan, pekerjaan, hubungan keluarga, persahabatan, kreativitas, waktu luang, hingga spiritualitas.

Responden diminta menilai seberapa penting setiap aspek bagi mereka dan seberapa puas mereka terhadap kondisi yang ada. Skor akhir mencerminkan keseimbangan antara harapan dan realitas dalam hidup seseorang.

Pendekatan ini menekankan bahwa kualitas hidup bukan hanya soal kondisi objektif, tetapi juga bagaimana individu memaknai hidupnya. Dua orang dengan situasi serupa bisa memiliki penilaian yang sangat berbeda terhadap kebahagiaan dan kesejahteraan.

Tantangan Tetap Nyata, Tapi Tidak Menentukan Segalanya

Hasil penelitian ini tidak menutup mata terhadap kesulitan yang dihadapi orang dewasa dengan ADHD. Banyak dari mereka tetap berjuang dengan manajemen waktu, konsentrasi, pengaturan emosi, dan konsistensi dalam pekerjaan.

Namun, data menunjukkan bahwa tantangan tersebut tidak selalu berujung pada kualitas hidup yang buruk. Pendidikan yang memadai, pekerjaan yang relatif stabil, komunitas yang suportif, serta akses layanan kesehatan mental mampu menjadi penyangga.

Penelitian ini sejalan dengan temuan internasional yang menyebutkan bahwa kualitas hidup pada ADHD sangat dipengaruhi oleh faktor psikososial. Self-compassion—kemampuan bersikap lembut pada diri sendiri—misalnya, terbukti berkorelasi positif dengan kesejahteraan. Orang yang tidak terus-menerus menyalahkan diri atas kesulitan yang dialami cenderung lebih tangguh secara emosional.

Lingkungan kerja dan pendidikan yang inklusif juga memainkan peran penting. Ketika institusi memberi ruang adaptasi—seperti fleksibilitas waktu, struktur kerja yang jelas, atau pendekatan pembelajaran yang beragam—individu dengan ADHD lebih mampu menunjukkan potensinya.

Implikasi bagi Masyarakat dan Kebijakan

Temuan ini membawa pesan strategis bagi dunia pendidikan, dunia kerja, dan pembuat kebijakan di Indonesia. ADHD pada orang dewasa bukanlah akhir dari kualitas hidup yang baik. Dengan dukungan yang tepat, mereka dapat hidup produktif dan bermakna.

Bagi institusi pendidikan, hasil ini menegaskan pentingnya layanan konseling, pendampingan belajar, dan kebijakan inklusif bagi mahasiswa dengan kebutuhan khusus. Di dunia kerja, perusahaan dapat berperan dengan menciptakan lingkungan yang ramah neurodiversitas.

Di tingkat kebijakan publik, akses terhadap diagnosis dan layanan kesehatan mental perlu diperluas. Banyak orang dewasa di Indonesia belum terdiagnosis, sehingga hidup bertahun-tahun dengan kesulitan yang tidak mereka pahami. Deteksi dini dan layanan yang terjangkau dapat mencegah penurunan kualitas hidup di kemudian hari.

Seperti disimpulkan para peneliti, pendekatan terhadap ADHD seharusnya tidak semata berfokus pada pengurangan gejala, tetapi juga pada peningkatan kualitas hidup secara menyeluruh—mencakup aspek psikologis, sosial, dan lingkungan.

Profil Singkat Penulis

Chairunnisa Pratiwi, S.Psi.
Afiliasi: Universitas Sumatera Utara
Bidang keahlian: Psikologi, kesehatan mental, kesejahteraan psikologis

Hasnida, M.Psi.
Afiliasi: Universitas Sumatera Utara
Bidang keahlian: Psikologi pendidikan dan klinis

Josetta Maria Remila Tuapattinaja, M.Psi.
Afiliasi: Universitas Sumatera Utara
Bidang keahlian: Psikologi dan intervensi psikososial

Sumber Penelitian

Pratiwi, C., Hasnida, & Tuapattinaja, J. M. R. (2026). Quality of Life among Adults with ADHD: A Descriptive Study. Indonesian Journal of Education and Psychological Science, Vol. 4 No. 1, hlm. 709–720.

Posting Komentar

0 Komentar