Kinerja Penyuluhan Pertanian di Komunitas Terpencil dan Masyarakat Adat: Pelajaran dari Teluk Bintuni, Papua Barat


Faktor Eksternal Lebih Menentukan Kinerja Penyuluh Pertanian di Wilayah Adat Papua Barat
TELUK BINTUNI, PAPUA BARAT – Kinerja penyuluh pertanian di wilayah terpencil dan masyarakat adat ternyata lebih banyak ditentukan oleh dukungan kelembagaan, infrastruktur, dan fasilitas kerja dibandingkan kemampuan individu semata. Temuan ini diungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh Salomina E.A. Homer dari Program Pascasarjana Ilmu Pertanian Universitas Papua bersama Yolanda Hole dan Amestina Matualage dari Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Papua. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan pada tahun 2026 dalam International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS). Studi ini menyoroti kondisi penyuluhan pertanian di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, salah satu wilayah dengan karakter geografis yang menantang di Indonesia. Wilayah ini terdiri atas kawasan pesisir, hutan tropis, sungai, rawa mangrove, serta kampung-kampung adat yang tersebar dan sulit dijangkau. Dalam kondisi seperti itu, penyuluh pertanian memegang peran penting sebagai penghubung antara inovasi pertanian, teknologi, dan petani lokal. Penyuluhan pertanian selama ini menjadi salah satu instrumen utama pemerintah dalam meningkatkan produktivitas pertanian, ketahanan pangan, dan kesejahteraan masyarakat pedesaan. Namun efektivitas layanan penyuluhan sering kali berbeda antarwilayah. Daerah-daerah terpencil seperti Papua Barat menghadapi berbagai kendala, mulai dari keterbatasan transportasi, minimnya sarana komunikasi, hingga dukungan kelembagaan yang belum optimal. Untuk memahami faktor-faktor yang memengaruhi kinerja penyuluh, para peneliti melakukan survei terhadap seluruh penyuluh pertanian yang bertugas di Kabupaten Teluk Bintuni. Sebanyak 78 responden terlibat dalam penelitian ini, terdiri atas 45 penyuluh berstatus pegawai negeri sipil dan 33 penyuluh kontrak. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan pendekatan statistik yang memungkinkan peneliti melihat hubungan antara berbagai faktor yang memengaruhi kinerja penyuluh. Penelitian membagi faktor yang memengaruhi kinerja menjadi dua kelompok utama. Faktor internal meliputi kompetensi teknis, pengetahuan, keterampilan, motivasi kerja, pengalaman, dan komitmen profesional. Sementara faktor eksternal mencakup dukungan institusi, ketersediaan infrastruktur, akses transportasi, fasilitas kerja, anggaran operasional, koordinasi organisasi, dan kebijakan pemerintah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor eksternal memiliki pengaruh paling kuat terhadap seluruh aspek kinerja penyuluh pertanian. Pengaruh tersebut terlihat pada tahap persiapan kegiatan, pelaksanaan penyuluhan, hingga evaluasi dan pelaporan hasil kegiatan.
Beberapa temuan utama penelitian meliputi:
-Faktor eksternal berpengaruh signifikan terhadap persiapan kegiatan penyuluhan dengan nilai koefisien 0,340.
-Faktor eksternal memiliki pengaruh paling besar terhadap pelaksanaan kegiatan penyuluhan dengan nilai koefisien 0,826.
-Faktor eksternal juga berpengaruh kuat terhadap evaluasi dan pelaporan kegiatan dengan nilai koefisien 0,628.
-Faktor internal berpengaruh signifikan terhadap kemampuan penyuluh dalam merencanakan program dan melakukan evaluasi.
-Faktor internal tidak terbukti berpengaruh signifikan terhadap keberhasilan pelaksanaan kegiatan penyuluhan di lapangan.
Menurut para peneliti, hasil ini menunjukkan bahwa kemampuan individu penyuluh yang baik belum tentu menghasilkan kinerja optimal apabila tidak didukung oleh sarana dan sistem kelembagaan yang memadai. Di wilayah yang memiliki tantangan geografis tinggi seperti Teluk Bintuni, keberhasilan penyuluhan lebih bergantung pada tersedianya transportasi, dukungan anggaran, koordinasi organisasi, dan akses terhadap fasilitas kerja. Penelitian juga menemukan bahwa sebagian besar penyuluh pertanian di Teluk Bintuni merupakan tenaga berpengalaman dengan masa kerja lebih dari sepuluh tahun. Mayoritas berada pada kelompok usia produktif akhir dan mendekati masa pensiun. Kondisi ini menjadi perhatian karena dapat memengaruhi keberlanjutan sistem penyuluhan pertanian dalam jangka panjang apabila tidak disertai regenerasi tenaga penyuluh. Distribusi penyuluh juga belum merata. Kecamatan-kecamatan yang memiliki aktivitas pertanian lebih intensif mendapatkan jumlah penyuluh lebih banyak, sementara beberapa wilayah terpencil hanya dilayani oleh satu orang penyuluh. Ketimpangan ini berpotensi memengaruhi kualitas pelayanan penyuluhan kepada petani di daerah yang sulit dijangkau. Yolanda Hole dan tim peneliti Universitas Papua menegaskan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia tetap penting, namun upaya tersebut harus berjalan seiring dengan penguatan sistem kelembagaan. Penyuluh yang kompeten membutuhkan dukungan fasilitas, sarana transportasi, akses komunikasi, serta kebijakan yang mendukung agar dapat bekerja secara efektif di wilayah adat dan daerah terpencil. Temuan ini memberikan pelajaran penting bagi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam merancang kebijakan pembangunan pertanian di kawasan timur Indonesia. Program peningkatan kompetensi penyuluh tidak akan memberikan hasil maksimal tanpa diimbangi investasi pada infrastruktur pendukung dan sistem organisasi yang kuat. Bagi masyarakat adat dan petani di Papua Barat, keberadaan penyuluh yang didukung fasilitas memadai dapat mempercepat adopsi teknologi pertanian, meningkatkan produktivitas usaha tani, serta memperkuat ketahanan pangan lokal. Sementara bagi pembuat kebijakan, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam merancang strategi penguatan layanan penyuluhan di wilayah perbatasan, terpencil, dan tertinggal. Para peneliti menyimpulkan bahwa keberhasilan pembangunan pertanian di wilayah adat tidak hanya ditentukan oleh kualitas penyuluh, tetapi juga oleh lingkungan kelembagaan yang mendukung. Infrastruktur, transportasi, anggaran operasional, dan koordinasi organisasi menjadi faktor kunci yang menentukan efektivitas penyuluhan pertanian di daerah-daerah terpencil Papua Barat.
Profil Penulis
Salomina E.A. Homer merupakan peneliti dan mahasiswa Program Pascasarjana Ilmu Pertanian Universitas Papua yang memiliki minat penelitian pada pembangunan pertanian, penyuluhan pertanian, dan pemberdayaan masyarakat pedesaan.
Yolanda Hole, S.P., M.Si. adalah dosen Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Papua dengan bidang keahlian agribisnis, penyuluhan pertanian, pembangunan pedesaan, dan pengembangan sumber daya manusia pertanian.
Amestina Matualage, S.P., M.Si. merupakan dosen Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Papua yang menekuni penelitian di bidang ekonomi pertanian, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan wilayah pedesaan.
Sumber Penelitian
Homer, S.E.A., Hole, Y., & Matualage, A. (2026). "Agricultural Extension Performance in Remote and Indigenous Communities: Lessons from Teluk Bintuni, West Papua." International Journal of Advanced Technology and Social Sciences (IJATSS), Vol. 4 No. 6, halaman 565–584.

Posting Komentar

0 Komentar