Pakcoy merupakan salah satu komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi yang permintaannya terus meningkat. Selain mudah dibudidayakan, sayuran ini kaya akan vitamin A, vitamin C, kalsium, fosfor, zat besi, protein, serta berbagai mineral penting yang bermanfaat bagi kesehatan. Di Sumatera Utara sendiri, produksi tanaman sawi menunjukkan tren meningkat dalam beberapa tahun terakhir, sehingga kebutuhan akan teknik budidaya yang lebih efisien dan berkelanjutan menjadi semakin penting.
Selama ini banyak petani masih bergantung pada pupuk kimia. Padahal, penggunaan pupuk anorganik secara terus-menerus dapat menurunkan kualitas tanah dan mengurangi kesuburan lahan dalam jangka panjang. Sebaliknya, pupuk organik mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan aktivitas mikroorganisme, serta menyediakan unsur hara secara lebih alami.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim peneliti Universitas Methodist Indonesia mengevaluasi efektivitas dua jenis pupuk organik, yaitu pupuk kandang sapi dan pupuk organik cair (POC) berbahan dasar urin kelinci, terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman pakcoy.
Penelitian dilaksanakan di kawasan Tanjung Selamat, Kecamatan Sunggal, Sumatera Utara. Para peneliti menggunakan rancangan percobaan dengan berbagai kombinasi dosis pupuk kandang sapi dan pupuk organik cair urin kelinci. Dosis pupuk kandang sapi yang diuji terdiri atas 0 kilogram, 1 kilogram, 2 kilogram, dan 3 kilogram per petak tanam. Sementara itu, pupuk cair urin kelinci diberikan dalam tiga tingkat dosis, yaitu 40 mililiter, 50 mililiter, dan 60 mililiter per petak.
Selama masa pertumbuhan, peneliti mengamati tinggi tanaman, jumlah daun, dan bobot hasil panen setiap petak. Analisis data dilakukan untuk mengetahui apakah masing-masing perlakuan benar-benar memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pupuk kandang sapi memberikan pengaruh nyata terhadap seluruh parameter pertumbuhan yang diamati, sedangkan pupuk organik cair berbahan urin kelinci belum menunjukkan pengaruh yang signifikan pada dosis yang digunakan.
Beberapa temuan utama penelitian meliputi:
- Pupuk kandang sapi sebanyak 2 kilogram per petak (setara sekitar 20 ton per hektare) menghasilkan pertumbuhan terbaik.
- Tinggi tanaman mencapai hasil optimal dengan dosis sekitar 2,12 kilogram per petak, sedangkan pemberian pupuk yang lebih banyak justru mulai menekan pertumbuhan.
- Jumlah daun terbanyak juga diperoleh pada kisaran dosis 2 kilogram per petak.
- Bobot tanaman per petak mencapai hasil tertinggi pada dosis sekitar 2,08 kilogram per petak, dengan potensi bobot lebih dari 1,4 kilogram per petak.
- Pupuk organik cair dari urin kelinci hingga dosis 60 mililiter per petak belum memberikan peningkatan yang berarti terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, maupun hasil panen.
- Kombinasi antara pupuk kandang sapi dan pupuk organik cair juga tidak menunjukkan efek sinergis yang signifikan.
Menurut para peneliti, keberhasilan pupuk kandang sapi berkaitan dengan kemampuannya memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologis tanah. Tanah menjadi lebih gembur sehingga akar tanaman berkembang lebih baik. Perkembangan akar yang optimal meningkatkan kemampuan tanaman menyerap air dan unsur hara, terutama nitrogen yang sangat dibutuhkan selama fase pertumbuhan vegetatif.
Nitrogen berperan penting dalam pembentukan daun dan proses fotosintesis. Semakin baik penyerapan nitrogen, semakin besar kemampuan tanaman menghasilkan biomassa. Kondisi inilah yang menyebabkan tanaman pakcoy menghasilkan daun lebih banyak, batang lebih tinggi, dan bobot panen lebih besar.
Sebaliknya, penelitian menemukan bahwa konsentrasi pupuk cair urin kelinci yang digunakan kemungkinan masih terlalu rendah untuk memberikan tambahan unsur hara yang cukup bagi tanaman. Akibatnya, pengaruh pupuk cair tersebut tidak berbeda secara nyata dibandingkan perlakuan tanpa pupuk cair.
Menariknya, penelitian juga menunjukkan bahwa pemberian pupuk kandang secara berlebihan bukan berarti menghasilkan panen yang lebih tinggi. Dosis di atas sekitar 2 kilogram per petak justru mulai menurunkan pertumbuhan. Peneliti menjelaskan bahwa pupuk organik yang terlalu banyak dapat menyebabkan kondisi tanah menjadi terlalu lembap sehingga akar lebih rentan terhadap serangan penyakit dan kemampuan menyerap unsur hara menjadi berkurang.
Temuan ini memberikan pesan penting bagi petani bahwa penggunaan pupuk organik harus tetap memperhatikan dosis optimum. Prinsip "semakin banyak semakin baik" tidak selalu berlaku dalam budidaya tanaman.
Bagi sektor pertanian, hasil penelitian ini dapat menjadi acuan dalam mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia sekaligus memanfaatkan limbah peternakan secara lebih produktif. Kotoran sapi yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat diolah menjadi pupuk organik bernilai ekonomi, sementara kualitas tanah tetap terjaga untuk budidaya jangka panjang.
Penelitian ini juga membuka peluang pengembangan pupuk organik cair berbahan urin kelinci. Meskipun belum menunjukkan hasil signifikan pada dosis yang diuji, para peneliti merekomendasikan penelitian lanjutan dengan konsentrasi yang lebih tinggi agar dapat diketahui dosis optimum yang benar-benar efektif meningkatkan produksi pakcoy.
Pantas Simanjuntak dan tim peneliti Universitas Methodist Indonesia menegaskan bahwa penggunaan pupuk kandang sapi sebanyak 2 kilogram per petak merupakan rekomendasi terbaik berdasarkan hasil penelitian mereka. Dosis tersebut mampu meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, serta bobot panen secara nyata dibandingkan tanpa pemberian pupuk kandang.
Profil Singkat Penulis
Pantas Simanjuntak merupakan akademisi dari Fakultas Pertanian, Universitas Methodist Indonesia yang berfokus pada bidang agronomi, budidaya tanaman, dan pemanfaatan pupuk organik untuk meningkatkan produktivitas tanaman hortikultura. Penelitian ini juga melibatkan Efbertias Sitorus, Lince Romauli Panataria, Meylin Kristina Saragih, dan Arie Bagus Lase, yang seluruhnya berasal dari Fakultas Pertanian Universitas Methodist Indonesia.
Sumber Penelitian
Simanjuntak, P., Sitorus, E., Panataria, L. R., Saragih, M. K., & Lase, A. B. (2026). "Growth and Production Response of Pakcoy (Brassica rapa L.) Plants to the Application of Cow Manure and Liquid Organic Fertilizer (POC) from Rabbit Urine." Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 6, 2026, halaman 1641–1654.
0 Komentar