Usaha Ternak Sapi Potong di Konawe Selatan Beri Laba Hampir Rp14 Juta per Tahun

Created by AI

FORMOSA NEWS - KENDARI,  – Usaha ternak sapi potong skala kecil masih menjadi penopang penting ekonomi rumah tangga pedesaan di Sulawesi Tenggara. Penelitian yang dilakukan Dr. Haji Saediman dari Universitas Halu Oleo, Kendari, menunjukkan bahwa peternak sapi potong di Desa Lambusa, Kecamatan Konda, Kabupaten Konawe Selatan memperoleh pendapatan bersih rata-rata Rp13,97 juta per tahun dari usaha ternak sapi. Meskipun sebagian besar dijalankan sebagai usaha sampingan, kegiatan ini terbukti menguntungkan dengan rasio Revenue Cost (R/C) sebesar 2,28.

Penelitian tersebut dilaksanakan pada tahun 2023 dengan melibatkan 35 peternak yang dipilih dari total 159 rumah tangga peternak sapi di Desa Lambusa. Hasil penelitian memberikan gambaran mengenai seberapa besar kontribusi usaha ternak sapi terhadap kesejahteraan keluarga petani serta peluang peningkatan pendapatan apabila produktivitas ternak dapat ditingkatkan.

Di Indonesia, lebih dari 90 persen produksi sapi potong berasal dari peternak rakyat. Sebagian besar keluarga petani hanya memelihara beberapa ekor sapi sebagai bagian dari sistem usaha tani terpadu bersama budidaya padi, sayuran, maupun komoditas pertanian lainnya. Selain menghasilkan pendapatan, sapi juga dipandang sebagai aset yang dapat dijual sewaktu-waktu ketika keluarga membutuhkan dana untuk pendidikan, biaya kesehatan, atau modal usaha.

Menurut Dr. Haji Saediman, Kabupaten Konawe Selatan merupakan salah satu sentra produksi sapi potong di Provinsi Sulawesi Tenggara. Desa Lambusa dipilih sebagai lokasi penelitian karena memiliki populasi sapi tertinggi di Kecamatan Konda sehingga dianggap mewakili karakteristik peternakan rakyat di wilayah tersebut.

Sistem Pemeliharaan Masih Tradisional

Penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar peternak di Desa Lambusa masih menerapkan sistem pemeliharaan tradisional dengan biaya produksi yang relatif rendah. Mayoritas responden hanya memiliki dua hingga sepuluh ekor sapi, dengan rata-rata kepemilikan sekitar empat hingga lima ekor.

Sebanyak 85,7 persen peternak menggunakan sistem penggembalaan ekstensif. Pada siang hari sapi dilepas di lahan penggembalaan atau padang rumput alami, sedangkan malam hari ditempatkan di kandang sederhana yang berada di sekitar rumah.

Untuk menjaga pertumbuhan ternak, peternak memanfaatkan pakan tambahan seperti ampas tahu, dedak padi, serta mineral, selain rumput alami. Penggunaan bahan pakan lokal tersebut membantu menekan biaya sekaligus memenuhi kebutuhan nutrisi sapi, terutama saat musim kemarau ketika ketersediaan rumput mulai berkurang.

Rata-rata biaya produksi mencapai Rp10,89 juta per peternak setiap tahun. Dari jumlah tersebut, sekitar 94 persen digunakan untuk biaya pakan, menjadikannya komponen pengeluaran terbesar. Sisanya digunakan untuk obat-obatan, layanan kesehatan ternak, serta penyusutan kandang dan peralatan.

Biaya tenaga kerja tidak dihitung secara finansial karena hampir seluruh pekerjaan dilakukan oleh anggota keluarga sendiri. Peternak biasanya merawat sapi di sela-sela aktivitas bertani sehingga usaha ternak tidak memerlukan tenaga kerja khusus.

Pendapatan Mencapai Hampir Rp14 Juta per Tahun

Meskipun skala usahanya kecil, usaha ternak sapi di Desa Lambusa mampu memberikan keuntungan yang cukup baik.

Penelitian mencatat bahwa rata-rata penerimaan peternak mencapai Rp24,86 juta per tahun. Sekitar 79,3 persen pendapatan berasal dari penjualan sapi, sedangkan 20,7 persen berasal dari peningkatan nilai ternak, seperti kelahiran pedet maupun pertambahan bobot sapi yang masih dipelihara.

Setelah dikurangi seluruh biaya produksi, peternak memperoleh pendapatan bersih rata-rata sebesar Rp13.966.900 per tahun.

Analisis finansial juga menunjukkan rasio R/C sebesar 2,28, yang berarti setiap Rp1 biaya produksi menghasilkan Rp2,28 penerimaan. Selain itu, margin keuntungan mencapai sekitar 56 persen, menunjukkan bahwa usaha ternak sapi rakyat tetap layak secara ekonomi meskipun dikelola secara sederhana.

Namun demikian, secara nominal pendapatan tersebut masih tergolong terbatas. Jika dihitung per bulan, peternak hanya memperoleh sekitar Rp1,16 juta, sehingga usaha ternak sapi belum mampu menjadi satu-satunya sumber penghasilan keluarga.

Menyumbang Lebih dari Sepertiga Pendapatan Rumah Tangga

Penelitian juga mengukur kontribusi usaha ternak terhadap total pendapatan keluarga.

Rata-rata pendapatan rumah tangga peternak mencapai Rp39,49 juta per tahun dari seluruh aktivitas ekonomi. Dari jumlah tersebut, usaha ternak sapi menyumbang sekitar 35,4 persen, sedangkan sisanya berasal dari usaha tani padi, hortikultura, perdagangan kecil, serta pekerjaan nonpertanian.

Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa ternak sapi masih berfungsi sebagai sumber pendapatan tambahan, bukan sebagai mata pencaharian utama.

Meski demikian, nilai ekonominya jauh melampaui sekadar angka pendapatan. Banyak peternak menganggap sapi sebagai "tabungan hidup" yang dapat dijual kapan saja ketika keluarga membutuhkan dana dalam jumlah besar, misalnya untuk biaya sekolah anak, pengobatan, atau modal tanam.

Penjualan sapi juga sering dilakukan pada saat harga sedang tinggi, terutama menjelang Hari Raya Iduladha ketika permintaan sapi kurban meningkat.

Peluang Meningkatkan Kesejahteraan Petani

Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha ternak sapi rakyat masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan.

Dr. Haji Saediman merekomendasikan peningkatan kualitas pakan, perbaikan manajemen pemeliharaan, pengembangan program pembibitan, perluasan akses pasar, serta penguatan kelembagaan peternak agar produktivitas dapat meningkat.

Selain itu, dukungan pemerintah melalui penyuluhan, pelatihan, akses pembiayaan, dan pendampingan usaha dinilai penting agar peternak mampu meningkatkan skala usahanya secara bertahap.

Penelitian juga menunjukkan bahwa apabila jumlah ternak dapat ditingkatkan dengan tetap mempertahankan efisiensi biaya, maka pendapatan peternak berpotensi meningkat secara signifikan sehingga usaha sapi dapat menjadi sumber pendapatan utama keluarga.

Namun, beberapa kendala masih harus diatasi, seperti keterbatasan lahan penggembalaan, minimnya modal usaha, serta kecenderungan peternak yang masih berhati-hati dalam memperbesar jumlah ternaknya.

Mendukung Ketahanan Ekonomi Pedesaan

Temuan penelitian ini menegaskan bahwa usaha ternak sapi potong memiliki peran strategis dalam memperkuat ekonomi masyarakat pedesaan.

Selain memberikan tambahan pendapatan, ternak sapi juga meningkatkan ketahanan ekonomi keluarga karena dapat menjadi aset yang mudah dicairkan ketika terjadi kebutuhan mendesak. Dengan meningkatnya produktivitas dan dukungan kebijakan yang tepat, usaha ternak rakyat berpotensi menjadi salah satu pilar penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan daging sapi nasional.

Menurut Dr. Haji Saediman, pengembangan peternakan sapi rakyat tidak hanya akan meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat pembangunan ekonomi pedesaan yang berkelanjutan di berbagai daerah Indonesia.

Profil Penulis

Dr. Haji Saediman merupakan dosen dan peneliti di Universitas Halu Oleo, Kendari. Bidang keahliannya meliputi ekonomi pertanian, agribisnis, pembangunan pedesaan, ekonomi peternakan, analisis pendapatan rumah tangga, dan sistem pertanian berkelanjutan. Ia telah menghasilkan berbagai publikasi ilmiah mengenai pengembangan pertanian dan kesejahteraan masyarakat pedesaan, khususnya di Sulawesi Tenggara.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Income Analysis of Smallholder Beef Cattle Farming in South Konawe District, Southeast Sulawesi

Penulis: Dr. Haji Saediman

Afiliasi: Universitas Halu Oleo, Kendari

Jurnal: International Journal of Applied Science and Research (IJASR), Volume 4, Nomor 7, Tahun 2026

DOI: https://doi.org/10.59890/ijasr.v4i7.281

Website Jurnal: https://nvlmultitechpublisher.my.id/index.php/ijasr/index

Posting Komentar

0 Komentar