Hasil penelitian ini menjadi penting karena genetika bukan lagi sekadar materi pelajaran biologi. Pemahaman genetika kini berperan dalam literasi sains masyarakat, mulai dari pengambilan keputusan terkait kesehatan, teknologi hayati, hingga pemahaman terhadap perkembangan ilmu kedokteran modern.
Dalam pendidikan menengah, genetika dikenal sebagai salah satu topik yang paling sulit dipahami. Berbeda dengan konsep yang dapat diamati langsung, proses genetika berlangsung pada tingkat molekuler dan tidak terlihat secara kasat mata. Akibatnya, siswa sering membangun pemahaman yang tidak sepenuhnya sesuai dengan konsep ilmiah.
Penelitian Delgra dan Domingo mencoba memetakan seberapa jauh siswa memahami konsep tersebut dan bagian mana yang paling sering menimbulkan kesalahan pemahaman.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih akurat, tim peneliti melibatkan 152 siswa kelas 12 program STEM dari total populasi 332 siswa sekolah menengah atas. Pemilihan peserta dilakukan secara acak.
Para siswa mengikuti instrumen pengukuran yang dikembangkan khusus untuk penelitian ini, yaitu Genetics Conceptual Understanding and Misconception Test (GCUMT). Selain menjawab soal pilihan ganda, siswa juga diminta menunjukkan tingkat keyakinan terhadap jawaban mereka melalui metode Certainty of Response Index (CRI). Pendekatan ini membantu membedakan apakah jawaban salah terjadi karena tidak tahu atau karena siswa benar-benar meyakini konsep yang keliru.
Hasilnya menunjukkan bahwa secara umum siswa telah memahami materi genetika dengan cukup baik.
Rata-rata tingkat pemahaman konseptual mencapai 80,72 persen, yang dikategorikan sebagai memahami konsep.
Beberapa temuan utama penelitian meliputi:
Angka tersebut menunjukkan bahwa siswa relatif mudah memahami pola pewarisan sifat yang dapat divisualisasikan melalui contoh sehari-hari, tetapi lebih sulit ketika harus memahami mekanisme molekuler yang kompleks.
Penelitian juga menemukan bahwa tidak semua jawaban salah disebabkan oleh kurangnya pengetahuan.
Melalui analisis tingkat keyakinan siswa, peneliti menemukan adanya miskonsepsi yang cukup kuat. Artinya, sebagian siswa menjawab salah tetapi sangat yakin bahwa jawaban mereka benar.
Beberapa bentuk miskonsepsi yang paling sering ditemukan meliputi:
- Kesalahpahaman tentang hubungan antara DNA, gen, kromosom, dan protein.
- Anggapan yang keliru mengenai mekanisme dominan dan resesif pada pewarisan sifat.
- Kebingungan dalam memahami proses replikasi DNA.
- Kesalahan memahami bagaimana sintesis protein berlangsung.
- Interpretasi yang kurang tepat terhadap proses rekayasa genetika.
Menurut Delgra dan Domingo, kondisi ini menunjukkan bahwa siswa sering kali memiliki pengetahuan yang terpisah-pisah dan belum mampu menghubungkan konsep genetika menjadi satu sistem ilmiah yang utuh.
Temuan tersebut mendorong peneliti untuk mengembangkan sebuah bahan ajar pendamping bernama Genetics Misconception Remediation Worksheet (GMRW).
Lembar kerja ini dirancang bukan untuk mengulang materi secara biasa, melainkan secara khusus memperbaiki konsep yang sering disalahpahami siswa.
Pendekatan yang digunakan antara lain:
- latihan terarah menggunakan diagram dan simulasi;
- pemetaan konsep untuk menghubungkan ide genetika;
- aktivitas visual mengenai struktur DNA dan hubungan antar komponen biologis;
- latihan mengurutkan proses replikasi DNA dan sintesis protein;
- studi kasus sederhana mengenai penerapan rekayasa genetika.
Target akhirnya adalah membantu siswa membangun ulang pemahaman ilmiah yang lebih akurat melalui pengalaman belajar yang lebih aktif.
Peneliti menilai pendekatan remediasi seperti ini penting karena miskonsepsi yang tidak diperbaiki dapat bertahan hingga jenjang pendidikan lebih tinggi dan memengaruhi kemampuan siswa memahami isu kesehatan, bioteknologi, maupun perkembangan sains modern.
Implikasi penelitian ini juga melampaui ruang kelas. Sekolah dapat mulai mempertimbangkan penggunaan materi pembelajaran yang lebih visual dan berbasis aktivitas, sementara guru dapat mengintegrasikan diskusi terbimbing, simulasi, dan pemetaan konsep ke dalam pembelajaran genetika.
Penelitian ini sekaligus mengingatkan bahwa keberhasilan belajar tidak cukup diukur dari jawaban benar, tetapi juga dari apakah siswa benar-benar memahami alasan ilmiah di balik jawaban tersebut.
Profil Penulis
Lorely F. Delgra — Peneliti dan pendidik dari Emilio Aguinaldo College Manila–High School serta mahasiswa pascasarjana di Emilio Aguinaldo College, Manila. Fokus kajian meliputi pendidikan sains dan pengembangan pemahaman konsep biologi.
Jonas Feliciano C. Domingo — Akademisi yang berafiliasi dengan Graduate School Emilio Aguinaldo College, College of General Education and Liberal Arts Arellano University, serta Curriculum Implementation Division, Schools Division Office of San Juan City. Bidang keahlian meliputi pendidikan, pengembangan kurikulum, dan pembelajaran sains.
0 Komentar