Ketidakpastian Status Kerja Tingkatkan Risiko Karyawan Rumah Sakit Mengundurkan Diri

Ilustrasi by AI

FORMOSA NEWS - Banda Aceh - Ketidakpastian status pekerjaan terbukti meningkatkan keinginan karyawan non-permanen untuk meninggalkan tempat kerja. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Sausan Tamita Rizky, Muslim Abdul Djali, dan Fairuzzabadi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Penelitian yang dipublikasikan pada 2026 ini memberikan gambaran mengenai tantangan besar yang dihadapi rumah sakit pemerintah dalam mempertahankan tenaga kerja non-permanen di tengah ketidakpastian status kerja.

Penelitian menjadi penting karena keberlangsungan tenaga kesehatan merupakan salah satu faktor utama dalam menjaga kualitas pelayanan kepada masyarakat. Tingginya angka pergantian pegawai tidak hanya meningkatkan biaya rekrutmen dan pelatihan, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas organisasi serta kualitas pelayanan pasien. Rumah sakit yang menjadi lokasi penelitian bahkan mencatat fluktuasi tingkat turnover pegawai kontrak yang cukup tinggi dalam beberapa tahun terakhir, menunjukkan bahwa persoalan retensi tenaga kerja masih menjadi tantangan nyata.

Ketidakpastian Kerja Menjadi Pemicu Utama

Para peneliti menjelaskan bahwa job insecurity atau ketidakpastian kerja merupakan kondisi ketika seseorang merasa masa depan pekerjaannya tidak aman. Perasaan tersebut mendorong munculnya kecemasan mengenai karier, pendapatan, dan keberlangsungan pekerjaan.

Pada pegawai non-permanen rumah sakit pemerintah, kondisi ini semakin relevan karena status kontrak sering kali membuat mereka tidak memiliki kepastian mengenai perpanjangan masa kerja maupun peluang pengangkatan menjadi pegawai tetap.

Akibatnya, banyak pegawai mulai mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan lain yang dinilai lebih stabil dan memberikan prospek karier yang lebih jelas.

Survei Melibatkan 248 Pegawai Rumah Sakit

Penelitian dilakukan di salah satu rumah sakit umum daerah di Provinsi Aceh dengan melibatkan 248 pegawai non-permanen yang dipilih secara acak dari total populasi sebanyak 670 orang.

Data dikumpulkan menggunakan kuesioner berbasis Google Forms dengan skala penilaian lima poin. Selanjutnya, data dianalisis menggunakan metode Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menguji hubungan antarvariabel.

Karakteristik responden menunjukkan bahwa mayoritas merupakan perempuan (62,9%), berusia 25–35 tahun (56,5%), berpendidikan diploma (59,3%), serta telah bekerja selama 3–5 tahun (41,9%). Profil ini menggambarkan tenaga kerja yang berada pada usia produktif namun masih menghadapi ketidakpastian mengenai masa depan pekerjaannya.

Temuan Utama Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan beberapa temuan penting.

  • Ketidakpastian kerja meningkatkan keinginan pegawai untuk mengundurkan diri.
  • Ketidakpastian kerja mendorong pegawai lebih aktif mencari pekerjaan baru.
  • Semakin aktif seseorang mencari pekerjaan lain, semakin tinggi pula keinginannya meninggalkan organisasi.
  • Keterikatan pegawai terhadap organisasi (job embeddedness) mampu menurunkan niat untuk keluar dari pekerjaan.
  • Aktivitas pencarian kerja menjadi penghubung antara ketidakpastian kerja dan keinginan mengundurkan diri.
  • Job embeddedness juga terbukti mampu memperlemah dampak negatif ketidakpastian kerja terhadap turnover intention.

Secara statistik, penelitian menemukan bahwa ketidakpastian kerja memiliki pengaruh positif terhadap turnover intention dengan koefisien sebesar 0,386, sedangkan pengaruh terhadap aktivitas pencarian kerja mencapai 0,722, yang merupakan hubungan terkuat dalam model penelitian. Selain itu, model penelitian mampu menjelaskan sekitar 71,6% variasi turnover intention pegawai, menunjukkan bahwa kombinasi faktor yang diuji memiliki kemampuan prediksi yang tinggi.

Keterikatan pada Organisasi Menjadi Faktor Pelindung

Salah satu temuan yang paling menarik adalah peran job embeddedness, yaitu tingkat keterikatan seseorang terhadap organisasi melalui hubungan sosial, kesesuaian nilai, serta konsekuensi yang dirasakan apabila meninggalkan pekerjaan.

Pegawai yang merasa memiliki hubungan baik dengan rekan kerja, nyaman dengan lingkungan kerja, dan merasa pekerjaannya memiliki makna ternyata cenderung tetap bertahan meskipun menghadapi ketidakpastian status kerja.

Sebaliknya, pegawai yang tidak memiliki keterikatan kuat lebih mudah terdorong mencari peluang kerja di tempat lain ketika menghadapi tekanan pekerjaan atau ketidakjelasan masa depan karier.

Memberikan Arah Baru bagi Pengelolaan SDM Rumah Sakit

Menurut para penulis, hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi mempertahankan tenaga kesehatan tidak cukup hanya melalui peningkatan kesejahteraan finansial.

Manajemen rumah sakit juga perlu membangun lingkungan kerja yang membuat pegawai merasa dihargai, memiliki hubungan sosial yang baik, memperoleh kesempatan pengembangan karier, serta merasakan keamanan kerja yang lebih tinggi.

Dengan mengurangi ketidakpastian kerja sekaligus memperkuat keterikatan pegawai terhadap organisasi, rumah sakit berpeluang menekan angka turnover tenaga non-permanen dan menjaga keberlangsungan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Kontribusi bagi Dunia Akademik dan Kebijakan

Penelitian ini turut memperkaya kajian manajemen sumber daya manusia, khususnya di sektor kesehatan Indonesia. Berbeda dari penelitian sebelumnya yang umumnya hanya meneliti hubungan langsung antara ketidakpastian kerja dan turnover intention, studi ini menggabungkan dua mekanisme sekaligus, yaitu job search sebagai variabel mediasi dan job embeddedness sebagai variabel moderasi.

Pendekatan tersebut memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai alasan psikologis maupun perilaku yang mendorong pegawai memutuskan bertahan atau meninggalkan organisasi. Hasil penelitian juga dapat menjadi acuan bagi pemerintah daerah maupun pengelola rumah sakit dalam merancang kebijakan retensi tenaga kesehatan yang lebih efektif.

Profil Penulis

Sausan Tamita Rizky merupakan peneliti dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, dengan fokus kajian pada manajemen sumber daya manusia, khususnya perilaku organisasi, ketenagakerjaan, dan manajemen SDM sektor publik.

Penelitian ini ditulis bersama Muslim Abdul Djali dan Fairuzzabadi, yang juga berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala, serta memiliki keahlian di bidang manajemen organisasi, perilaku kerja, dan pengelolaan sumber daya manusia.

Sumber Penelitian

Judul artikel: The Effect of Job Insecurity on Turnover Intention, Mediated by Job Search and Moderated by Job Embeddedness, Among Non-Permanent Employees in the Public Healthcare Sector.

Penulis: Sausan Tamita Rizky, Muslim Abdul Djali, Fairuzzabadi.

Jurnal: Formosa Journal of Multidisciplinary Research (FJMR), Vol. 5 No. 6, 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/fjmr.v5i6.120

Posting Komentar

0 Komentar