Temuan tersebut dipublikasikan pada 2026 melalui studi yang dilakukan oleh Putri Dwi Rahayu, Budi Witjaksana, dan Dika Ayu Safitri. Penelitian berfokus pada proyek pembangunan restoran Mie Gacoan Sorong–Nangka di Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya. Hasilnya menunjukkan penghematan biaya mencapai Rp12,66 juta atau setara 21,81 persen dari anggaran material granit yang dianalisis.
Temuan ini menjadi relevan karena proyek konstruksi di kawasan Indonesia Timur selama ini menghadapi indeks kemahalan konstruksi yang relatif tinggi akibat faktor logistik dan keterbatasan distribusi material.
Restoran yang menjadi objek penelitian merupakan bangunan komersial satu lantai dengan luas sekitar 509,4 meter persegi dan kapasitas 180 kursi. Total anggaran pekerjaan arsitektur mencapai Rp849,7 juta. Dari angka tersebut, pekerjaan finishing lantai, dinding, dan plafon menyerap sekitar Rp633 juta atau hampir tiga perempat dari total biaya arsitektural.
Peneliti menemukan bahwa sebagian besar pembengkakan biaya berasal dari penggunaan granit premium pada area tertentu.
Alih-alih memangkas kualitas secara langsung, tim menggunakan pendekatan value engineering atau rekayasa nilai. Metode ini bekerja dengan cara sederhana: setiap material dievaluasi berdasarkan fungsi utamanya terlebih dahulu, lalu dicari alternatif yang mampu memberikan hasil serupa dengan biaya yang lebih efisien.
Dalam praktiknya, peneliti menghitung rasio Cost-to-Worth (C/W), yaitu perbandingan antara biaya aktual material dengan nilai minimum yang dibutuhkan untuk menjalankan fungsi yang sama. Material dengan rasio di atas 1,00 dianggap memiliki biaya tambahan yang tidak sepenuhnya berkontribusi pada kinerja.
Dari enam jenis granit yang dianalisis, seluruhnya memiliki rasio C/W antara 1,24 hingga 1,50.
Material dengan rasio tertinggi adalah Roman dMerbau Walnut dengan nilai 1,50. Artinya, harga material tersebut sekitar 50 persen lebih tinggi dibanding nilai fungsional minimum yang sebenarnya dibutuhkan untuk menutup permukaan lantai.
Setelah tahap identifikasi, peneliti menyusun alternatif material yang tersedia luas di pasar nasional dan lebih mudah diperoleh melalui rantai pasok di Sorong.
Beberapa alternatif yang dipilih meliputi:
- Asia Tile Brown Oak
- Granite Tile Grey Matte Lokal
- Arna Wood Plank Brown Walnut
- Essenza Absolute Black
- Asia Tile Outdoor Wood Brown
Pemilihan tidak hanya mempertimbangkan harga, tetapi juga kesesuaian visual dengan identitas desain restoran Mie Gacoan yang mengusung gaya modern industrial ditandai elemen kayu hangat, warna gelap, dan nuansa abu-abu netral.
Setiap alternatif kemudian dievaluasi berdasarkan lima aspek utama: fungsi, tampilan visual, ketersediaan di pasar, kemudahan pemasangan, dan efisiensi biaya.
Hasil evaluasi menunjukkan seluruh alternatif dinilai layak diterapkan. Salah satu material dengan performa terbaik adalah Arna Wood Plank Brown Walnut yang dipilih sebagai pengganti Roman dMerbau Walnut karena memberikan kesamaan visual tinggi sekaligus penghematan biaya paling besar.
Secara rinci, penghematan biaya per meter persegi berkisar antara 19,44 persen hingga 33,33 persen tergantung jenis material yang diganti.
Namun penelitian ini tidak berhenti pada biaya pembelian awal.
Tim juga menghitung biaya kepemilikan selama 10 tahun melalui pendekatan Life Cycle Cost (LCC), yaitu analisis yang memperhitungkan biaya perawatan dan pemeliharaan material dalam jangka panjang.
Hasilnya menunjukkan seluruh alternatif tetap lebih ekonomis dibanding spesifikasi awal.
Penghematan biaya siklus hidup tercatat berada pada kisaran 25,55 persen hingga 26,81 persen selama periode analisis 10 tahun.
Menurut peneliti, keuntungan tersebut muncul karena dua faktor sekaligus: harga pembelian lebih rendah dan biaya perawatan tahunan yang lebih kecil.
Selain aspek ekonomi, penelitian ini juga menyoroti manfaat strategis dalam konteks Indonesia Timur.
Penggunaan material yang tersedia secara nasional dinilai mampu mengurangi risiko keterlambatan pasokan dan ketergantungan terhadap material premium yang membutuhkan distribusi antarwilayah lebih kompleks.
Putri Dwi Rahayu dan tim menilai pendekatan rekayasa nilai tidak hanya menjadi strategi penghematan anggaran, tetapi juga alat pengambilan keputusan untuk meningkatkan ketahanan rantai pasok proyek konstruksi.
Temuan ini membuka peluang penerapan metode serupa pada proyek restoran, pusat komersial, maupun bangunan publik lain yang berada di wilayah dengan biaya logistik tinggi.
Ke depan, peneliti merekomendasikan agar analisis rekayasa nilai tidak hanya diterapkan pada material lantai, tetapi diperluas ke seluruh pekerjaan finishing seperti dinding, plafon, area luar ruang, dan sistem sanitasi agar potensi efisiensi proyek dapat dimaksimalkan.
Profil Singkat Penulis
Putri Dwi Rahayu — Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Budi Witjaksana — Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Dika Ayu Safitri — Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Sumber Penelitian
Rahayu, P. D., Witjaksana, B., & Safitri, D. (2026). In a Commercial Restaurant Construction Project in Eastern Indonesia, Alternative Materials Based on Value Engineering for Architectural Work. Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 6, 1487–1500.
0 Komentar