Peran Masjid Al-Islah Perkuat Kualitas Pendidikan Rumah Tahfidz Al-Qur'an di Tegal

Ilustrasi by AI

Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga dapat menjadi pusat pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Hal tersebut dibuktikan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh Afra Sofinatunnajah dan Dina Mardiana dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Penelitian yang dipublikasikan pada Juni 2026 ini mengoptimalkan peran Masjid Al-Islah di Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, dalam meningkatkan kualitas pendidikan Rumah Tahfidz Qur'an (RTQ) melalui penguatan kapasitas pengajar, pembenahan administrasi, serta peningkatan keterlibatan orang tua dan masyarakat. Hasil program menunjukkan terbentuknya sistem pendidikan Al-Qur'an yang lebih tertata, efektif, dan berkelanjutan.

Rumah Tahfidz Qur'an menjadi salah satu lembaga pendidikan nonformal yang berperan penting dalam membentuk generasi Qur'ani yang mampu membaca, menghafal, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur'an. Namun, banyak RTQ masih menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan tenaga pengajar, sistem administrasi yang belum tertata, minimnya media pembelajaran, serta rendahnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi hafalan anak di rumah. Kondisi tersebut juga dialami oleh RTQ Al-Islah di Adiwerna yang memiliki jumlah santri terus meningkat, tetapi belum diimbangi dengan sistem pengelolaan yang memadai.

Untuk menjawab permasalahan tersebut, tim dari Universitas Muhammadiyah Malang melaksanakan program pengabdian menggunakan pendekatan partisipatif berbasis masyarakat. Kegiatan dilakukan melalui lima tahapan, yaitu observasi dan analisis kebutuhan, sosialisasi program, pelatihan metode pembelajaran tahfidz dan tahsin, pendampingan implementasi, serta evaluasi keberlanjutan program. Seluruh kegiatan melibatkan pengurus masjid, pengelola RTQ, ustaz dan ustazah, santri, serta orang tua sehingga setiap pihak berperan aktif dalam proses pengembangan lembaga.

Program difokuskan pada tiga aspek utama, yaitu peningkatan kompetensi tenaga pengajar, penataan administrasi lembaga, dan penguatan dukungan keluarga serta masyarakat.

Hasil pelaksanaan program menunjukkan berbagai capaian penting.

  • Kompetensi pengajar meningkat melalui pelatihan metode tahfidz dan tahsin yang lebih efektif dan inovatif.
  • RTQ memperoleh tambahan relawan pengajar dari mahasiswa, pemuda masjid, alumni pondok pesantren, dan masyarakat.
  • Sistem administrasi lembaga berhasil ditata melalui penyusunan buku absensi, agenda pembelajaran, laporan perkembangan hafalan, dan buku mutaba'ah hafalan sebagai media komunikasi antara pengajar dan orang tua.
  • Pemantauan perkembangan hafalan santri menjadi lebih terukur dan terdokumentasi.
  • Keterlibatan orang tua meningkat melalui sosialisasi dan komunikasi yang lebih terstruktur.
  • Peran Masjid Al-Islah semakin kuat sebagai pusat pembinaan pendidikan Al-Qur'an di lingkungan masyarakat.

Dalam pelatihan, para pengajar juga diperkenalkan dengan metode pembelajaran yang lebih variatif, seperti teknik talaqqi, muroja'ah terstruktur, serta pemanfaatan media pembelajaran audiovisual. Pendekatan tersebut dinilai mampu meningkatkan motivasi belajar santri sekaligus memperbaiki kemampuan membaca Al-Qur'an dan pemahaman tajwid. Selain itu, pembagian tugas yang lebih jelas antara pengajar utama, pendamping kelas, dan pengurus administrasi membuat proses pembelajaran tidak lagi bergantung pada beberapa orang saja, tetapi berjalan secara lebih sistematis dan berkelanjutan.

Salah satu inovasi penting dalam program ini adalah penyusunan buku mutaba'ah hafalan, yaitu buku yang digunakan untuk memantau perkembangan hafalan santri setiap hari. Buku tersebut memungkinkan pengajar dan orang tua memonitor target hafalan secara bersama-sama sehingga proses evaluasi menjadi lebih objektif. Penelitian juga memperkenalkan indikator persentase ketercapaian target hafalan sebagai alat ukur perkembangan setiap santri, sehingga pengelola RTQ dapat memberikan pendampingan tambahan kepada santri yang membutuhkan secara lebih cepat dan tepat.

Selain memperkuat aspek akademik, program ini juga meningkatkan sinergi antara masjid, keluarga, dan masyarakat. Orang tua diberikan pemahaman mengenai pentingnya mendampingi anak melakukan muroja'ah di rumah, sementara pengurus masjid didorong untuk terus mengembangkan RTQ sebagai pusat pembinaan generasi muda yang berakhlak Qur'ani. Kolaborasi tersebut menciptakan lingkungan belajar yang lebih kondusif sekaligus memperkuat fungsi masjid sebagai pusat pendidikan Islam di tengah masyarakat.

Menurut Afra Sofinatunnajah dan Dina Mardiana dari Universitas Muhammadiyah Malang, keberhasilan peningkatan kualitas pendidikan Al-Qur'an tidak hanya bergantung pada kompetensi pengajar, tetapi juga memerlukan tata kelola lembaga yang baik, dukungan orang tua, serta partisipasi aktif masyarakat. Model pemberdayaan yang diterapkan di Masjid Al-Islah dinilai berpotensi direplikasi pada Rumah Tahfidz Qur'an lain yang memiliki karakteristik serupa sehingga mampu memperkuat ekosistem pendidikan Al-Qur'an secara berkelanjutan.

Profil Penulis

  • Afra Sofinatunnajah - Universitas Muhammadiyah Malang 
  • Dina Mardiana - Universitas Muhammadiyah Malang 

Sumber Penelitian

Sofinatunnajah, A., & Mardiana, D. (2026). The Role of Al-Islah Mosque in Improving the Quality of RTQ Education (Rumah Tahfidz Qur'an) in Adiwerna Tegal. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), Vol. 5, No. 6, hlm. 533–543. 

DOI: https://doi.org/10.55927/jpmb.v5i6.44.

URL: https://journaljpmb.my.id/index.php/jpmb

Posting Komentar

0 Komentar