Laporan keuangan merupakan sumber informasi utama yang digunakan investor, kreditur, regulator, dan publik untuk menilai kondisi sebuah perusahaan. Karena itu, keakuratan laporan keuangan menjadi fondasi penting dalam menjaga kepercayaan pasar. Namun, berbagai kasus manipulasi laporan keuangan masih terus terjadi, termasuk di Indonesia, akibat tekanan untuk mempertahankan kinerja perusahaan, memperoleh bonus manajemen, maupun menjaga citra perusahaan di mata investor.
Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang mendorong terjadinya kecurangan laporan keuangan menggunakan pendekatan Fraud Pentagon, yaitu sebuah model yang menjelaskan bahwa kecurangan dipengaruhi oleh lima unsur utama, yaitu tekanan (pressure), kesempatan (opportunity), rasionalisasi (rationalization), kompetensi (competence), dan arogansi (arrogance). Selain itu, penelitian juga menilai apakah penerapan Good Corporate Governance (GCG) mampu menjadi mekanisme pengendali yang mengurangi risiko tersebut.
Untuk memperoleh hasil yang akurat, peneliti menganalisis laporan keuangan dan laporan tahunan dari 11 perusahaan sektor kesehatan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama tiga tahun, yaitu 2022 hingga 2024. Total terdapat 33 observasi yang dianalisis menggunakan metode regresi linier berganda dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 25. Potensi kecurangan laporan keuangan diukur menggunakan Beneish M-Score, salah satu metode yang banyak digunakan untuk mendeteksi indikasi manipulasi laporan keuangan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat dari lima unsur Fraud Pentagon terbukti berpengaruh signifikan terhadap kemungkinan terjadinya kecurangan laporan keuangan.
Faktor-faktor tersebut meliputi:
- Tekanan (Financial Stability) berpengaruh positif terhadap potensi manipulasi laporan keuangan. Ketika kondisi keuangan perusahaan mengalami tekanan atau pertumbuhan aset tidak stabil, manajemen cenderung terdorong untuk mempercantik laporan keuangan agar tetap terlihat sehat di mata investor.
- Kesempatan (Effective Monitoring) juga berpengaruh signifikan. Lemahnya pengawasan dari dewan komisaris independen membuka peluang lebih besar bagi manajemen untuk melakukan manipulasi laporan keuangan.
- Rasionalisasi (Pergantian Auditor) terbukti meningkatkan risiko kecurangan. Pergantian auditor dapat dimanfaatkan sebagai kesempatan memperoleh auditor yang lebih mudah menerima kebijakan akuntansi perusahaan.
- Kompetensi (Pergantian Direksi) juga meningkatkan peluang terjadinya manipulasi karena masa transisi kepemimpinan sering diikuti perubahan kebijakan dan pengendalian internal.
Sebaliknya, unsur arogansi, yang dalam penelitian ini diukur melalui frekuensi kemunculan foto CEO dalam laporan tahunan perusahaan, tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap praktik kecurangan laporan keuangan. Peneliti menilai indikator tersebut belum mampu menggambarkan sifat narsistik atau arogansi pimpinan perusahaan secara menyeluruh.
Temuan paling penting dalam penelitian ini adalah besarnya pengaruh Good Corporate Governance dalam mencegah kecurangan laporan keuangan. Semakin baik penerapan prinsip transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, dan kewajaran di dalam perusahaan, semakin kecil kemungkinan terjadinya manipulasi laporan keuangan.
Model penelitian ini mampu menjelaskan sekitar 77,4 persen variasi terjadinya kecurangan laporan keuangan. Angka tersebut menunjukkan bahwa kombinasi unsur Fraud Pentagon dan kualitas tata kelola perusahaan memiliki kemampuan yang sangat kuat dalam memprediksi risiko manipulasi laporan keuangan pada perusahaan sektor kesehatan.
Menurut Suryati dan Ferry Adang dari Universitas Tarumanagara, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa tata kelola perusahaan bukan sekadar memenuhi kewajiban regulasi, melainkan menjadi sistem pengendalian yang efektif untuk memperkuat transparansi, meningkatkan akuntabilitas, serta membatasi peluang terjadinya manipulasi laporan keuangan.
Temuan ini memiliki implikasi yang luas. Bagi regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hasil penelitian dapat menjadi dasar untuk memperkuat ketentuan mengenai proporsi komisaris independen, meningkatkan kompetensi komite audit, serta memperketat pengawasan terhadap pergantian auditor. Sementara bagi perusahaan, penelitian ini menunjukkan pentingnya membangun budaya tata kelola yang baik, memperkuat sistem pengendalian internal, serta mengembangkan mekanisme pelaporan pelanggaran (whistleblowing system) sebagai langkah pencegahan dini terhadap praktik kecurangan.
Bagi investor, hasil penelitian ini dapat menjadi referensi tambahan dalam menilai kualitas perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi. Perusahaan dengan penerapan tata kelola yang kuat cenderung memiliki risiko manipulasi laporan keuangan yang lebih rendah sehingga memberikan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi.
Peneliti juga menyarankan agar penelitian selanjutnya menggunakan indikator yang lebih komprehensif untuk mengukur unsur arogansi pimpinan perusahaan, misalnya melalui analisis komunikasi CEO dalam laporan tahunan, tingkat kompensasi eksekutif, atau pendekatan berbasis kecerdasan buatan. Selain itu, penelitian di sektor industri lain juga diperlukan agar hasilnya dapat dibandingkan dengan karakteristik masing-masing sektor usaha.
Profil Penulis
Suryati merupakan peneliti dari Universitas Tarumanagara, yang memiliki minat penelitian pada bidang akuntansi keuangan, tata kelola perusahaan, dan pendeteksian kecurangan laporan keuangan.
Ferry Adang, merupakan akademisi di Universitas Tarumanagara dengan keahlian di bidang akuntansi, audit, tata kelola perusahaan, serta forensic accounting. Dalam penelitian ini, ia berperan sebagai pembimbing sekaligus penulis pendamping.
Sumber Penelitian
Judul: Analysis Fraud Pentagon Against Financial Statement Fraud with Corporate Governance as A Control Mechanism
Penulis: Suryati, Ferry Adang
Jurnal: International Journal of Economic, Finance and Business Statistics (IJEFBS), Volume 4, Nomor 3, Tahun 2026.
DOI: https://doi.org/10.59890/ijefbs.v4i3.12
URL: http://journalijefbs.my.id/index.php/ijefbs
0 Komentar