Kekerasan Verbal di Sekolah Sering Dianggap Candaan, Peneliti UISU Ungkap Polanya

Illustration by  Ai


TANJUNG MORAWA – Kekerasan verbal di lingkungan sekolah ternyata tidak selalu dikenali sebagai bentuk perundungan. Sebaliknya, perilaku tersebut kerap dianggap sebagai candaan biasa dalam pergaulan sehari-hari siswa. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Zakaria Siregar dan Shanna Aulia Windri dari Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), yang mengkaji pola komunikasi siswa di SMP Annur Tanjung Morawa. Penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Multidisiplin Madani (MUDIMA) tahun 2026 ini menunjukkan bahwa kekerasan verbal telah berkembang menjadi pola komunikasi sosial yang berulang dan dipengaruhi oleh budaya pertemanan, lingkungan keluarga, serta penggunaan media digital.

Hasil penelitian tersebut menjadi perhatian penting karena kasus perundungan verbal masih menjadi bentuk bullying yang paling sering terjadi namun paling jarang dilaporkan. Berdasarkan data yang dikutip dalam penelitian, sekitar 72,8 persen responden pernah mengalami perundungan dalam berbagai bentuk, dan 87,6 persen di antaranya menyatakan bahwa kekerasan verbal merupakan bentuk yang paling sering mereka alami.

Di lingkungan sekolah, kekerasan verbal sering muncul dalam bentuk ejekan, hinaan, sindiran, panggilan merendahkan, hingga komentar yang menyerang kondisi fisik maupun keluarga seseorang. Karena sering dilakukan dalam suasana santai dan dianggap bagian dari pergaulan, banyak siswa tidak menyadari bahwa perilaku tersebut termasuk tindakan perundungan.

Untuk memahami fenomena tersebut, Zakaria Siregar dan Shanna Aulia Windri menggunakan pendekatan etnografi komunikasi dengan model SPEAKING yang dikembangkan oleh ahli linguistik Dell Hymes. Pendekatan ini digunakan untuk melihat bagaimana suatu pola komunikasi terbentuk, dipertahankan, dan dianggap wajar dalam sebuah komunitas.

Penelitian dilakukan secara kualitatif melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Informan terdiri dari tiga siswa, seorang wali kelas, dan seorang guru bimbingan konseling. Fokus penelitian diarahkan pada siswa kelas VIII SMP Annur Tanjung Morawa.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekerasan verbal paling sering terjadi di lokasi-lokasi yang relatif minim pengawasan guru, seperti ruang kelas saat guru tidak berada di tempat, kantin, lapangan sekolah, koridor, dan area sekitar kamar mandi.

Waktu yang paling sering menjadi pemicu munculnya kekerasan verbal adalah saat jam istirahat, setelah kegiatan belajar selesai, atau ketika siswa berkumpul untuk berolahraga dan bermain bersama.

Menurut para informan, suasana santai dan tidak formal membuat siswa lebih bebas menggunakan kata-kata yang berpotensi menyakiti orang lain. Banyak kasus bermula dari candaan ringan yang kemudian berkembang menjadi ejekan berlebihan hingga memicu konflik.

Penelitian juga menemukan bahwa pelaku dan korban kekerasan verbal umumnya berasal dari kelompok pertemanan yang sama. Kedekatan hubungan membuat pelaku merasa bebas melontarkan kata-kata kasar karena menganggapnya sebagai bagian dari keakraban.

Namun, persepsi tersebut tidak selalu sama dengan yang dirasakan korban. Dalam sejumlah kasus, korban mengaku merasa malu, tersinggung, kehilangan rasa percaya diri, bahkan memilih menjauh dari lingkungan sosialnya.

Menariknya, penelitian ini menemukan bahwa teman-teman yang menjadi saksi sering kali tidak berusaha menghentikan perilaku tersebut. Sebaliknya, mereka justru tertawa, ikut mengejek, atau memberikan dukungan kepada pelaku.

Kondisi ini menciptakan lingkungan sosial yang membuat kekerasan verbal dianggap sebagai hiburan kelompok. Akibatnya, pelaku merasa mendapat dukungan sosial sehingga semakin berani mengulangi perilaku yang sama.

Dari sisi tujuan komunikasi, sebagian besar siswa mengaku melakukan ejekan hanya untuk bercanda, mencari perhatian, atau menunjukkan dominasi dalam kelompok pertemanan. Namun guru dan konselor sekolah menilai bahwa kekerasan verbal juga sering dipicu oleh konflik pribadi, rasa iri, persaingan, atau emosi yang tidak terkendali.

Perbedaan persepsi inilah yang menjadi salah satu faktor mengapa kekerasan verbal terus berlangsung. Pelaku menganggapnya sebagai lelucon, sementara korban mengalami tekanan emosional yang cukup serius.

Penelitian ini juga mengungkap pola terjadinya kekerasan verbal. Umumnya perilaku tersebut dimulai dari candaan ringan, kemudian berkembang menjadi ejekan yang lebih kasar. Jika korban memberikan respons negatif atau membalas, situasi dapat meningkat menjadi pertengkaran terbuka dan berpotensi memicu kekerasan fisik.

Selain terjadi secara langsung, kekerasan verbal kini juga ditemukan dalam komunikasi digital. Peneliti menemukan bahwa grup percakapan WhatsApp dan media sosial menjadi sarana baru untuk melakukan penghinaan, ejekan, atau mempermalukan teman.

Bentuk kekerasan verbal yang dilakukan melalui media digital dinilai lebih sulit dikendalikan karena dapat terjadi kapan saja, menyebar lebih luas, dan meninggalkan jejak yang dapat dibaca berulang kali oleh korban maupun orang lain.

Temuan penting lainnya adalah adanya budaya komunikasi yang permisif terhadap kata-kata kasar. Banyak siswa mengaku sudah terbiasa mendengar hinaan dan ejekan setiap hari sehingga tidak lagi menganggapnya sebagai tindakan bullying.

Guru bimbingan konseling yang diwawancarai dalam penelitian ini menjelaskan bahwa kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Kurangnya pendidikan etika komunikasi di rumah, minimnya perhatian orang tua, hingga konflik keluarga dapat membentuk pola komunikasi negatif yang kemudian terbawa ke lingkungan sekolah.

Bentuk kekerasan verbal yang paling dominan meliputi:

  • Umpatan dan kata-kata kasar.
  • Ejekan terhadap kondisi fisik.
  • Sindiran dan sarkasme.
  • Penghinaan terkait status sosial.
  • Ejekan yang menyerang anggota keluarga korban.

Menurut Zakaria Siregar dan Shanna Aulia Windri dari Universitas Islam Sumatera Utara, kekerasan verbal tidak dapat dipandang sebagai persoalan individu semata. Fenomena ini telah berkembang menjadi pola komunikasi sosial yang terus berulang karena mendapat legitimasi dari lingkungan pertemanan dan budaya komunikasi yang berkembang di sekolah.

Temuan ini memiliki implikasi penting bagi dunia pendidikan. Sekolah tidak cukup hanya menangani kasus perundungan yang bersifat fisik, tetapi juga perlu memperkuat pendidikan etika komunikasi, literasi digital, dan pengawasan terhadap interaksi siswa baik secara langsung maupun melalui media sosial.

Selain itu, keterlibatan keluarga menjadi faktor penting untuk membangun budaya komunikasi yang sehat sejak dini. Dengan kerja sama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat, pola komunikasi yang mengandung kekerasan verbal dapat diminimalkan sehingga tercipta lingkungan belajar yang lebih aman dan nyaman bagi siswa.

Profil Penulis

Zakaria Siregar merupakan dosen dan peneliti di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Sumatera Utara (UISU). Bidang keahliannya meliputi komunikasi, budaya komunikasi, media sosial, dan kajian perilaku sosial masyarakat.

Shanna Aulia Windri adalah peneliti dari Universitas Islam Sumatera Utara yang memiliki minat penelitian pada bidang komunikasi pendidikan, interaksi sosial remaja, dan fenomena komunikasi di lingkungan sekolah.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Patterns of Verbal Violence in School Environments: An Ethnographic Study of Communication in Annur Junior High School in Tanjung Morawa

Penulis: Zakaria Siregar dan Shanna Aulia Windri

Afiliasi: Universitas Islam Sumatera Utara (UISU)

Jurnal: JurnalMultidisiplin Madani (MUDIMA)

Volume dan Nomor: Vol. 6, No. 6, Juni 2026

Halaman: 881–886

DOI: https://doi.org/10.55927/mudima.v6i6.78

 


Posting Komentar

0 Komentar