Ekstrak Daun Kayu Putih Berpotensi Jadi Biopestisida untuk Melawan Busuk Pelepah Jagung

Ilustrasi By AI

FORMOSA NEWS - Ambon -Penyakit busuk pelepah pada tanaman jagung yang disebabkan jamur Rhizoctonia solani selama ini menjadi salah satu tantangan besar bagi petani karena mampu menyebar melalui tanah dan udara serta bertahan lama di lingkungan tanam. Penelitian terbaru dari Handry R. D. Amanupunyo, peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Pattimura, menunjukkan bahwa ekstrak daun kayu putih berpotensi menjadi alternatif pengendalian penyakit yang lebih ramah lingkungan dibanding penggunaan fungisida sintetis.

Penelitian yang dilakukan pada April 2025 di Laboratorium Fakultas Pertanian Universitas Pattimura ini menguji kemampuan ekstrak daun kayu putih (Melaleuca leucadendra L.) dalam menghambat pertumbuhan jamur penyebab busuk pelepah jagung secara in vitro atau di lingkungan laboratorium. Hasilnya menunjukkan bahwa ekstrak berbasis limbah daun kayu putih mampu menekan perkembangan jamur secara signifikan dan mendekati efektivitas fungisida komersial.

Temuan ini menjadi menarik karena membuka peluang pemanfaatan bahan alami sekaligus limbah pertanian untuk mendukung sistem budidaya yang lebih berkelanjutan.

Indonesia dan Potensi Besar Pestisida Nabati

Sebagai negara dengan keanekaragaman hayati tinggi, Indonesia memiliki sumber bahan alami yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi pestisida nabati. Selama ini pengendalian penyakit tanaman masih banyak mengandalkan pestisida kimia yang dalam penggunaan jangka panjang dapat memicu pencemaran lingkungan, resistensi organisme pengganggu, hingga risiko kesehatan.

Daun kayu putih dikenal luas sebagai bahan minyak atsiri dan obat tradisional. Namun di balik penggunaannya yang populer, daun ini juga menyimpan senyawa aktif seperti flavonoid, tanin, saponin, terpenoid, alkaloid, serta komponen minyak atsiri yang memiliki aktivitas antimikroba.

Menurut Handry R. D. Amanupunyo dari Universitas Pattimura, potensi antijamur daun kayu putih masih relatif jarang dieksplorasi dibanding fungsi antibakteri atau insektisidanya. Karena itu, penelitian ini diarahkan untuk melihat apakah ekstrak tanaman tersebut dapat menjadi agen pengendali penyakit tanaman yang lebih aman.

Bagaimana Peneliti Menguji Efektivitasnya?

Tim penelitian menggunakan sampel pelepah jagung yang telah terinfeksi Rhizoctonia solani lalu mengisolasi jamur tersebut di media pertumbuhan laboratorium.

Ekstrak daun kayu putih dibuat dari dua jenis bahan:

  • ekstrak daun segar;
  • ekstrak limbah daun kayu putih pasca-pengolahan.

Kedua jenis ekstrak diuji pada beberapa dosis berbeda, mulai dari 0,5 mL hingga 2 mL, lalu dicampurkan ke media pertumbuhan jamur. Sebagai pembanding, peneliti juga menggunakan fungisida sintetis Dithane.

Efektivitas diukur berdasarkan:

  • kecepatan pertumbuhan diameter koloni jamur;
  • persentase daya hambat pertumbuhan;
  • waktu munculnya sklerotia, yaitu struktur bertahan hidup yang dibentuk jamur ketika menghadapi kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan.

Ekstrak Limbah Tampil Lebih Efektif

Hasil pengujian memperlihatkan bahwa seluruh perlakuan ekstrak daun kayu putih memberikan pengaruh nyata terhadap pertumbuhan jamur.

Pada kelompok kontrol tanpa perlakuan, diameter koloni jamur mencapai rata-rata 7,01 cm. Sebaliknya, perlakuan fungisida Dithane menekan pertumbuhan hingga hanya sekitar 0,50 cm.

Yang paling menarik, ekstrak limbah daun kayu putih dosis 2 mL mampu menghasilkan diameter koloni rata-rata sekitar 1,07 cm. Secara statistik, hasil ini tidak berbeda signifikan dengan perlakuan fungisida sintetis.

Dalam pengukuran daya hambat, diperoleh hasil sebagai berikut:

  • Dithane 0,6 gram: sekitar 93% penghambatan.
  • Ekstrak limbah daun kayu putih 2 mL: sekitar 85%.
  • Ekstrak limbah 1,5 mL: sekitar 81%.
  • Ekstrak limbah 1 mL: sekitar 77%.

Sementara itu, ekstrak daun segar menunjukkan kemampuan penghambatan yang lebih rendah dibanding ekstrak limbah.

Peneliti juga menemukan bahwa penggunaan ekstrak limbah mampu memperlambat pembentukan sklerotia. Kondisi ini penting karena sklerotia merupakan mekanisme bertahan hidup jamur yang memungkinkan patogen tetap aktif di tanah dalam waktu lama.

Mengapa Daun Kayu Putih Bisa Menghambat Jamur?

Efek penghambatan diduga berasal dari kombinasi senyawa aktif di dalam daun kayu putih.

Flavonoid diketahui dapat mengganggu membran sel jamur dan menghambat pembentukan energi. Tanin berperan melemahkan struktur dinding sel, sedangkan alkaloid dapat menghambat sintesis materi genetik jamur.

Selain itu, kandungan minyak atsiri seperti 1,8-cineole diduga merusak integritas membran sel sehingga menyebabkan kebocoran komponen penting di dalam sel jamur.

Kombinasi mekanisme tersebut membuat pertumbuhan koloni melambat dan menurunkan kemampuan patogen untuk berkembang secara normal.

Peluang untuk Pertanian yang Lebih Berkelanjutan

Temuan ini memberikan gambaran bahwa limbah daun kayu putih bukan sekadar sisa produksi, tetapi berpotensi menjadi bahan baku biopestisida yang bernilai ekonomi.

Jika hasil laboratorium ini dapat dikembangkan ke pengujian lapangan, petani jagung berpeluang memperoleh alternatif pengendalian penyakit yang lebih murah, lebih ramah lingkungan, dan mengurangi ketergantungan terhadap fungisida sintetis.

Pendekatan seperti ini juga sejalan dengan tren pertanian berkelanjutan yang mendorong pemanfaatan sumber daya lokal dan pengurangan residu bahan kimia pada komoditas pangan.

Profil Penulis

Handry R. D. Amanupunyo merupakan peneliti dari Fakultas Pertanian, Universitas Pattimura. Bidang kajiannya berfokus pada perlindungan tanaman, pengendalian penyakit tanaman, serta pengembangan agen hayati dan biopestisida berbasis sumber daya lokal.

Sumber Penelitian

Amanupunyo, Handry R. D. (2026). Effectiveness of Inhibition of Cauliflower Leaves (Melaleuca leucadendra L.) Against the Cause of Corn Sheld ROT (Rhizoctonia solani) in Vitro. Formosa Journal of Science and Technology (FJST), Vol. 5 No. 6, 1557–1568.

URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst

DOI: 10.55927/fjst.v5i6.79

Posting Komentar

0 Komentar