Transformasi Budaya Kerja Jadi Kunci Kinerja PT PLN Enjiniring

Ilustrasi by AI

Padang — Transformasi budaya kerja dan kualitas layanan internal terbukti menjadi faktor paling kuat dalam meningkatkan kinerja perusahaan di PT PLN Enjiniring. Temuan ini diungkap dalam riset Mona Novi Astuty dan Vidyarini Dwita dari Universitas Negeri Padang yang dipublikasikan tahun 2026. Studi ini menjadi penting karena menunjukkan bahwa keberhasilan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh kompetensi individu, tetapi juga oleh sistem kerja dan budaya organisasi yang mampu mendukung produktivitas secara berkelanjutan.

Di tengah tekanan bisnis yang semakin kompleks, banyak perusahaan menghadapi tantangan besar dalam menyelaraskan strategi jangka panjang dengan pelaksanaan operasional sehari-hari. Kondisi ini dikenal sebagai strategic drift, ketika target perusahaan terlihat tercapai secara angka, tetapi tidak selalu mencerminkan kemajuan strategis yang sesungguhnya.

Fenomena itu juga terjadi di PT PLN Enjiniring. Dalam program transformasi “6G Transformation”, perusahaan telah menyusun 75 program strategis dan 433 milestone operasional hingga 2028. Namun hingga akhir 2025, pencapaian milestone baru menyentuh 61,6 persen dari target tahunan dan 25,46 persen dari target keseluruhan. Menariknya, skor kinerja organisasi tetap konsisten di atas angka 100. Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar: apakah performa tinggi itu benar-benar lahir dari transformasi yang efektif, atau hanya hasil penyesuaian indikator kerja?

Untuk menjawab hal tersebut, peneliti mengkaji hubungan antara kompetensi karyawan, transformasi budaya kerja, kualitas layanan internal, loyalitas karyawan, dan performa perusahaan. Penelitian dilakukan pada Maret hingga April 2026 dengan melibatkan 134 karyawan level strategis di PT PLN Enjiniring melalui survei daring.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya kerja atau Culture Set memiliki pengaruh signifikan terhadap kualitas layanan internal dan kinerja perusahaan. Nilai pengaruh budaya kerja terhadap kualitas layanan internal tercatat sebesar 0,744, sementara terhadap performa perusahaan mencapai 0,426. Ini menunjukkan bahwa budaya organisasi yang kuat mampu mempercepat koordinasi, meningkatkan disiplin kerja, dan memperkuat sistem operasional perusahaan.

Sebaliknya, kompetensi karyawan ternyata tidak memberikan pengaruh langsung yang signifikan terhadap kualitas layanan internal maupun performa perusahaan. Temuan ini menunjukkan bahwa kemampuan individu saja tidak cukup untuk mendorong hasil maksimal tanpa dukungan sistem organisasi yang solid.

Mona Novi Astuty dari Universitas Negeri Padang menjelaskan bahwa kompetensi akan lebih efektif jika terintegrasi dengan proses kerja yang efisien, dukungan manajerial, dan budaya organisasi yang konsisten. Dalam konteks PT PLN Enjiniring, kualitas layanan internal menjadi penghubung utama yang mengubah kompetensi menjadi hasil nyata.

Penelitian ini juga menemukan bahwa kualitas layanan internal memiliki dampak besar terhadap loyalitas karyawan. Ketika karyawan merasa didukung oleh sistem kerja yang jelas, koordinasi yang responsif, dan fasilitas kerja yang memadai, mereka cenderung memiliki komitmen lebih tinggi terhadap perusahaan.

Loyalitas ini kemudian terbukti berpengaruh signifikan terhadap performa perusahaan. Karyawan yang loyal lebih konsisten menjaga produktivitas, bekerja sama dalam tim, dan berkontribusi terhadap pencapaian target perusahaan.

Temuan lain yang cukup menarik adalah budaya kerja tidak secara langsung meningkatkan loyalitas karyawan. Artinya, budaya organisasi baru bisa memperkuat loyalitas jika diterjemahkan terlebih dahulu dalam pengalaman kerja nyata, seperti kualitas layanan internal dan dukungan operasional.

Secara keseluruhan, penelitian ini memperlihatkan bahwa transformasi organisasi modern membutuhkan lebih dari sekadar pelatihan kompetensi. Sistem internal, budaya kerja digital, serta pengalaman kerja yang mendukung menjadi elemen penting dalam membangun performa perusahaan yang berkelanjutan.

Bagi perusahaan besar seperti PT PLN Enjiniring, hasil riset ini memberi gambaran bahwa investasi pada budaya organisasi dan mekanisme kerja internal dapat memberikan dampak lebih besar dibanding hanya meningkatkan kapasitas individu. Dalam era transformasi digital, organisasi dituntut membangun ekosistem kerja yang adaptif, cepat, dan kolaboratif.

Temuan ini juga relevan bagi banyak perusahaan lain di Indonesia, terutama BUMN dan sektor energi, yang saat ini sedang menjalankan transformasi bisnis. Kinerja tinggi tidak lagi cukup diukur dari angka KPI semata, tetapi juga dari seberapa efektif budaya kerja dan sistem internal mendukung strategi jangka panjang perusahaan.

Profil Penulis
Mona Novi Astuty — Universitas Negeri Padang
Vidyarini Dwita — Universitas Negeri Padang

Sumber Penelitian:
The Effect of Competency and Culture Transformation on Company Performance: The Mediating Role of Service Quality and Employee Loyalty at PT PLN Enjiniring
East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR), 2026


Posting Komentar

0 Komentar