Semarang — Dukungan suami menjadi faktor paling dominan yang berkaitan dengan keputusan ibu memberikan ASI eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Genuk, Kota Semarang. Temuan tersebut berasal dari penelitian Agustin Nur Hidayah, Nurjanah, dan Enny Rachmani dari Universitas Dian Nuswantoro yang melibatkan 89 ibu dengan bayi berusia 6–12 bulan. Sebanyak 76,4% responden memberikan ASI eksklusif, sementara dukungan suami menjadi faktor dengan pengaruh paling kuat dalam analisis multivariat.
ASI merupakan sumber nutrisi utama bagi bayi selama enam bulan pertama kehidupan. Pemberian ASI eksklusif berarti bayi hanya mendapatkan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman lain selama enam bulan pertama. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan praktik tersebut karena berkaitan dengan penurunan risiko kesakitan dan kematian pada bayi. Namun, cakupan ASI eksklusif di Indonesia masih berada di bawah target nasional sebesar 80%.
Di wilayah kerja Puskesmas Genuk, cakupan ASI eksklusif pada 2022 tercatat sebesar 73,2%. Angka tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat ruang untuk meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif di tingkat masyarakat. Keputusan seorang ibu untuk mempertahankan ASI eksklusif tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi pribadi, tetapi juga oleh dukungan keluarga dan lingkungan pelayanan kesehatan.
Dukungan dari tenaga kesehatan menjadi salah satu faktor yang diperhatikan dalam penelitian ini. Konseling laktasi, pemberian informasi, motivasi, serta pendampingan selama kehamilan dan setelah persalinan dapat membantu ibu memahami manfaat ASI eksklusif dan menghadapi berbagai kendala selama menyusui. Dukungan tersebut dapat diperoleh melalui kunjungan pemeriksaan kehamilan maupun pelayanan setelah melahirkan.
Penelitian Hidayah, Nurjanah, dan Rachmani menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Seluruh populasi yang terdiri dari 89 ibu dengan bayi berusia 6–12 bulan dijadikan responden. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur menggunakan kuesioner dan kemudian dianalisis menggunakan SPSS versi 24. Analisis dilakukan untuk melihat hubungan berbagai faktor dengan keputusan memberikan ASI eksklusif serta menentukan faktor yang paling dominan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68 dari 89 responden atau 76,4% memberikan ASI eksklusif, sedangkan 21 responden atau 23,6% tidak memberikan ASI eksklusif. Temuan tersebut menjadi gambaran praktik ASI eksklusif di wilayah penelitian sekaligus dasar untuk melihat faktor-faktor yang berkaitan dengan keputusan ibu.
Dukungan tenaga kesehatan terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan keputusan memberikan ASI eksklusif. Dari 85 responden yang mendapatkan dukungan baik dari tenaga kesehatan, 64 orang atau 71,9% memberikan ASI eksklusif. Hasil uji statistik menunjukkan nilai p=0,024, yang berarti terdapat hubungan signifikan antara dukungan tenaga kesehatan dan pemberian ASI eksklusif.
Dukungan suami menunjukkan hubungan yang lebih kuat. Sebanyak 81 responden mendapatkan dukungan suami dalam kategori baik. Dari kelompok tersebut, 64 ibu atau 71,9% memberikan ASI eksklusif. Analisis menunjukkan nilai p=0,023 dengan koefisien kontingensi 0,892, yang dikategorikan sebagai hubungan sangat kuat.
Dukungan suami tidak hanya berkaitan dengan pemberian motivasi. Dalam konteks menyusui, dukungan dapat berupa bantuan dalam merawat bayi, membantu pekerjaan rumah tangga, memberikan dukungan emosional, serta menciptakan lingkungan yang nyaman bagi ibu. Bentuk dukungan tersebut dapat membantu ibu mempertahankan kepercayaan diri dan motivasi selama periode menyusui.
Kondisi psikologis ibu juga menunjukkan hubungan dengan keputusan memberikan ASI eksklusif. Penelitian menemukan nilai p=0,045 untuk hubungan tingkat stres dengan pemberian ASI eksklusif, dengan koefisien kontingensi 0,755 yang menunjukkan hubungan kuat. Dari 64 ibu dengan tingkat stres berat, 50 orang atau 56,2% tetap memberikan ASI eksklusif.
Menariknya, beberapa karakteristik ibu yang secara teori diperkirakan dapat memengaruhi pemberian ASI eksklusif ternyata tidak menunjukkan hubungan signifikan dalam penelitian ini. Usia ibu memiliki nilai p=0,911, tingkat pendidikan p=0,333, status pekerjaan p=0,850, dan paritas p=0,935. Artinya, dalam kelompok responden penelitian ini, faktor-faktor tersebut tidak terbukti memiliki hubungan signifikan dengan keputusan memberikan ASI eksklusif.
Analisis multivariat kemudian memperlihatkan tiga faktor yang berpengaruh signifikan, yaitu dukungan tenaga kesehatan, dukungan suami, dan kondisi sosial ekonomi. Dari seluruh faktor yang dianalisis, dukungan suami menjadi faktor paling dominan, dengan nilai Exp(B) sebesar 2,432. Hasil tersebut menunjukkan bahwa ibu yang mendapatkan dukungan baik dari suami memiliki kemungkinan 2,432 kali lebih besar untuk memberikan ASI eksklusif dibandingkan ibu yang mendapatkan dukungan suami lebih rendah.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan ASI eksklusif tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu. Peran suami dapat menjadi bagian penting dalam menciptakan kondisi yang mendukung ibu untuk terus menyusui. Peneliti menekankan bahwa dukungan emosional, motivasi, dan bantuan praktis dari suami dapat membantu meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Peran tenaga kesehatan juga tetap penting. Sebagian besar responden yang memperoleh dukungan baik dari tenaga kesehatan memberikan ASI eksklusif. Edukasi, motivasi, dan pendampingan dari tenaga kesehatan dapat meningkatkan kepercayaan diri ibu serta membantu mereka menghadapi berbagai tantangan selama masa menyusui.
Berdasarkan temuan tersebut, promosi ASI eksklusif perlu melibatkan keluarga, khususnya suami. Peneliti merekomendasikan agar tenaga kesehatan memperkuat edukasi berbasis keluarga dengan melibatkan suami dalam program promosi ASI eksklusif. Suami juga didorong untuk memberikan dukungan emosional dan bantuan praktis selama ibu menyusui.
Penelitian ini memiliki keterbatasan karena dilakukan hanya di wilayah kerja satu puskesmas sehingga hasilnya belum dapat digeneralisasikan ke wilayah lain. Penelitian juga belum memasukkan beberapa faktor lain yang berpotensi memengaruhi keputusan pemberian ASI eksklusif, seperti pengetahuan ibu, dukungan tempat kerja, kebijakan cuti melahirkan, budaya, dan praktik Inisiasi Menyusu Dini (IMD).
Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa dukungan suami merupakan faktor paling dominan dalam keputusan pemberian ASI eksklusif pada responden di wilayah kerja Puskesmas Genuk. Dukungan tenaga kesehatan dan kondisi sosial ekonomi juga memiliki peran penting, sementara usia, pendidikan, pekerjaan, dan jumlah persalinan tidak menunjukkan hubungan signifikan dalam penelitian tersebut. Temuan ini memperkuat pentingnya pendekatan berbasis keluarga dalam upaya meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif.
Penulis
Agustin Nur Hidayah — Universitas Dian Nuswantoro.
Nurjanah — Universitas Dian Nuswantoro.
Enny Rachmani — Universitas Dian Nuswantoro.
Sumber Penelitian
“Multivariate Analysis of Determinant Factors of The Decision to Provide Exclusive Breastfeeding in The Working Area of The Genuk Public Health Center in Semarang City”, East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 8, 2026, halaman 3333–3344.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i8.263
Jurnal: https://journaleajmr.my.id/index.php/eajmr
0 Komentar