Studi Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya: Tambah Armada Bus Madiun–Ponorogo Dinilai Layak Secara Finansial

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Surabaya - Layanan bus antarkota dalam provinsi (AKDP) rute Madiun–Ponorogo masih menghadapi tantangan operasional berupa waktu tunggu yang panjang dan tingkat keterisian penumpang yang rendah. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa peningkatan kualitas layanan melalui penambahan armada tetap layak dilakukan secara finansial dan berpotensi memperkuat daya saing transportasi umum di tengah dominasi kendaraan pribadi.

Temuan tersebut dipublikasikan oleh Irma Kamaliah, Budi Witjaksana, dan Hanie Teki Tjendani dari Program Studi Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dalam Formosa Journal of Science and Technology edisi Juni 2026.

Penelitian ini menjadi relevan karena koridor Madiun–Ponorogo merupakan jalur penting mobilitas masyarakat di Jawa Timur, terutama bagi pelajar, pekerja, dan warga yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Di sisi lain, perubahan pola perjalanan masyarakat serta meningkatnya pilihan transportasi membuat angkutan umum menghadapi tekanan untuk meningkatkan kualitas pelayanan.

Menurut tim peneliti, keberadaan Terminal Tipe A Purboyo di Kota Madiun menjadikan wilayah tersebut sebagai salah satu simpul transportasi penting di jalur selatan Pulau Jawa. Namun, kondisi operasional bus AKDP saat ini belum sepenuhnya mampu memenuhi ekspektasi pengguna.

Data operasional menunjukkan tingkat keterisian penumpang atau load factor hanya sekitar 24 persen per keberangkatan. Angka ini masih jauh di bawah standar minimal 70 persen yang digunakan sebagai acuan layanan angkutan umum.

Selain rendahnya okupansi, masyarakat juga menghadapi waktu tunggu yang relatif lama dan keteraturan keberangkatan yang belum optimal.

Untuk memahami kondisi tersebut secara lebih mendalam, para peneliti melakukan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan menggabungkan data lapangan dan data operasional resmi.

Data sekunder diperoleh dari Terminal Tipe A Purboyo, mencakup jumlah armada, frekuensi perjalanan, jadwal keberangkatan, tingkat keterisian, serta produksi penumpang. Sementara itu, data primer dikumpulkan melalui wawancara penumpang, inventarisasi fasilitas, survei statis di terminal, dan survei dinamis dengan mengikuti perjalanan bus secara langsung.

Sebanyak 87 responden dipilih secara acak dari populasi 650 pengguna bus untuk memberikan gambaran pengalaman dan kepuasan pengguna layanan.

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa performa operasional bus sebenarnya cukup baik pada jam-jam tertentu. Frekuensi tertinggi tercatat pada pukul 09.00–10.00 dengan interval keberangkatan relatif singkat.

Namun secara umum masih ditemukan headway atau jarak waktu antarbus hingga 60 menit. Kondisi ini menyebabkan penumpang harus menunggu lebih lama dan menurunkan kenyamanan perjalanan.

Dari sisi pemanfaatan kapasitas, tingkat keterisian tertinggi hanya mencapai 20 persen saat kedatangan dan 28 persen saat keberangkatan. Angka tersebut memperlihatkan bahwa kapasitas armada belum dimanfaatkan secara optimal.

Peneliti kemudian memetakan aspek pelayanan yang paling membutuhkan perbaikan melalui analisis kepentingan dan kepuasan pengguna.

Delapan aspek muncul sebagai prioritas utama:

  • perlengkapan keselamatan di dalam bus,
  • kualitas fasilitas utama seperti kursi dan rak bagasi,
  • kecepatan perjalanan,
  • ketersediaan sabuk pengaman,
  • sistem pendingin udara,
  • informasi layanan,
  • waktu tunggu,
  • kepastian jadwal keberangkatan.

Untuk menjawab persoalan tersebut, tim peneliti menguji skenario penambahan armada.

Perhitungan menunjukkan kebutuhan ideal layanan berada pada 10 unit armada, sementara jumlah armada aktif saat ini hanya delapan unit. Dengan demikian, diperlukan tambahan dua armada agar interval layanan dapat dipangkas menjadi sekitar 20 menit.

Selanjutnya dilakukan analisis kelayakan investasi menggunakan empat indikator keuangan: Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PP), dan Break Even Point (BEP).

Hasilnya menunjukkan investasi penambahan armada tergolong layak.

Nilai NPV tercatat sebesar Rp534,95 juta atau bernilai positif, yang menunjukkan manfaat finansial lebih besar dibanding biaya investasi. Tingkat IRR mencapai 8,27 persen, melampaui asumsi tingkat bunga sebesar 6 persen.

Modal investasi diperkirakan kembali dalam waktu lima tahun dengan akumulasi manfaat bersih mencapai Rp578,13 juta.

Sementara itu, titik impas operasional diproyeksikan tercapai pada 14.249 penumpang atau pendapatan sebesar Rp284,97 juta, yang dinilai telah melampaui batas minimum kelayakan.

Biaya operasional kendaraan tambahan diperkirakan mencapai Rp180,68 juta per tahun untuk setiap armada dengan kapasitas 25 penumpang.

Menurut para peneliti, hasil tersebut memperlihatkan bahwa perbaikan kualitas layanan tidak selalu bertentangan dengan aspek ekonomi operator.

Irma Kamaliah dan tim menilai peningkatan layanan publik justru dapat menjadi strategi untuk menarik kembali minat masyarakat menggunakan transportasi umum, mengurangi ketergantungan terhadap kendaraan pribadi, serta memperkuat efisiensi sistem transportasi regional.

Jika direalisasikan, penambahan armada tidak hanya berpotensi mempersingkat waktu tunggu penumpang, tetapi juga dapat meningkatkan persepsi kenyamanan, kepastian jadwal, dan daya tarik bus sebagai moda perjalanan antarkota.

Profil Penulis

Irma Kamaliah — Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Prof. Budi Witjaksana — Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Hanie Teki Tjendani — Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Sumber Penelitian
Kamaliah, I., Witjaksana, B., & Tjendani, H. (2026). Analysis of Operational Performance and Investment Costs of AKDP Bus Services (Madiun–Ponorogo Route) Using Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period (PP), and Break Event Point (BEP) Methods). Formosa Journal of Science and Technology, Vol. 5 No. 6 (2026). DOI: https://doi.org/10.55927/fjst.v5i6.92

Posting Komentar

0 Komentar