Lombok Utara – Budidaya lebah tanpa sengat atau meliponikultur di Desa Sigar Penjalin, Kabupaten Lombok Utara, dinilai sangat layak dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi. Temuan ini berasal dari penelitian yang dilakukan oleh Aldian Safputra Pratama, Endah Wahyuningsih, dan Muhamad Husni Idris dari Universitas Mataram pada Maret–April 2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan budidaya lebah trigona di Dusun Rangsot Timur memiliki tingkat kelayakan sebesar 82 persen, sehingga masuk kategori “sangat layak” sebagai objek wisata pendidikan.
Temuan ini penting karena membuka peluang baru bagi
pengembangan pariwisata berbasis edukasi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi
masyarakat desa. Selain menawarkan pengalaman wisata, kawasan ini juga
memberikan pembelajaran tentang budidaya lebah, produksi madu, konservasi
lingkungan, dan pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Wisata yang Menggabungkan Pendidikan dan Alam
Konsep eduwisata semakin diminati karena tidak hanya
menawarkan hiburan, tetapi juga pengalaman belajar langsung. Di Desa Sigar
Penjalin, pengunjung dapat melihat proses budidaya lebah trigona, mengenal
manfaat madu dan propolis, hingga memahami peran lebah dalam menjaga
keseimbangan ekosistem.
Lebah trigona memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena
menghasilkan madu, propolis, dan bee pollen yang banyak diminati masyarakat.
Madu trigona juga dikenal memiliki kandungan antioksidan yang tinggi sehingga
memiliki harga jual lebih mahal dibandingkan madu biasa.
Menurut tim peneliti dari Universitas Mataram, potensi
tersebut dapat menjadi daya tarik wisata yang unik karena menggabungkan unsur
pendidikan, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat lokal dalam satu destinasi.
Penelitian Melibatkan Guru dan Pemangku Kepentingan
Untuk mengukur tingkat kelayakan kawasan sebagai destinasi
eduwisata, peneliti menggunakan pendekatan campuran (mixed methods).
Sebanyak 41 guru sekolah dasar dan menengah
dilibatkan sebagai responden untuk menilai kelayakan wisata berdasarkan konsep 4A,
yaitu:
·
Attraction (daya tarik)
·
Accessibility (aksesibilitas)
·
Amenity (fasilitas)
·
Ancillary Services (layanan pendukung)
Selain itu, peneliti juga mengadakan Focus Group
Discussion (FGD) yang melibatkan lima pemangku kepentingan, termasuk
kelompok swadaya masyarakat, kelompok wanita tani, dan pemerintah desa untuk
mengidentifikasi faktor internal serta eksternal yang memengaruhi pengembangan
kawasan wisata.
Analisis strategi pengembangan kemudian dilakukan
menggunakan metode SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats).
Daya Tarik Menjadi Nilai Tertinggi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh aspek 4A
memperoleh nilai sangat baik.
Rinciannya sebagai berikut:
·
Attraction (Daya Tarik): 87%
·
Amenity (Fasilitas): 83%
·
Accessibility (Aksesibilitas): 82%
·
Ancillary Services (Layanan Pendukung): 77%
·
Rata-rata keseluruhan: 82%
Nilai tertinggi diperoleh pada aspek daya tarik. Para
responden menilai bahwa proses budidaya lebah trigona sangat menarik karena
memberikan pengalaman belajar langsung kepada pengunjung.
Wisatawan tidak hanya melihat lokasi budidaya, tetapi juga
dapat memahami proses pemeliharaan koloni lebah, panen madu, hingga manfaat
ekologis lebah bagi lingkungan sekitar.
Sementara itu, aspek fasilitas dan aksesibilitas juga
mendapat penilaian tinggi. Jalan menuju lokasi dinilai cukup baik dan fasilitas
dasar seperti area istirahat serta sarana pendukung wisata telah tersedia.
Meski demikian, peneliti mencatat bahwa layanan pendukung
masih perlu diperkuat, terutama dalam penyediaan paket wisata, pusat informasi,
layanan pengaduan, dan promosi digital.
Kekuatan dan Tantangan Pengembangan
Penelitian juga mengidentifikasi sejumlah faktor internal
yang menjadi kekuatan kawasan wisata.
Beberapa kekuatan utama yang ditemukan antara lain:
·
Proses budidaya yang menarik dan bernilai
edukatif.
·
Pengelola memiliki pengetahuan yang baik tentang
meliponikultur.
·
Lingkungan yang nyaman dan alami.
·
Tersedianya pemandu wisata.
·
Akses jalan yang baik.
·
Kemasan madu yang menarik dan telah
bersertifikat halal.
Di sisi lain, terdapat beberapa kelemahan yang perlu
diperhatikan, yaitu:
·
Promosi yang masih belum optimal.
·
Ketersediaan tanaman pakan lebah yang masih
terbatas.
·
Lokasi relatif jauh dari pusat kota.
·
Dukungan pemerintah yang masih perlu
ditingkatkan.
Dari faktor eksternal, peluang terbesar berasal dari
dukungan berbagai pihak nonpemerintah, termasuk lembaga sosial yang telah
membantu pengembangan kawasan. Selain itu, keberadaan sekolah, penginapan,
jaringan internet, dan minat wisatawan terhadap produk madu menjadi peluang
yang menjanjikan.
Namun, pengelola juga menghadapi sejumlah ancaman seperti
persaingan dengan destinasi wisata lain, persaingan harga madu, rendahnya minat
sebagian wisatawan lokal, serta pengaruh kondisi cuaca terhadap budidaya lebah.
Strategi Pengembangan: Menonjolkan Keunikan Wisata Lebah
Berdasarkan analisis SWOT, posisi kawasan eduwisata
meliponikultur berada pada Kuadran II, yang menunjukkan bahwa kawasan
memiliki kekuatan internal yang baik tetapi menghadapi tekanan eksternal yang
cukup tinggi.
Karena itu, strategi yang direkomendasikan adalah Strategi
Strength–Threat (ST), yaitu memanfaatkan kekuatan yang dimiliki untuk
menghadapi berbagai ancaman.
Beberapa strategi yang disarankan meliputi:
·
Menonjolkan keunikan budidaya lebah trigona
sebagai wisata edukasi.
·
Memperkuat promosi digital melalui media sosial.
·
Mengembangkan program wisata berbasis pengalaman
langsung.
·
Meningkatkan kualitas layanan pemandu wisata.
·
Memperkuat branding madu trigona sebagai produk
berkualitas dan halal.
·
Mengembangkan inovasi wisata edukasi yang
menarik bagi pelajar dan wisatawan.
Menurut tim peneliti, keunggulan utama kawasan ini terletak
pada pengalaman belajar yang tidak mudah ditemukan di destinasi wisata lain.
Potensi Mendorong Ekonomi dan Konservasi
Penelitian ini menunjukkan bahwa pengembangan wisata
budidaya lebah trigona tidak hanya berpotensi meningkatkan kunjungan wisatawan,
tetapi juga dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat desa.
Kegiatan wisata dapat membuka peluang usaha baru,
meningkatkan penjualan madu dan produk turunannya, serta memperkuat kesadaran
masyarakat terhadap pentingnya konservasi lingkungan.
“Proses budidaya yang menarik dan memiliki nilai edukasi
menjadi kekuatan utama dalam pengembangan eduwisata meliponikultur,” tulis tim
peneliti dari Universitas Mataram dalam hasil kajiannya.
Dengan dukungan promosi yang lebih baik dan penguatan fasilitas pendukung, Desa Sigar Penjalin berpeluang menjadi salah satu destinasi eduwisata unggulan berbasis lebah trigona di Nusa Tenggara Barat.
Profil Penulis
Sumber Penelitian

0 Komentar