Studi Universitas Lampung Ungkap Tiga Kunci Sukses Pasar Payungi Bertahan Tanpa Dana Pemerintah

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Lampung - Sebuah penelitian terbaru dari Mulyadi, Hartoyo, dan Handi Mulyaningsih dari Universitas Lampung mengungkap alasan mengapa Pasar Yosomulyo Pelangi (Payungi) di Kota Metro, Lampung, mampu bertahan dan terus berkembang selama hampir tujuh tahun tanpa bergantung pada program pemerintah maupun pendanaan donor. Hasil penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2026 di Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR) menunjukkan bahwa keberhasilan Payungi bukan hanya berasal dari aktivitas jual beli, melainkan dari kekuatan modal sosial, tata kelola kolektif, dan pembelajaran dari kegagalan masa lalu.

Temuan ini menjadi penting karena sebagian besar program pemberdayaan masyarakat di negara berkembang umumnya mengalami stagnasi atau bahkan berhenti dalam tiga hingga lima tahun setelah bantuan pendanaan berakhir. Sebaliknya, Payungi justru terus berkembang sebagai pasar komunitas berbasis masyarakat yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat solidaritas sosial, pelestarian budaya, dan pemberdayaan perempuan.

Menurut para peneliti, keberhasilan Payungi menjadi contoh nyata bahwa pembangunan masyarakat tidak selalu membutuhkan investasi besar dari luar. Yang lebih menentukan justru kemampuan masyarakat membangun kepercayaan, kerja sama, dan tata kelola yang melibatkan seluruh warga.

Berawal dari Kegagalan yang Menjadi Pelajaran

Penelitian mengungkap bahwa lahirnya Payungi tidak terlepas dari kegagalan proyek wisata masyarakat bernama Damraman pada tahun 2017. Saat itu, konflik antardaerah dan lemahnya koordinasi membuat program tersebut berhenti dalam waktu singkat.

Alih-alih mengulang kesalahan yang sama, para pendiri Payungi menjadikan pengalaman tersebut sebagai dasar merancang sistem yang lebih kuat. Mereka membatasi wilayah pengembangan agar lebih fokus, menghabiskan sekitar enam bulan berdiskusi dengan masyarakat sebelum pasar dibuka, serta membangun kepercayaan melalui tokoh agama dan komunitas setempat.

Pendekatan tersebut membuat ide pasar benar-benar lahir dari masyarakat, bukan sekadar program yang diperkenalkan dari luar. Peneliti menyebut proses ini sebagai bentuk pembelajaran dari kegagalan (failure-based learning) yang menjadi fondasi utama keberhasilan Payungi.

Tiga Faktor yang Membuat Payungi Bertahan

Berdasarkan hasil penelitian lapangan yang dilakukan sepanjang kuartal ketiga tahun 2025, tim peneliti menemukan tiga mekanisme utama yang menjelaskan keberlanjutan Payungi.

Belajar dari kegagalan sebelumnya

Pengalaman runtuhnya proyek Damraman tidak dianggap sebagai akhir, melainkan menjadi sumber pembelajaran untuk membangun sistem yang lebih matang.

Setiap kelemahan pada proyek sebelumnya diterjemahkan menjadi keputusan nyata dalam desain kelembagaan Payungi, mulai dari wilayah operasional, proses komunikasi, hingga cara membangun dukungan masyarakat.

Membangun legitimasi dari tiga arah

Payungi tidak hanya memperoleh dukungan masyarakat, tetapi juga membangun kepercayaan dari pemerintah dan organisasi masyarakat sipil secara bersamaan.

Penelitian menyebut strategi ini sebagai triple legitimacy, yaitu:

  • Legitimasi masyarakat,
  • Legitimasi budaya,
  • Legitimasi pemerintah.

Dengan memiliki tiga sumber legitimasi sekaligus, Payungi tidak mudah terguncang apabila salah satu dukungan melemah.

Mengembangkan modal sosial secara bertahap

Penelitian juga menemukan bahwa Payungi berhasil membangun tiga bentuk modal sosial yang saling melengkapi, yaitu:

  • Bonding social capital, berupa kepercayaan yang kuat di antara warga sekitar;
  • Bridging social capital, yaitu hubungan lintas suku, kelompok, dan profesi;
  • Linking social capital, yakni hubungan baik dengan pemerintah, perguruan tinggi, media, dan lembaga lainnya.

Ketiga jenis modal sosial tersebut dibangun secara bersamaan sehingga menciptakan jaringan kerja sama yang kokoh dan berkelanjutan.

Tata Kelola yang Mengutamakan Musyawarah

Selain modal sosial, penelitian menyoroti sistem tata kelola Payungi yang bersifat kolektif.

Semua keputusan penting, seperti penerimaan pedagang baru, penyelesaian konflik, hingga arah pengembangan pasar, dilakukan melalui forum musyawarah bersama.

Menariknya, organisasi tetap memiliki sistem administrasi yang rapi agar mudah bekerja sama dengan pemerintah, tetapi tidak menghilangkan partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan.

Model ini membuat kepemimpinan tidak bergantung pada satu orang sehingga organisasi tetap berjalan meskipun terjadi pergantian pengurus.

Perputaran Uang Mencapai Rp4,8 Miliar per Tahun

Selain memperkuat hubungan sosial, Payungi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

Penelitian mencatat bahwa pasar yang hanya beroperasi setiap Minggu pukul 06.00–10.00 WIB tersebut memiliki sekitar 20 unit usaha dengan estimasi omzet sekitar Rp100 juta setiap penyelenggaraan.

Secara keseluruhan, omzet tahunan Payungi diperkirakan mencapai Rp4,8 miliar.

Pendapatan pedagang sangat beragam, mulai dari sekitar Rp500 ribu hingga Rp8 juta dalam setiap kegiatan pasar, tergantung jenis usaha yang dijalankan. Rata-rata pendapatan bulanan pedagang bahkan melampaui Upah Minimum Regional Lampung tahun 2025.

Mayoritas pedagang merupakan perempuan. Penelitian menunjukkan bahwa manfaat yang mereka rasakan tidak hanya berupa peningkatan pendapatan, tetapi juga meningkatnya rasa percaya diri, identitas sebagai pelaku usaha, dan posisi sosial di tengah masyarakat.

Menjadi Model Baru Pemberdayaan Masyarakat

Peneliti menilai keberhasilan Payungi dapat menjadi inspirasi bagi berbagai daerah semi-perkotaan di Indonesia.

Namun, mereka mengingatkan bahwa keberhasilan tersebut tidak dapat disalin begitu saja. Yang perlu diadopsi adalah prinsip-prinsip dasarnya, yaitu membangun hubungan sosial sebelum menjalankan program, belajar dari kegagalan sebelumnya, serta menciptakan tata kelola yang terbuka dan partisipatif.

Menurut tim peneliti, pemerintah sebaiknya lebih berperan sebagai fasilitator yang menyediakan dukungan administrasi, pelatihan, dan pengakuan hukum daripada mengendalikan seluruh proses pemberdayaan masyarakat. Pendekatan seperti ini dinilai lebih mampu menghasilkan organisasi masyarakat yang mandiri dan berkelanjutan.

Mulyadi dan tim dari Universitas Lampung menegaskan bahwa keberhasilan Payungi membuktikan ketahanan sebuah komunitas dibangun melalui hubungan sosial yang kuat, kepemimpinan kolektif, dan tata kelola yang inklusif. Filosofi "naik bersama" yang dipegang seluruh anggota menjadi landasan utama agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara merata tanpa mengorbankan solidaritas masyarakat.

Profil Penulis

Mulyadi merupakan akademisi dan peneliti yang berfokus pada inovasi sosial, pemberdayaan masyarakat, tata kelola komunitas, dan pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini dilakukan bersama Hartoyo dan Handi Mulyaningsih, yang juga berasal dari Universitas Lampung, dengan perhatian pada isu pembangunan masyarakat, modal sosial, dan kebijakan publik di Indonesia.

Sumber Penelitian

Judul Artikel: Rise Together: Social Capital, Collective Governance, and the Sustainability of Community Market Innovation in Semi-Urban Lampung, Indonesia

Penulis: Mulyadi, Hartoyo, Handi Mulyaningsih

Jurnal: Indonesian Journal of Advanced Research (IJAR), Vol. 5 No. 6, 2026.

DOI: https://doi.org/10.55927/ijar.v5i6.16696

https://journal.formosapublisher.org/index.php/ijar

Posting Komentar

0 Komentar