Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas pengelolaan risiko di sektor perbankan syariah. Hal tersebut ditunjukkan melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh Rizqi Adhyka Kusumawati dan Arief Darmawan dari Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Islam Indonesia (UII). Penelitian yang dipublikasikan pada Juni 2026 ini menghasilkan sebuah aplikasi Credit Risk Rating (CRR) berbasis AI untuk membantu BPRS UII Yogyakarta melakukan analisis risiko pembiayaan secara lebih objektif, konsisten, dan transparan.
Sebagai lembaga keuangan syariah, BPRS UII menghadapi tantangan dalam menilai kelayakan pembiayaan karena proses analisis masih banyak bergantung pada penilaian subjektif analis. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan ketidakkonsistenan dalam pengambilan keputusan dan meningkatkan risiko pembiayaan bermasalah. Melalui program ini, tim peneliti merancang aplikasi berbasis AI yang berfungsi sebagai sistem pendukung keputusan (decision support system), bukan sebagai pengganti peran analis.
Program pengabdian dilaksanakan selama enam bulan, mulai Oktober 2024 hingga Maret 2025, dengan pendekatan partisipatif dan kolaboratif. Kegiatan meliputi observasi lapangan, identifikasi kebutuhan, perancangan aplikasi, penyusunan modul pelatihan, pendampingan pegawai, hingga evaluasi hasil implementasi. Pendekatan ini memastikan bahwa teknologi yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan operasional BPRS UII.
Aplikasi Credit Risk Rating dikembangkan menggunakan Flutter dengan bahasa pemrograman Dart. Sistem ini menerapkan dua model penilaian yang berbeda sesuai karakteristik nasabah.
Nasabah perorangan (retail) dinilai berdasarkan Debt Service Ratio (DSR), riwayat kredit SLIK, dan stabilitas pekerjaan menggunakan sistem logic gate.
Nasabah perusahaan (corporate) dinilai menggunakan expert system berdasarkan prinsip 5C (Character, Capacity, Capital, Collateral, dan Condition) dengan sistem pembobotan untuk menghasilkan peringkat risiko pembiayaan.
Hasil kegiatan menunjukkan sejumlah capaian penting.
Berhasil dikembangkan prototipe aplikasi Credit Risk Rating berbasis AI.
Tersusun modul pelatihan Credit Risk Scoring yang terstandarisasi.
Pegawai BPRS UII mengalami peningkatan pemahaman mengenai indikator risiko dan interpretasi hasil penilaian.
Program mendukung transformasi digital BPRS UII dalam pengelolaan risiko pembiayaan dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian dan transparansi sesuai karakteristik perbankan syariah.
Untuk pembiayaan perusahaan, aplikasi menghasilkan kategori peringkat risiko yang mudah dipahami. Rating AAA menunjukkan perusahaan sangat layak memperoleh pembiayaan dengan risiko gagal bayar yang sangat rendah. Rating BBB menunjukkan pembiayaan masih layak diberikan dengan pengawasan tambahan, sedangkan Rating D mengindikasikan bahwa perusahaan belum layak memperoleh pembiayaan karena kondisi keuangan atau agunan belum memadai. Sistem ini dirancang agar alasan di balik setiap hasil penilaian dapat dijelaskan secara transparan, sehingga lebih mudah diaudit dibandingkan model AI yang bersifat tertutup (black box).
Selama proses pendampingan, peneliti juga menekankan bahwa hasil aplikasi tidak boleh dijadikan satu-satunya dasar pengambilan keputusan. Keputusan akhir tetap harus mempertimbangkan kebijakan internal bank, kepatuhan terhadap prinsip syariah, hasil survei lapangan, kelengkapan dokumen, serta persetujuan pejabat yang berwenang. Dengan demikian, AI berfungsi sebagai alat bantu untuk meningkatkan objektivitas analisis tanpa menghilangkan peran manusia dalam proses pengambilan keputusan.
Evaluasi kegiatan memperlihatkan adanya peningkatan pada aspek standardisasi analisis risiko, kapasitas sumber daya manusia, pemanfaatan teknologi, serta kesadaran akan pentingnya kualitas data. Meski demikian, tim peneliti merekomendasikan pengembangan lanjutan melalui uji coba menggunakan data historis, integrasi aplikasi dengan standar operasional (SOP), penguatan tata kelola data, pelatihan berkala bagi pegawai, serta pengembangan dashboard early warning system untuk mendeteksi potensi risiko pembiayaan sejak dini.
Menurut Rizqi Adhyka Kusumawati dan Arief Darmawan dari Universitas Islam Indonesia, transformasi digital di sektor perbankan syariah tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga memerlukan kesiapan sumber daya manusia dan tata kelola organisasi yang baik. Penggunaan AI yang transparan dan dapat dijelaskan (explainable AI) menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas analisis pembiayaan sekaligus menjaga prinsip keadilan, akuntabilitas, dan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga keuangan syariah.
Profil Penulis
- Rizqi Adhyka Kusumawati - Universitas Islam Indonesia
- Arief Darmawan - Universitas Islam Indonesia
Sumber Penelitian
Kusumawati, R. A., & Darmawan, A. (2026). Designing an AI-Based Credit Risk Rating and Data Analysis Application to Improve the Effectiveness of Financing Risk Management at BPRS UII. Jurnal Pengabdian Masyarakat Bestari (JPMB), Vol. 5, No. 6, hlm. 483–496.

0 Komentar