Jatinangor — Penggunaan tawas atau alum dengan dosis 15 gram terbukti menjadi titik paling optimal untuk menurunkan kadar padatan terlarut (Total Dissolved Solids/TDS) dan memperbaiki kejernihan limbah budidaya udang. Temuan ini diungkap oleh Lady Ayu Sri Wijayanti, Mochhamad Ikhsan Cahya Utama, Galih Hamdani, dan Andini Nur Afifah dari Universitas Padjadjaran dalam riset yang dipublikasikan tahun 2026 di East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR). Hasil studi ini penting karena industri tambak udang selama ini menjadi salah satu penyumbang limbah organik terbesar yang berisiko merusak ekosistem perairan pesisir jika tidak diolah dengan baik.
Budidaya udang intensif terus berkembang pesat untuk memenuhi kebutuhan protein global dan menopang ekonomi perikanan. Namun, di balik pertumbuhan itu, limbah cair dari tambak menjadi masalah serius. Air buangan tambak biasanya mengandung sisa pakan, kotoran udang, dan bahan organik terlarut yang membuat kadar TDS dan kekeruhan meningkat tajam.
Jika dibuang langsung ke laut atau sungai tanpa pengolahan, limbah ini bisa memicu eutrofikasi, menurunkan kadar oksigen terlarut, dan mengganggu keseimbangan ekosistem pesisir. Karena itu, teknologi pengolahan limbah yang efisien menjadi kebutuhan mendesak bagi industri akuakultur.
Tim peneliti dari Universitas Padjadjaran menguji efektivitas tawas melalui metode modified jar test, yaitu simulasi laboratorium yang umum digunakan untuk melihat kemampuan koagulan dalam menggumpalkan partikel limbah. Empat variasi dosis diuji, yaitu 0 gram, 5 gram, 10 gram, dan 15 gram untuk setiap 500 mL sampel limbah tambak udang. Proses dilakukan melalui tahapan pengadukan cepat, pengadukan lambat, dan sedimentasi.
Hasilnya menunjukkan dinamika yang cukup menarik.
Pada sampel tanpa tawas, air limbah tetap keruh dengan rata-rata TDS 1312 ppm. Ketika dosis tawas ditambah menjadi 5 gram dan 10 gram, nilai TDS justru meningkat masing-masing menjadi 1372 ppm dan 1421 ppm. Menurut peneliti, kondisi ini terjadi karena ion aluminium dan sulfat dari tawas belum cukup untuk membentuk flok yang stabil, sehingga justru menambah padatan terlarut dalam air.
Perubahan besar baru terlihat saat dosis mencapai 15 gram.
Pada titik ini, kualitas visual air membaik dari keruh menjadi sedang, sementara TDS turun drastis hingga 1320 ppm dari kondisi awal yang sebelumnya mencapai sekitar 2000 mg/L. Ini menunjukkan bahwa pada dosis tersebut telah terjadi mekanisme sweep coagulation, yaitu proses ketika partikel kotoran dan zat terlarut terjebak dalam gumpalan besar lalu mengendap ke dasar.
Lady Ayu Sri Wijayanti dan tim menjelaskan bahwa mekanisme ini menjadi kunci utama keberhasilan pengolahan limbah. Semakin besar flok yang terbentuk, semakin cepat partikel mengendap dan semakin jernih air yang dihasilkan.
Namun ada konsekuensi lain yang juga ditemukan.
Penambahan tawas ternyata berpengaruh besar terhadap tingkat keasaman air. Hasil uji statistik menunjukkan pH air turun signifikan seiring peningkatan dosis tawas. Pada dosis 15 gram, air menjadi jauh lebih asam dibanding kontrol. Hal ini terjadi karena reaksi hidrolisis tawas melepaskan ion hidrogen yang mengurangi alkalinitas air.
Artinya, walaupun efektif menurunkan TDS dan kekeruhan, penggunaan tawas dalam jumlah tinggi perlu diikuti tahap netralisasi sebelum limbah dibuang ke lingkungan. Peneliti merekomendasikan penambahan kapur atau bahan penetral lain agar pH kembali stabil.
Bagi pelaku budidaya udang, hasil penelitian ini memberikan panduan teknis yang lebih jelas untuk merancang instalasi pengolahan air limbah. Dengan dosis yang tepat, limbah tambak bisa diolah lebih efisien tanpa meningkatkan biaya operasional secara berlebihan.
Di sisi lingkungan, penerapan metode ini berpotensi mengurangi beban pencemaran di kawasan pesisir yang selama ini menjadi pusat budidaya udang nasional. Semakin baik kualitas air buangan, semakin kecil risiko kerusakan habitat laut dan konflik lingkungan dengan masyarakat sekitar.
Studi ini juga membuka peluang pengembangan lebih lanjut, termasuk penggabungan tawas dengan bahan koagulan alami atau teknologi filtrasi lain untuk meningkatkan efisiensi pengolahan limbah tambak.
Di tengah meningkatnya produksi udang nasional dan tuntutan budidaya berkelanjutan, temuan dari Universitas Padjadjaran ini menjadi langkah penting untuk memastikan pertumbuhan industri tidak mengorbankan kualitas lingkungan.
0 Komentar