Cimahi — Beban kerja dan kondisi lingkungan fisik terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja pekerja konstruksi di PT XYZ. Temuan tersebut diperoleh Aqila Azra Nugraha dan Eka Ludiya dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani, melalui penelitian terhadap 32 pekerja konstruksi. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua faktor tersebut secara bersama-sama menjelaskan 94,4 persen variasi kepuasan kerja pekerja. Temuan ini penting bagi perusahaan konstruksi karena pengelolaan beban kerja dan perbaikan fasilitas kerja dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan kenyamanan, produktivitas, dan keberlangsungan tenaga kerja.
Sektor konstruksi memiliki peran penting dalam pembangunan infrastruktur dan penciptaan lapangan kerja di Indonesia. Namun, sektor ini juga menghadapi berbagai tantangan ketenagakerjaan. Artikel tersebut mencatat adanya penurunan jumlah pekerja konstruksi sebanyak sekitar 770.000 orang antara Agustus 2024 dan Februari 2025, disertai peningkatan pemutusan hubungan kerja pada 2025. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan kerja dan berpengaruh terhadap kepuasan pekerja.
Situasi serupa terlihat pada PT XYZ yang mengandalkan pekerja lapangan untuk menjalankan berbagai proyek konstruksi. Data internal perusahaan menunjukkan adanya peningkatan ketidakhadiran tanpa keterangan selama Januari hingga Juni 2025. Dalam periode tersebut, tercatat tujuh kasus ketidakhadiran tanpa keterangan, dengan angka tertinggi terjadi pada Mei sebesar 9,67 persen. Perusahaan juga mencatat pergantian tenaga kerja yang melibatkan 22 pekerja konstruksi dan satu supervisor lapangan. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator yang mendorong perhatian terhadap tingkat kepuasan kerja pekerja.
Beban kerja menjadi salah satu persoalan yang ditemukan di lapangan. Berdasarkan hasil wawancara, pekerja kerap menerima tugas tambahan di luar tanggung jawab utama mereka. Situasi tersebut terjadi antara lain karena keterbatasan jumlah tenaga kerja dan tuntutan penyelesaian proyek. Ketika pembagian pekerjaan tidak seimbang, pekerja dapat merasakan tekanan yang lebih besar dan berpotensi mengalami penurunan kepuasan terhadap pekerjaannya.
Selain jumlah pekerjaan, kondisi fisik tempat kerja juga menjadi perhatian. Hasil observasi menunjukkan bahwa fasilitas di lingkungan kerja PT XYZ belum optimal. Salah satu persoalan yang ditemukan adalah keterbatasan area istirahat yang memadai serta area dapur yang berada di ruang terbuka sehingga rentan terkena debu. Kondisi fisik tempat kerja yang kurang nyaman dapat mengganggu konsentrasi, produktivitas, dan kenyamanan pekerja konstruksi selama menjalankan tugas.
Untuk melihat hubungan antara kedua faktor tersebut dengan kepuasan kerja, Nugraha dan Ludiya melibatkan seluruh 32 pekerja konstruksi PT XYZ sebagai responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, dan dokumentasi. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan sejumlah pengujian statistik dengan bantuan SPSS 27 untuk melihat pengaruh beban kerja dan lingkungan fisik, baik secara sendiri-sendiri maupun secara bersamaan.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa instrumen kuesioner yang digunakan memiliki tingkat validitas dan konsistensi yang memenuhi persyaratan. Pengujian terhadap model analisis juga menunjukkan bahwa data memenuhi asumsi yang diperlukan untuk analisis regresi. Dengan demikian, hasil pengujian hubungan antara beban kerja, lingkungan fisik, dan kepuasan kerja dapat digunakan sebagai dasar untuk menarik kesimpulan penelitian.
Temuan paling kuat terlihat pada pengaruh beban kerja terhadap kepuasan kerja. Hasil uji statistik menunjukkan nilai t sebesar 8,569, lebih tinggi dibandingkan nilai pembanding sebesar 2,045. Artinya, beban kerja memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja dalam model penelitian tersebut. Analisis regresi juga menghasilkan koefisien sebesar 1,349 untuk variabel beban kerja.
Lingkungan fisik tempat kerja juga menunjukkan pengaruh yang signifikan. Nilai t sebesar 2,525 lebih tinggi daripada nilai pembanding 2,045. Temuan tersebut menunjukkan bahwa kondisi fisik tempat kerja memiliki hubungan yang signifikan dengan kepuasan pekerja. Perbaikan pencahayaan, kualitas udara, pengaturan ruang kerja, dan fasilitas pendukung dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi pekerja.
Ketika kedua faktor dianalisis secara bersamaan, pengaruhnya semakin terlihat. Uji simultan menghasilkan nilai F sebesar 243,095, jauh lebih tinggi dibandingkan nilai pembanding 3,33, dengan tingkat signifikansi 0,001. Hasil tersebut menunjukkan bahwa beban kerja dan lingkungan fisik secara bersama-sama memiliki pengaruh signifikan terhadap kepuasan kerja pekerja konstruksi PT XYZ.
Besarnya kontribusi kedua faktor tersebut menjadi temuan penting dalam penelitian. Nilai koefisien determinasi atau R² mencapai 0,944. Artinya, 94,4 persen variasi kepuasan kerja dalam penelitian dapat dijelaskan oleh beban kerja dan lingkungan fisik. Sementara itu, 5,6 persen sisanya berkaitan dengan faktor lain yang tidak masuk dalam model penelitian.
Berdasarkan hasil tersebut, penulis merekomendasikan agar PT XYZ melakukan pembagian tugas secara lebih merata, menyusun jadwal kerja secara efektif, serta memperhatikan kondisi fisik dan psikologis pekerja. Perusahaan juga disarankan meningkatkan kualitas pencahayaan, sirkulasi udara, fasilitas kerja, dan ruang istirahat agar pekerja dapat menjalankan tugas dalam kondisi yang lebih aman dan nyaman. Perbaikan tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan kepuasan kerja, tetapi juga mendukung produktivitas dan loyalitas pekerja.
Temuan ini memberikan gambaran bahwa persoalan kepuasan kerja di sektor konstruksi tidak hanya berkaitan dengan besarnya pekerjaan yang harus diselesaikan. Kondisi tempat kerja juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan perusahaan. Bagi industri konstruksi, pengelolaan tenaga kerja yang lebih seimbang dan penyediaan lingkungan kerja yang layak dapat menjadi investasi penting untuk mempertahankan pekerja sekaligus menjaga kelancaran proyek.
Penelitian ini juga membuka peluang bagi kajian berikutnya untuk memasukkan faktor lain yang dapat memengaruhi kepuasan kerja, seperti motivasi, stres kerja, kompensasi, keseimbangan kehidupan dan pekerjaan, serta perilaku kewargaan organisasi. Penelitian dengan objek dan sektor yang lebih beragam juga dinilai dapat memberikan gambaran yang lebih luas mengenai faktor-faktor yang membentuk kepuasan pekerja.
Penulis
Aqila Azra Nugraha — Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani.
Eka Ludiya — Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Jenderal Achmad Yani.
Sumber Penelitian
“The Influence of Workload and Physical Work Environment on the Job Satisfaction of Construction Workers at PT. XYZ,” East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), Vol. 5, No. 8, 2026, halaman 3277–3286.
DOI: https://doi.org/10.55927/eajmr.v5i8.190
0 Komentar