![]() |
| Illustration by Ai |
Rekonstruksi Jalan Bunglai di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, yang semula diproyeksikan selesai pada Januari 2026 berhasil dipercepat hingga pertengahan November 2025 melalui penerapan Microsoft Project dan Earned Value Method (EVM). Temuan tersebut dipublikasikan oleh Rizka Aprilia dan H. Muhammad Humaidi dari Politeknik Negeri Banjarmasin dalam International Journal of Integrative Research (IJIR) tahun 2026. Penelitian ini menunjukkan bahwa pengendalian jadwal dan biaya berbasis data mampu mengurangi risiko keterlambatan sekaligus mencegah pembengkakan anggaran pada proyek infrastruktur jalan.
Pembangunan jalan merupakan salah
satu fondasi utama pertumbuhan ekonomi daerah karena mendukung mobilitas
masyarakat, distribusi logistik, dan keselamatan transportasi. Jalan Bunglai
sendiri merupakan bagian dari jalur alternatif Banjarbaru–Batulicin yang selama
bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu titik rawan kecelakaan akibat
tikungan tajam dan lereng pegunungan yang curam. Pemerintah Provinsi Kalimantan
Selatan kemudian melakukan rekonstruksi untuk meningkatkan keamanan sekaligus
memperbaiki kualitas geometrik jalan tersebut.
Namun, pelaksanaan proyek tidak
berjalan mulus. Di lapangan, sejumlah pekerjaan utama mengalami keterlambatan,
terutama pada pekerjaan galian tanah, galian batu, dan pembangunan lapis
pondasi agregat. Kondisi medan pegunungan yang ekstrem membuat alat berat
bekerja lebih lambat, sementara curah hujan tinggi serta kerusakan excavator
menyebabkan progres fisik tertinggal jauh dari jadwal kontrak.
Analisis proyek menggunakan
Microsoft Project dan EVM
Rizka Aprilia dan H. Muhammad
Humaidi menganalisis proyek dengan memanfaatkan dokumen anggaran, kurva S,
jadwal pelaksanaan, laporan progres mingguan, serta realisasi biaya proyek.
Nilai kontrak proyek tercatat sebesar Rp23,08 miliar dengan durasi
pelaksanaan 180 hari kalender atau sekitar 19 minggu.
Seluruh data kemudian dimodelkan
menggunakan Microsoft Project untuk memetakan lintasan kritis (critical
path), sementara metode Earned Value Method digunakan untuk
membandingkan nilai pekerjaan yang direncanakan, pekerjaan yang telah
diselesaikan, dan biaya aktual yang dikeluarkan. Pendekatan ini memungkinkan
peneliti mendeteksi penyimpangan jadwal maupun biaya sejak tahap awal proyek.
Keterlambatan mencapai
puncaknya pada pertengahan proyek
Hasil evaluasi memperlihatkan
bahwa kondisi proyek mulai memburuk pada minggu ke-13. Saat itu progres fisik
baru mencapai 60,10 persen, padahal target kumulatif seharusnya 80,71
persen. Artinya, proyek mengalami deviasi negatif sebesar 20,61 persen
terhadap jadwal.
Analisis Earned Value juga
menunjukkan bahwa indeks kinerja waktu (SPI) berada di bawah angka 1
secara konsisten sejak minggu kedua hingga minggu ke-17. Nilai tersebut
menandakan pekerjaan terus berada di belakang jadwal. Sementara itu, indeks
kinerja biaya (CPI) mulai turun di bawah angka 1 pada minggu ke-11 dan
kembali terjadi pada minggu ke-13 hingga ke-17, yang berarti biaya proyek mulai
melebihi nilai pekerjaan yang berhasil diselesaikan.
Puncak pemborosan terjadi pada
minggu ke-17 ketika Cost Variance mencapai sekitar minus Rp1,97
miliar. Peneliti menjelaskan bahwa kondisi tersebut dipicu oleh tingginya
biaya sewa alat berat yang tidak produktif serta upaya percepatan pekerjaan
yang dilakukan tanpa pengaturan jadwal yang optimal.
Penjadwalan ulang memangkas
durasi empat minggu
Untuk mengatasi kondisi tersebut,
tim peneliti menyusun skenario rescheduling menggunakan Microsoft
Project. Strategi yang diterapkan meliputi penambahan dua unit excavator,
penerapan kerja malam pada pekerjaan lintasan kritis, serta perubahan hubungan
antaraktivitas menjadi lebih paralel melalui pendekatan fast tracking.
Hasil simulasi menunjukkan
perubahan yang sangat signifikan. Durasi penyelesaian proyek turun dari 19
minggu menjadi 14 minggu, sehingga target penyelesaian bergeser dari
Januari 2026 menjadi pertengahan November 2025.
Perbaikan tidak hanya terjadi
pada jadwal, tetapi juga pada efisiensi biaya. Setelah penjadwalan ulang
diterapkan, nilai CPI meningkat hingga berada pada kisaran 1,39–3,74,
sedangkan SPI berada di atas atau sama dengan 1. Kondisi tersebut
menunjukkan proyek berjalan lebih hemat sekaligus lebih cepat dibanding target
baru yang telah disusun.
Manfaat bagi proyek
infrastruktur Indonesia
Temuan ini memberikan pelajaran
penting bagi pengelolaan proyek konstruksi di wilayah dengan kondisi geografis
yang sulit. Menurut Rizka Aprilia dan H. Muhammad Humaidi dari Politeknik
Negeri Banjarmasin, integrasi Microsoft Project dengan Earned Value Method
memungkinkan kontraktor, konsultan, dan pemerintah memperoleh gambaran
menyeluruh mengenai kemajuan pekerjaan, penggunaan anggaran, serta potensi
keterlambatan sebelum masalah menjadi lebih besar.
Pendekatan tersebut dinilai mampu
membantu pengambil keputusan dalam menentukan prioritas pekerjaan,
mengoptimalkan penggunaan alat berat, serta menyusun strategi percepatan yang
lebih efektif tanpa mengorbankan efisiensi anggaran.
Peneliti juga merekomendasikan
agar proyek jalan di daerah berbukit menyediakan alat berat cadangan sejak awal
pelaksanaan dan menjadikan pelaporan Earned Value sebagai standar monitoring
bulanan pada proyek pemerintah agar penyimpangan biaya maupun jadwal dapat
dideteksi lebih dini.
Profil Penulis
Rizka Aprilia merupakan
peneliti di Program Studi Teknik Sipil, Politeknik Negeri Banjarmasin,
dengan bidang keahlian manajemen konstruksi, pengendalian biaya, dan
penjadwalan proyek infrastruktur.
H. Muhammad Humaidi adalah
dosen dan peneliti di Politeknik Negeri Banjarmasin yang berfokus pada
teknik sipil, manajemen proyek, serta evaluasi kinerja proyek konstruksi
menggunakan pendekatan Earned Value Method. Ia juga bertindak sebagai penulis
korespondensi dalam penelitian ini.
Sumber Penelitian
Judul Artikel: Cost and
Time Control in Bunglai Road Reconstruction Project Using Microsoft Project
Based on Earned Value Method
Penulis: Rizka Aprilia
& H. Muhammad Humaidi
Afiliasi: Politeknik
Negeri Banjarmasin
Jurnal: International
Journal of Integrative Research (IJIR), Vol. 4, No. 7, 2026, hlm. 577–592
DOI: https://doi.org/10.59890/ijir.v4i7.227

0 Komentar