Jalan A. Yani Gedangan Sidoarjo Dinilai Sudah Jenuh, Kecepatan Turun hingga 18 Km per Jam

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Sidoarjo -Kemacetan di Jalan A. Yani Gedangan, Kabupaten Sidoarjo, kini tidak lagi dipandang sebagai gangguan lalu lintas biasa. Penelitian terbaru yang dilakukan Nursaid bersama Budi Witjaksana dan Hanie Teki Tjendani dari Program Magister Teknik Sipil, Fakultas Teknik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, menunjukkan bahwa ruas jalan tersebut telah memasuki kondisi jenuh dengan tingkat pelayanan jalan yang berada pada kategori terburuk saat jam sibuk.

Penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di Formosa Journal of Science and Technology (FJST) ini menganalisis hubungan antara volume kendaraan dan kinerja infrastruktur jalan di ruas Jalan A. Yani Gedangan sepanjang 1,2 kilometer, mulai KM 2+100 hingga KM 3+300. Survei lapangan dilakukan selama satu minggu, yaitu 10–16 Maret 2026.

Hasilnya menunjukkan bahwa kapasitas jalan saat ini tidak lagi mampu mengimbangi pertumbuhan kendaraan yang terus meningkat di kawasan Sidoarjo dan koridor penghubung menuju Surabaya.

Jalan A. Yani Gedangan merupakan salah satu jalur strategis di kawasan metropolitan Gerbangkertosusila karena menghubungkan aktivitas ekonomi, kawasan industri, permukiman, hingga pergerakan komuter harian. Dalam beberapa tahun terakhir, kemacetan di jalur ini menjadi persoalan yang semakin terasa oleh masyarakat.

Menurut data yang digunakan dalam penelitian, Kabupaten Sidoarjo menjadi wilayah dengan jumlah kendaraan bermotor tertinggi di Jawa Timur, mencapai lebih dari 1,7 juta unit. Pertumbuhan kendaraan yang tinggi tersebut memberikan tekanan besar terhadap jaringan jalan yang tersedia.

Tim peneliti melakukan pengukuran volume lalu lintas, kecepatan kendaraan, waktu tempuh, dan kondisi geometrik jalan. Analisis dilakukan menggunakan Pedoman Kapasitas Jalan Indonesia (PKJI) 2023 yang menjadi acuan nasional untuk menilai kemampuan jalan dalam melayani arus kendaraan.

Temuan utama penelitian memperlihatkan kondisi yang mengkhawatirkan.

Rata-rata lalu lintas harian di Jalan A. Yani Gedangan tercatat mencapai 17.867 satuan mobil penumpang (smp) per hari.

Komposisi kendaraan menunjukkan dominasi yang sangat besar dari sepeda motor, yaitu sekitar 65 persen dari total lalu lintas. Kendaraan penumpang menyumbang 20 persen, kendaraan ringan 8 persen, truk 5 persen, dan bus 2 persen.

Pola lalu lintas juga memperlihatkan dua puncak kepadatan yang sangat jelas:

  • Pukul 07.00–08.00 WIB mencapai sekitar 2.150 smp per jam
  • Pukul 16.00–17.00 WIB mencapai sekitar 2.080 smp per jam

Pola tersebut menunjukkan tingginya mobilitas komuter yang bergerak dari kawasan permukiman menuju pusat ekonomi dan kembali pada sore hari.

Di sisi lain, kapasitas efektif jalan hanya tercatat 2.344 smp per jam.

Ketika volume kendaraan mendekati angka tersebut, performa jalan mulai mengalami penurunan tajam.

Penelitian menghitung derajat kejenuhan (Degree of Saturation/DS) sebesar:

  • 0,917 pada jam sibuk pagi
  • 0,887 pada jam sibuk sore

Dalam standar PKJI 2023, nilai di atas 0,85 sudah dikategorikan sebagai kondisi jenuh dan tidak stabil.

Akibatnya, kecepatan kendaraan ikut turun secara signifikan.

Pada jam puncak pagi, kecepatan rata-rata kendaraan hanya 18 kilometer per jam, jauh di bawah standar minimal 30 kilometer per jam untuk jalan arteri sekunder.

Kondisi tersebut menyebabkan tingkat pelayanan jalan masuk kategori Level of Service (LoS) F pada pagi hari atau kondisi kemacetan berat, serta LoS E pada sore hari yang menggambarkan arus lalu lintas tidak stabil dan sering mengalami perlambatan.

Peneliti juga mengidentifikasi beberapa faktor yang memperburuk situasi.

Hambatan samping menjadi penyebab utama, mulai dari parkir di badan jalan, aktivitas keluar masuk kendaraan dari kawasan permukiman, kendaraan logistik yang berhenti di tepi jalan, hingga aktivitas pasar dan perdagangan di sekitar koridor Gedangan.

Lebar jalan yang terbatas, hanya dua lajur dua arah dengan ruang pengembangan yang kecil, membuat peningkatan kapasitas menjadi tidak mudah dilakukan.

Dalam analisis mereka, tim peneliti menilai bahwa kemacetan berkepanjangan bukan hanya masalah mobilitas, tetapi berpotensi menimbulkan dampak ekonomi dan sosial yang lebih luas.

Penurunan kecepatan perjalanan meningkatkan biaya operasional kendaraan, memperpanjang waktu tempuh, serta menurunkan produktivitas masyarakat.

Karena itu, peneliti merekomendasikan langkah penanganan yang lebih menyeluruh daripada sekadar rekayasa lalu lintas jangka pendek.

Beberapa langkah yang disarankan meliputi pengurangan volume kendaraan saat jam sibuk, penertiban parkir liar, pengelolaan aktivitas di tepi jalan, peningkatan kualitas infrastruktur, serta penguatan layanan transportasi umum agar ketergantungan terhadap kendaraan pribadi dapat dikurangi.

Nursaid dan tim menekankan bahwa pengelolaan lalu lintas berbasis data volume kendaraan perlu menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan transportasi di Sidoarjo agar kemacetan tidak berkembang menjadi kondisi gagal layanan secara permanen.

Profil Penulis

Nursaid — Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Dr. Ir. Budi Witjaksana — Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Dr. Hanie Teki Tjendani — Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Sumber Penelitian
Nursaid, Budi Witjaksana, Hanie Teki Tjendani. Traffic Volume-Based Road Infrastructure Performance Analysis in Jl. A. Yani Gedangan, Sidoarjo Regency. Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 6, 2026.

Posting Komentar

0 Komentar