![]() |
| Illustratin by Ai |
DENPASAR – Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Ida Ayu Gede Oktarini, I Ketut Sutapa, dan Saortua Marbun dari Universitas Triatma Mulya mengungkap bahwa jenjang karier dan program pendidikan-pelatihan belum secara langsung meningkatkan kinerja perawat. Faktor yang paling menentukan justru adalah motivasi kerja yang tumbuh dari penghargaan, kesempatan berkembang, dan dukungan organisasi. Temuan ini dipublikasikan dalam Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) edisi Juni 2026 dan menjadi penting bagi rumah sakit yang ingin meningkatkan kualitas layanan kesehatan melalui pengelolaan sumber daya manusia yang lebih efektif.
Kualitas pelayanan rumah sakit sangat bergantung pada kinerja tenaga kesehatan, terutama perawat yang menjadi garda terdepan dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Di rumah sakit pemerintah, perawat tidak hanya bertanggung jawab terhadap pelayanan klinis, tetapi juga harus memenuhi berbagai tuntutan administrasi seperti Sasaran Kinerja Pegawai (SKP), pengumpulan angka kredit jabatan fungsional, hingga pelaporan kinerja digital.
Kondisi tersebut membuat pengembangan karier dan pelatihan menjadi bagian penting dalam mendukung profesionalisme perawat. Namun, masih sedikit penelitian yang mengkaji secara bersamaan hubungan antara jenjang karier, pendidikan dan pelatihan, motivasi kerja, serta kinerja perawat dalam satu model penelitian yang terintegrasi.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, tim peneliti dari Universitas Triatma Mulya melakukan studi di Rumah Sakit Mata Bali Mandara, sebuah rumah sakit khusus mata milik Pemerintah Provinsi Bali yang memiliki layanan dengan tingkat ketelitian tinggi, mulai dari pelayanan rawat jalan, ruang operasi, hingga penanganan kegawatdaruratan mata.
Penelitian dilaksanakan pada tahun 2026 dengan melibatkan seluruh 101 perawat Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bekerja di rumah sakit tersebut. Data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, observasi, dan dokumentasi kinerja pegawai sehingga menghasilkan gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kinerja perawat.
Pelatihan dan Jenjang Karier Meningkatkan Motivasi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenjang karier dan pendidikan-pelatihan memiliki pengaruh positif terhadap motivasi kerja perawat.
Program pelatihan menjadi faktor yang memberikan pengaruh paling kuat. Pelatihan yang relevan dengan keselamatan pasien, pelayanan kesehatan mata, dokumentasi medis, dan penanganan kondisi darurat membuat perawat merasa lebih siap, lebih percaya diri, dan lebih kompeten dalam menjalankan tugasnya.
Sementara itu, sistem jenjang karier yang jelas, transparan, dan memberikan kesempatan pengembangan kompetensi juga mampu meningkatkan semangat kerja perawat. Adanya peluang promosi dan dukungan organisasi membuat perawat merasa dihargai serta memiliki arah pengembangan profesi yang lebih jelas.
Namun, temuan menarik muncul ketika peneliti menguji hubungan langsung antara kedua faktor tersebut dengan kinerja.
Kinerja Tidak Naik Secara Langsung
Penelitian menemukan bahwa baik jenjang karier maupun pendidikan dan pelatihan tidak berpengaruh langsung secara signifikan terhadap kinerja perawat.
Artinya, meskipun rumah sakit telah menyediakan sistem karier dan berbagai program pelatihan, kinerja tidak otomatis meningkat apabila perawat belum memiliki motivasi kerja yang kuat.
Sebaliknya, motivasi kerja terbukti memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap kinerja.
Perawat yang memiliki motivasi tinggi cenderung lebih disiplin, bertanggung jawab, konsisten dalam dokumentasi pelayanan, mampu bekerja sama dalam tim, serta berorientasi pada kualitas pelayanan pasien.
Menurut hasil analisis statistik, motivasi kerja berperan sebagai mediator penuh yang menghubungkan jenjang karier dan pelatihan dengan kinerja perawat. Dengan kata lain, program pengembangan karier dan pelatihan baru akan memberikan dampak nyata apabila mampu meningkatkan motivasi kerja terlebih dahulu.
Profil Responden Penelitian
Penelitian ini melibatkan 101 perawat PNS dengan karakteristik sebagai berikut:
- 75,2 persen berjenis kelamin perempuan.
- 48,5 persen berusia 30–39 tahun.
- 48,5 persen memiliki pendidikan profesi ners.
- 42,6 persen memiliki masa kerja lebih dari 15 tahun.
- 29,7 persen menduduki jabatan fungsional Ahli Muda.
- 30,7 persen bertugas di ruang operasi.
Data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar responden merupakan tenaga kesehatan yang sudah memiliki pengalaman kerja cukup panjang dan terlibat langsung dalam pelayanan inti rumah sakit.
Dukungan Organisasi Masih Perlu Diperkuat
Selain analisis kuantitatif, peneliti juga melakukan wawancara dan observasi untuk memperkuat hasil penelitian.
Dari wawancara diketahui bahwa sistem jenjang karier, angka kredit, dan penilaian SKP sebenarnya sudah berjalan dengan baik. Namun, masih diperlukan pendampingan teknis yang lebih intensif, akses pelatihan yang merata, serta bentuk penghargaan yang lebih nyata bagi perawat.
Observasi juga menunjukkan bahwa disiplin kerja, kepatuhan terhadap prosedur operasional, dan kerja sama tim sudah berada pada kategori baik. Meski demikian, dokumentasi kegiatan harian, pengelolaan bukti angka kredit, dan manajemen waktu pada unit-unit yang sibuk masih memerlukan perbaikan.
Data SKP menunjukkan bahwa capaian kinerja perawat secara umum berada pada kategori baik dengan rata-rata nilai mencapai 80 persen.
Implikasi bagi Dunia Kesehatan
Temuan ini memberikan pesan penting bagi manajemen rumah sakit dan pembuat kebijakan kesehatan.
Selama ini banyak organisasi berfokus pada penyediaan pelatihan dan penyusunan sistem karier sebagai strategi peningkatan kinerja. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan strategi tersebut sangat bergantung pada kemampuan organisasi dalam membangun motivasi kerja pegawai.
Menurut Ida Ayu Gede Oktarini dan tim peneliti dari Universitas Triatma Mulya, program pengembangan sumber daya manusia perlu disertai dengan penghargaan yang adil, umpan balik kinerja yang konstruktif, kesempatan pengembangan kompetensi, serta dukungan organisasi yang berkelanjutan.
Dengan pendekatan tersebut, investasi dalam pendidikan, pelatihan, dan pengembangan karier tidak hanya menjadi kegiatan administratif, tetapi benar-benar mampu meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Profil Penulis
Ida Ayu Gede Oktarini - Universitas Triatma Mulya
I Ketut Sutapa - Universitas Triatma Mulya
Saortua Marbun - Universitas Triatma Mulya
Sumber Penelitian
Oktarini, Ida Ayu Gede; Sutapa, I Ketut; dan Marbun, Saortua. 2026. “Career Path, Education-Training, Motivation, and Nurse Performance.”
Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA)
Vol. 6, No. 6, Juni 2026, halaman 796–804.

0 Komentar