Perkembangan pemasaran digital mengubah cara konsumen mengenal dan mengingat sebuah merek. Temuan terbaru dari Safira Kamilia Fathimatuzzahra, Dina Lusianti, dan Faridhatun Faidah dari Universitas Muria Kudus (UMK) menunjukkan bahwa electronic word of mouth (e-WOM), social media marketing, influencer marketing, dan content marketing secara bersama-sama mampu meningkatkan brand awareness produk Wardah Skincare. Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 dalam International Journal of Integrative Sciences (IJIS) ini mengungkap bahwa ulasan konsumen di platform digital menjadi faktor paling berpengaruh dalam membangun kesadaran merek dibandingkan strategi pemasaran digital lainnya.
Temuan tersebut hadir di tengah pesatnya pertumbuhan industri kecantikan Indonesia yang semakin kompetitif. Masyarakat kini tidak lagi hanya mengenal produk melalui iklan televisi atau media cetak. Sebelum membeli produk skincare, konsumen lebih sering mencari ulasan pengguna, menonton konten media sosial, mengikuti rekomendasi influencer, hingga membaca pengalaman konsumen lain di marketplace. Kondisi ini membuat strategi pemasaran digital menjadi salah satu penentu keberhasilan sebuah merek dalam memenangkan persaingan.
Data industri menunjukkan bahwa pengeluaran masyarakat Indonesia untuk produk kosmetik terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan tersebut membuka peluang besar bagi berbagai merek skincare, termasuk Wardah yang dikenal sebagai salah satu pelopor kosmetik halal di Indonesia. Namun, meningkatnya jumlah kompetitor juga membuat perusahaan harus terus menjaga agar produknya tetap mudah dikenali dan diingat oleh konsumen.
Peneliti dari Universitas Muria Kudus menjelaskan bahwa membangun brand awareness tidak cukup hanya melalui promosi produk. Konsumen modern lebih percaya pada pengalaman nyata pengguna lain, konten edukatif, interaksi media sosial, serta rekomendasi dari figur publik yang dianggap kredibel. Oleh karena itu, perusahaan perlu menggabungkan berbagai strategi digital agar komunikasi merek menjadi lebih efektif.
Dalam penelitian ini, tim peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 166 responden yang merupakan pengguna produk Wardah Sun Care di Kabupaten Kudus. Seluruh responden berusia minimal 17 tahun, pernah membeli produk Wardah dalam enam bulan terakhir, serta mengetahui aktivitas pemasaran digital Wardah melalui media sosial, influencer, maupun ulasan daring. Data dikumpulkan melalui kuesioner online dan dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS versi 26 untuk mengetahui pengaruh masing-masing strategi pemasaran terhadap brand awareness.
Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh variabel pemasaran digital memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap tingkat kesadaran merek Wardah.
Temuan utama penelitian meliputi:
- Electronic Word of Mouth (e-WOM) menjadi faktor yang paling kuat memengaruhi brand awareness dengan koefisien regresi 0,300.
- Social Media Marketing menempati posisi kedua dengan koefisien 0,287.
- Influencer Marketing memberikan pengaruh positif dengan koefisien 0,195.
- Content Marketing juga berkontribusi meningkatkan brand awareness dengan koefisien 0,136.
- Keempat variabel tersebut secara bersama-sama mampu menjelaskan 65,5% variasi brand awareness Wardah Skincare, sedangkan 34,5% lainnya dipengaruhi faktor lain di luar penelitian.
Temuan ini memperlihatkan bahwa ulasan konsumen di internet memiliki pengaruh paling besar terhadap cara masyarakat mengenali sebuah merek. Review positif, pengalaman penggunaan, rekomendasi di media sosial, hingga penilaian produk di marketplace terbukti lebih dipercaya dibandingkan pesan promosi yang disampaikan langsung oleh perusahaan.
Selain itu, media sosial juga memainkan peran yang sangat penting. Konten edukatif mengenai manfaat produk, tutorial penggunaan skincare, interaksi dengan pengikut, serta kampanye digital yang konsisten membuat konsumen semakin akrab dengan merek Wardah. Semakin sering konsumen melihat dan berinteraksi dengan konten tersebut, semakin tinggi pula kemungkinan mereka mengingat merek ketika akan membeli produk perawatan kulit.
Influencer marketing juga terbukti memberikan dampak positif. Konsumen cenderung lebih mudah mengenali produk ketika rekomendasi berasal dari influencer yang dianggap memiliki kredibilitas, pengalaman, dan karakter yang sesuai dengan target pasar. Sementara itu, content marketing membantu memperkuat pemahaman konsumen melalui informasi yang relevan, edukatif, dan mudah dipahami sehingga meningkatkan daya ingat terhadap merek.
Menurut Safira Kamilia Fathimatuzzahra, Dina Lusianti, dan Faridhatun Faidah dari Universitas Muria Kudus, hasil penelitian ini memperkuat Stimulus–Organism–Response (S-O-R) Theory, yaitu teori yang menjelaskan bahwa berbagai aktivitas pemasaran digital bertindak sebagai rangsangan yang diproses oleh konsumen sebelum menghasilkan respons berupa meningkatnya kesadaran terhadap suatu merek. Dengan kata lain, semakin baik kualitas komunikasi digital yang diterima konsumen, semakin tinggi pula peluang sebuah merek untuk diingat dan dikenali.
Hasil penelitian ini memberikan manfaat praktis bagi pelaku industri kecantikan maupun bisnis digital secara umum. Perusahaan tidak cukup hanya mengandalkan promosi melalui influencer. Mereka juga perlu membangun konten edukatif yang berkualitas, memperkuat interaksi melalui media sosial, serta mendorong konsumen membagikan pengalaman positif setelah menggunakan produk. Strategi tersebut dapat meningkatkan kepercayaan publik sekaligus memperkuat posisi merek di tengah persaingan pasar yang semakin ketat.
Bagi konsumen, penelitian ini memberikan pemahaman bahwa keputusan mengenal dan memilih suatu produk sering kali dipengaruhi oleh berbagai informasi yang diperoleh melalui media digital. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan dapat lebih kritis dalam menyaring informasi dan memanfaatkan ulasan dari berbagai sumber sebelum mengambil keputusan pembelian.
Peneliti juga merekomendasikan agar penelitian selanjutnya melibatkan wilayah yang lebih luas serta menambahkan variabel lain seperti kualitas produk, kualitas layanan, customer engagement, dan brand exposure agar dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi brand awareness di era digital.
Profil Penulis
Safira Kamilia Fathimatuzzahra merupakan peneliti dari Program Studi Manajemen, Universitas Muria Kudus (UMK) yang memiliki fokus kajian pada manajemen pemasaran, perilaku konsumen, dan pemasaran digital.
Dina Lusianti merupakan dosen dan peneliti di Program Studi Manajemen, Universitas Muria Kudus (UMK) dengan bidang keahlian manajemen pemasaran, digital marketing, branding, dan perilaku konsumen.
Faridhatun Faidah merupakan akademisi di Program Studi Manajemen, Universitas Muria Kudus (UMK) yang menekuni bidang strategi bisnis, manajemen pemasaran, dan pemasaran digital.
Sumber Penelitian
Jurnal: International Journal of Integrative Sciences (IJIS)
Volume: 5, Nomor 6
Tahun Publikasi: 2026
DOI: https://doi.org/10.55927/ijis.v5i6.39
URL Jurnal: https://journalijis.my.id/index.php/ijis/index
0 Komentar