Beton Polimer dengan Styrene dan Limbah Industri Mampu Mencapai Kekuatan Tekan 100,91 MPa

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Malang - Beton polimer yang diperkuat dengan Styrene Monomer (SM) dan Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS) mampu mencapai kekuatan tekan hingga 100,91 MPa. Temuan tersebut dilaporkan oleh Wahyu Nursamhuda dari Cipta Wacana Christian University bersama Taufiq Rochman dari State Polytechnic of Malang dalam penelitian eksperimental yang dipublikasikan pada 2026. Hasil ini penting karena menunjukkan peluang penggunaan kombinasi bahan polimer dan produk samping industri baja untuk menghasilkan material konstruksi yang kuat, relatif ringan, dan lebih tahan terhadap rembesan air serta serangan kimia.

Mencari Material Konstruksi yang Lebih Kuat dan Ringan

Kebutuhan terhadap material konstruksi dengan performa tinggi terus meningkat seiring berkembangnya infrastruktur dan sektor industri. Beton konvensional memiliki keunggulan luas dalam konstruksi, tetapi pengembangan material alternatif tetap diperlukan untuk meningkatkan kekuatan, daya tahan, serta kemampuan menghadapi risiko keretakan.

Beton polimer menjadi salah satu alternatif karena menggunakan polimer sintetis sebagai bahan pengikat. Material ini dapat memberikan kekuatan mekanis dan ketahanan kimia yang tinggi, sekaligus memiliki bobot yang lebih rendah dibandingkan beton konvensional.

Dalam penelitian Nursamhuda dan Rochman, perhatian diarahkan pada dua bahan tambahan. Styrene Monomer digunakan sebagai pengencer reaktif yang membantu proses pembentukan jaringan polimer, sedangkan GGBFS berfungsi sebagai bahan mineral yang membantu memadatkan struktur material. GGBFS juga berasal dari produk samping industri baja sehingga penggunaannya membuka peluang pemanfaatan kembali material industri dalam konstruksi.

Menguji 54 Sampel Beton Polimer

Eksperimen dilakukan di Materials Technology and Structure Laboratory, State Polytechnic of Malang. Para peneliti membuat 54 benda uji berbentuk kubus berukuran 5 × 5 × 5 sentimeter. Sampel diuji setelah menjalani proses curing selama 28 hari.
Komposisi Styrene Monomer dibuat dalam tiga tingkat, yaitu 0 persen, 3,75 persen, dan 11,25 persen. Sementara itu, GGBFS digunakan dalam beberapa tingkat hingga 40 persen. Perbedaan komposisi tersebut memungkinkan peneliti membandingkan bagaimana perubahan campuran memengaruhi kekuatan beton polimer.

Setelah berumur 28 hari, setiap benda uji ditekan menggunakan mesin Compressive Testing Machine (CTM) untuk mengetahui kemampuan maksimal material menahan beban. Data kemudian dianalisis secara statistik untuk melihat pengaruh Styrene Monomer, GGBFS, serta kombinasi keduanya terhadap kekuatan tekan.

Kombinasi 11,25 Persen Styrene dan 20 Persen GGBFS Menjadi yang Terbaik

Hasil pengujian menunjukkan bahwa campuran paling optimal terdapat pada Run A2B3, yaitu beton polimer dengan 11,25 persen Styrene Monomer dan 20 persen GGBFS.

Campuran tersebut menghasilkan kekuatan tekan maksimum sebesar 100,91 MPa. Angka ini menjadi performa tertinggi dalam rangkaian pengujian yang dilakukan.

Secara statistik, pengaruh GGBFS, Styrene Monomer, serta interaksi keduanya juga dinyatakan signifikan. Analisis menunjukkan nilai p untuk GGBFS sebesar 6,09 × 10⁻⁸, Styrene Monomer 0,045, dan interaksi SM-GGBFS 0,035. Seluruhnya berada di bawah batas signifikansi 0,05 yang digunakan dalam penelitian.

Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kekuatan bukan sekadar akibat penambahan satu bahan, tetapi juga dipengaruhi oleh kombinasi yang tepat antara Styrene Monomer dan GGBFS.

Mengapa Campuran Ini Lebih Kuat?

Menurut hasil analisis peneliti, Styrene Monomer membantu membentuk jaringan polimer yang lebih rapat. Pada kadar 11,25 persen, bahan tersebut mendukung proses polimerisasi dan memberikan elastisitas pada matriks sehingga beban dapat didistribusikan dengan lebih baik.

Sementara itu, GGBFS membantu mengisi ruang kosong dalam struktur beton. Pada kadar 20 persen, partikel GGBFS berperan dalam memadatkan matriks dan memperkuat hubungan antara bahan pengikat dengan agregat pasir besi. Kombinasi kedua mekanisme tersebut menghasilkan struktur yang lebih padat dan mampu menahan beban lebih besar.

Namun, penambahan GGBFS yang terlalu tinggi justru menimbulkan masalah. Ketika kandungannya melebihi 20 persen, campuran menjadi semakin kental sehingga lebih sulit diaduk dan dicetak. Kondisi tersebut dapat menghambat pemadatan dan menyebabkan udara terperangkap di dalam material, yang pada akhirnya menurunkan kekuatan.

Lebih Ringan dari Beton Konvensional

Selain kekuatan tekan, penelitian ini menunjukkan karakteristik lain yang menarik. Beton polimer hasil modifikasi memiliki berat satuan sekitar 1.541,8–1.958 kg/m³, sedangkan beton standar yang disebutkan dalam artikel berada pada kisaran 2.155–2.560 kg/m³.

Perbedaan tersebut memberikan keuntungan berupa rasio kekuatan terhadap berat yang lebih baik. Material seperti ini berpotensi dipertimbangkan untuk aplikasi infrastruktur tertentu yang membutuhkan material berkekuatan tinggi tetapi tidak terlalu berat.

Para peneliti juga melaporkan bahwa kombinasi Styrene Monomer dan GGBFS dapat mengurangi permeabilitas material. Struktur pori yang lebih terbatas berpotensi mengurangi masuknya air dan paparan bahan kimia ke dalam material.

Peluang Pemanfaatan Produk Samping Industri

Penggunaan GGBFS memberikan dimensi keberlanjutan pada pengembangan material tersebut. Bahan ini merupakan produk samping industri baja yang dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari material konstruksi. Dengan demikian, pemanfaatannya tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan performa beton, tetapi juga untuk mendukung penggunaan kembali material hasil proses industri.

Wahyu Nursamhuda dan Taufiq Rochman merekomendasikan komposisi 11,25 persen Styrene Monomer dan 20 persen GGBFS sebagai kombinasi yang menjanjikan untuk aplikasi struktural yang membutuhkan kekuatan awal dan ketahanan kimia. Mereka juga menekankan perlunya pengendalian proses curing dan pencampuran bahan pada penelitian lanjutan agar panas dari proses polimerisasi serta penggumpalan bahan mineral dapat dikendalikan.

Meski demikian, hasil tersebut masih berasal dari pengujian laboratorium. Karena itu, penerapannya pada proyek konstruksi nyata memerlukan pengujian dan validasi lebih lanjut sesuai kondisi lapangan, desain struktur, serta standar konstruksi yang berlaku.

Profil Peneliti

Wahyu Nursamhuda merupakan penulis utama dan corresponding author artikel. Ia berafiliasi dengan Cipta Wacana Christian University dan meneliti bidang yang berkaitan dengan material konstruksi, beton polimer, serta pengembangan material berbasis polimer dan bahan mineral.

Taufiq Rochman merupakan penulis kedua dan berafiliasi dengan State Polytechnic of Malang. Artikel tersebut menempatkan kedua peneliti dalam kajian mengenai pengembangan dan pengujian material beton polimer berkekuatan tinggi.

Sumber Penelitian

Judul: Analysis of Polymer Concrete Compressive Strength with the Addition of Styrene Monomer and Ground Granulated Blast Furnace Slag (GGBFS)
Penulis: Wahyu Nursamhuda dan Taufiq Rochman
Jurnal: Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR)
Volume: 5, Nomor 8
Tahun: 2026
Halaman: 1561–1572

Posting Komentar

0 Komentar