Pengendalian Jalur Kritis Bantu Proyek Sekolah di Kalimantan Tengah Tepat Waktu

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Pembangunan Sekolah Rakyat di Kalimantan Tengah menghadapi tantangan besar akibat kondisi lahan gambut, cuaca ekstrem, keterbatasan akses transportasi, serta pasokan material yang tidak selalu tersedia. Meski demikian, penelitian yang dilakukan Vendy Eka Saputra, Budi Witjaksana, dan Andi Patriadi dari Program Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya menunjukkan bahwa penerapan Critical Path Method (CPM) mampu membantu pengendalian jadwal sehingga target penyelesaian proyek tetap dapat dipertahankan sesuai kontrak. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada Formosa Journal of Science and Technology (FJST) Volume 5 Nomor 7 Tahun 2026 dan menjadi referensi penting bagi pengelolaan proyek konstruksi di wilayah dengan kondisi geografis yang menantang.

Proyek pembangunan Sekolah Rakyat di Kalimantan Tengah merupakan salah satu upaya pemerintah dalam memperluas akses pendidikan. Proyek ini dilaksanakan di beberapa lokasi, yakni Kota Palangka Raya, Kabupaten Katingan, Kotawaringin Timur, dan Gunung Mas. Berbeda dengan proyek konstruksi pada umumnya, lokasi pembangunan memiliki karakteristik lahan gambut yang menyebabkan daya dukung tanah rendah, kandungan air tinggi, serta potensi penurunan tanah yang cukup besar. Kondisi tersebut membuat metode konstruksi harus disesuaikan agar bangunan tetap aman dan dapat berdiri sesuai standar teknis.

Selain kondisi tanah, penelitian ini juga mengungkap berbagai kendala lain yang memengaruhi pelaksanaan proyek. Akses menuju lokasi masih terbatas sehingga mobilisasi alat berat dan distribusi material membutuhkan waktu lebih lama. Curah hujan tinggi selama masa konstruksi turut menghambat pekerjaan tanah, pondasi, serta penggunaan alat berat. Di sisi lain, beberapa material harus didatangkan dari luar daerah karena ketersediaannya di Kalimantan Tengah masih terbatas. Kombinasi berbagai faktor tersebut menyebabkan biaya proyek meningkat sekitar 5,03 persen, dari sekitar Rp985,9 miliar menjadi Rp1,035 triliun, meskipun target waktu penyelesaian tetap harus dipenuhi sesuai kontrak.

Untuk mengetahui bagaimana proyek tetap dapat dikendalikan, Vendy Eka Saputra dan tim menggunakan pendekatan studi kasus dengan analisis deskriptif kuantitatif. Penelitian memanfaatkan dokumen kontrak awal, kontrak addendum, jadwal pelaksanaan, laporan perkembangan pekerjaan, serta berbagai dokumen proyek lainnya. Seluruh aktivitas dianalisis menggunakan Critical Path Method (CPM), yaitu metode yang digunakan untuk mengidentifikasi rangkaian pekerjaan paling penting yang secara langsung menentukan lama penyelesaian proyek. Dengan mengetahui aktivitas yang berada pada jalur kritis, pengelola proyek dapat memprioritaskan pengawasan dan pengambilan keputusan ketika terjadi hambatan di lapangan.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kondisi lapangan menyebabkan sejumlah perubahan desain konstruksi yang sebelumnya tidak diperkirakan pada tahap perencanaan. Perbedaan antara Detailed Engineering Design (DED) dengan kondisi nyata lahan gambut mengharuskan adanya pekerjaan tambahan, seperti perbaikan tanah, pemasangan hamparan kayu galam, pemasangan geotekstil, hingga perubahan sistem lantai menjadi struktur menggantung (suspended slab). Seluruh pekerjaan tambahan tersebut berada pada jalur kritis proyek sehingga setiap keterlambatan akan langsung memengaruhi waktu penyelesaian keseluruhan proyek.

Penelitian juga mencatat bahwa proses pembangunan di Kabupaten Katingan memerlukan berbagai penyesuaian teknis. Pembukaan lahan membutuhkan waktu sekitar 25 hari, sementara pekerjaan timbunan tanah memerlukan sekitar 68 hari karena volume material yang besar dan proses pengiriman bertahap. Kondisi lahan gambut juga membuat pekerjaan pemancangan pondasi berlangsung jauh lebih lama dibandingkan rencana awal, bahkan meningkat dari sekitar 74 hari menjadi 157 hari akibat perlunya perbaikan tanah dan penyiapan area kerja. Selain itu, perubahan desain struktur bangunan, penambahan geotekstil, pemasangan kayu galam, perubahan kedalaman tiang pancang, hingga penggantian material atap turut memberikan tambahan waktu pelaksanaan pada beberapa tahapan pekerjaan.

Meskipun menghadapi berbagai tantangan tersebut, analisis CPM membantu tim proyek mengenali pekerjaan yang harus diprioritaskan sehingga sumber daya dapat dialokasikan secara lebih efektif. Penelitian menegaskan bahwa pengendalian aktivitas pada jalur kritis memungkinkan proyek tetap bergerak sesuai target meskipun terjadi perubahan metode kerja maupun penyesuaian desain di lapangan. Menurut Vendy Eka Saputra dan rekan-rekannya, keberhasilan proyek tidak hanya ditentukan oleh kualitas pekerjaan konstruksi, tetapi juga oleh kemampuan mengelola waktu secara terintegrasi sejak tahap awal hingga proyek selesai.

Temuan ini memiliki arti penting bagi dunia konstruksi di Indonesia, terutama untuk pembangunan infrastruktur pada wilayah yang memiliki karakteristik geografis kompleks seperti lahan gambut. Perencanaan yang matang harus disertai investigasi tanah yang lebih mendalam agar desain awal benar-benar sesuai dengan kondisi lapangan. Selain itu, identifikasi jalur kritis sejak awal dapat membantu pemerintah, konsultan pengawas, maupun kontraktor mengurangi risiko keterlambatan, mengoptimalkan penggunaan sumber daya, serta mengendalikan biaya proyek ketika menghadapi kondisi tak terduga.

Bagi sektor pendidikan, penelitian ini juga menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan fasilitas sekolah tidak hanya bergantung pada besarnya anggaran, tetapi juga pada kualitas manajemen proyek. Dengan pengendalian jadwal yang baik, pembangunan sekolah dapat selesai tepat waktu sehingga manfaatnya lebih cepat dirasakan oleh masyarakat. Pendekatan ini juga dapat diterapkan pada pembangunan rumah sakit, gedung pemerintahan, maupun proyek infrastruktur lain yang berada di wilayah dengan tantangan lingkungan serupa.

Profil Penulis

Vendy Eka Saputra merupakan mahasiswa Program Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan fokus kajian pada manajemen proyek konstruksi dan pengendalian waktu pelaksanaan proyek. Penelitian ini dilakukan bersama Prof. Dr. Ir. Budi Witjaksana dan Andi Patriadi dari institusi yang sama, yang memiliki keahlian di bidang teknik sipil, manajemen konstruksi, serta pengendalian biaya dan jadwal proyek.

Sumber Penelitian

Saputra, V., Witjaksana, B., & Patriadi, A. (2026). Examination of Time Management Techniques Derived From Critical Path Method (CPM) Findings to Meet the Completion Goal For the Construction Project of the Central Kalimantan Public School. Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 7, 2026. DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i7.118.  URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst

Posting Komentar

0 Komentar