Temuan ini menjadi penting karena pekerja transportasi online merupakan salah satu kelompok terbesar dalam ekonomi digital Indonesia. Di tengah meningkatnya jumlah pekerja berbasis platform, perhatian terhadap kesehatan mental menjadi isu yang semakin relevan. Penelitian ini memberikan bukti bahwa kebebasan dalam mengatur pekerjaan tidak hanya meningkatkan kenyamanan bekerja, tetapi juga berkontribusi terhadap kesejahteraan psikologis para pengemudi muda.
Latar belakang penelitian berangkat dari pesatnya perkembangan ekonomi digital yang mendorong munculnya sistem kerja gig atau pekerjaan berbasis platform digital. Indonesia memiliki jumlah Generasi Z yang sangat besar dan banyak di antaranya memilih bekerja melalui aplikasi seperti Gojek, Grab, maupun Maxim. Di sisi lain, status kemitraan yang tidak memberikan kepastian pendapatan maupun perlindungan kerja membuat kelompok ini menghadapi berbagai tantangan psikologis.
Penelitian juga mengutip berbagai laporan yang menunjukkan bahwa Generasi Z merupakan kelompok usia yang paling rentan mengalami kecemasan dan burnout. Meskipun mereka sangat menghargai fleksibilitas kerja, kenyataannya tuntutan algoritma platform dan ketidakpastian pendapatan sering kali membatasi kebebasan tersebut. Kondisi inilah yang mendorong peneliti mengkaji hubungan antara keseimbangan kehidupan kerja, fleksibilitas kerja, dan kesejahteraan psikologis pekerja transportasi online di Jakarta.
Untuk memperoleh gambaran yang akurat, peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional). Sebanyak 180 pengemudi transportasi online Generasi Z yang aktif bekerja di wilayah Jakarta menjadi responden penelitian. Data dikumpulkan melalui kuesioner menggunakan teknik purposive sampling dan snowball sampling, kemudian dianalisis menggunakan metode Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) melalui perangkat lunak SmartPLS.
Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar responden menilai kondisi work-life balance mereka berada pada kategori baik dengan skor 71%. Sementara itu, flexible working arrangement memperoleh skor 69%, juga berada dalam kategori baik. Adapun psychological well-being memperoleh skor 67%, yang dikategorikan cukup baik. Temuan ini mengindikasikan bahwa meskipun para pengemudi relatif mampu mengatur pekerjaan dan kehidupan pribadi, kondisi psikologis mereka masih memiliki ruang untuk ditingkatkan.
Analisis statistik memperlihatkan bahwa kedua faktor tersebut sama-sama berpengaruh positif dan signifikan terhadap kesejahteraan psikologis.
Temuan utama penelitian meliputi:
- Work-life balance berpengaruh positif terhadap kesejahteraan psikologis dengan koefisien 0,417.
- Flexible working arrangement memberikan pengaruh yang lebih besar dengan koefisien 0,468.
- Kedua variabel secara bersama-sama mampu menjelaskan 45,2% variasi kesejahteraan psikologis responden.
- Fleksibilitas kerja menjadi faktor yang paling dominan dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis pekerja transportasi online Generasi Z di Jakarta.
Menurut Ahmad Hafizh Fauzan dan Dian Indiyati dari Telkom University, hasil tersebut menunjukkan bahwa kemampuan pekerja untuk menentukan sendiri jam kerja, memilih wilayah operasional, serta menerima atau menolak pesanan merupakan bentuk kontrol yang sangat penting terhadap kondisi psikologis mereka. Dalam konteks pekerjaan berbasis platform yang tidak memiliki jam kerja tetap, rasa memiliki kendali terhadap pekerjaan ternyata lebih menentukan dibanding hasil akhir berupa keseimbangan kehidupan dan pekerjaan.
Peneliti menjelaskan bahwa fleksibilitas kerja berfungsi sebagai mekanisme langsung dalam mengurangi tekanan psikologis. Ketika pengemudi memiliki keleluasaan menentukan kapan mulai bekerja, kapan beristirahat, serta area operasional yang dipilih, mereka lebih mudah mengelola stres akibat kemacetan, ketidakpastian permintaan, maupun tekanan pendapatan. Sebaliknya, apabila fleksibilitas tersebut dibatasi oleh sistem algoritma atau kebijakan platform, manfaat psikologisnya dapat berkurang.
Hasil penelitian ini memberikan implikasi penting bagi perusahaan penyedia layanan transportasi berbasis aplikasi. Platform digital disarankan tetap mempertahankan otonomi pengemudi dalam menentukan jadwal kerja, memilih tugas, serta lokasi operasional tanpa memberikan penalti yang berlebihan ketika pengemudi menolak pesanan yang dianggap tidak sesuai. Selain itu, perusahaan juga dianjurkan menyediakan layanan dukungan kesehatan mental, seperti konseling rahasia maupun bantuan psikologis melalui aplikasi, mengingat kesejahteraan psikologis menjadi aspek dengan nilai terendah dibanding variabel lainnya.
Bagi para pekerja gig sendiri, penelitian ini menunjukkan bahwa kemampuan mengelola waktu secara mandiri tetap menjadi keterampilan penting. Meskipun tidak memiliki jam kerja tetap, pengemudi yang mampu menetapkan batas antara waktu bekerja dan waktu pribadi cenderung memiliki kondisi psikologis yang lebih baik.
Penelitian ini juga membuka peluang bagi studi lanjutan. Penulis merekomendasikan agar penelitian berikutnya memasukkan faktor lain yang belum dianalisis, seperti sistem algoritma platform, kepastian pendapatan, keamanan kerja, maupun dukungan sosial antarpengemudi. Pendekatan gabungan antara survei kuantitatif dan wawancara mendalam juga dinilai dapat memberikan pemahaman yang lebih lengkap mengenai pengalaman psikologis pekerja gig Generasi Z.
Profil Penulis
Ahmad Hafizh Fauzan merupakan mahasiswa Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Telkom University, dengan fokus penelitian pada manajemen sumber daya manusia, ekonomi digital, dan kesejahteraan pekerja di era gig economy.
Dian Indiyati merupakan dosen Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Telkom University yang memiliki keahlian dalam bidang manajemen sumber daya manusia, perilaku organisasi, employee well-being, serta strategi pengelolaan tenaga kerja di era digital.
0 Komentar