Hasil studi ini menjadi penting karena Pelabuhan Ketapang merupakan jalur utama penghubung distribusi barang antara Pulau Jawa dan Bali. Gangguan kecil pada operasional pelabuhan dapat memicu antrean kendaraan yang berdampak hingga ke jalan nasional dan rantai pasok regional.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Formosa Journal of Science and Technology (FJST) tersebut menyoroti perubahan pola kedatangan kendaraan setelah pembangunan Tol Trans Jawa. Jika sebelumnya kendaraan logistik datang lebih menyebar sepanjang waktu, kini kendaraan cenderung datang secara berkelompok atau batch arrivals dalam jumlah besar dan waktu yang hampir bersamaan.
Perubahan pola ini menimbulkan tekanan baru pada area penyangga kendaraan sebelum naik ke kapal feri, khususnya pada Dermaga Landing Craft Machine (LCM) IV, V, dan VI di Pelabuhan Ketapang.
Area ready-to-load yang diteliti memiliki luas tetap sebesar 6.170 meter persegi. Area ini berfungsi sebagai tempat menunggu kendaraan logistik sebelum masuk ke kapal. Ketika volume kendaraan meningkat tajam, kapasitas lahan menjadi faktor yang menentukan apakah arus distribusi tetap lancar atau justru berubah menjadi kemacetan.
Untuk memahami kondisi tersebut, tim peneliti menggunakan pendekatan simulasi sistem dinamis melalui perangkat lunak Powersim. Metode ini memungkinkan peneliti memodelkan interaksi antara jumlah kendaraan masuk, kapasitas area parkir, durasi proses bongkar muat kapal, serta kecepatan kendaraan berpindah dari darat ke kapal.
Alih-alih hanya menghitung kapasitas secara statis, simulasi ini menggambarkan bagaimana kondisi pelabuhan berubah dari waktu ke waktu dan bagaimana antrean terbentuk ketika terjadi lonjakan kendaraan.
Tim peneliti membandingkan dua skenario utama berdasarkan klasifikasi kendaraan logistik yang umum melintasi lintasan Ketapang–Gilimanuk.
Skenario pertama menggunakan kendaraan Logistik Kelas VII dengan panjang kendaraan sekitar 12–16 meter.
Hasil simulasi menunjukkan kondisi operasional masih sangat aman.
Beberapa temuan utamanya antara lain:
Dalam kondisi ini, pelabuhan memiliki ruang manuver yang cukup luas sehingga risiko kemacetan dan penumpukan kendaraan relatif rendah.
Namun situasi berubah drastis ketika simulasi dijalankan untuk kendaraan Logistik Kelas VIII, yaitu kendaraan berat dengan panjang lebih dari 16 meter seperti trailer dan truk gandeng.
Pada skenario ini, area parkir hampir mencapai batas maksimal.
Temuan pentingnya meliputi:
Dalam kondisi tersebut, keterlambatan kecil pada proses pemuatan kapal berpotensi langsung memicu antrean kendaraan hingga keluar area pelabuhan.
Menurut tim peneliti, kondisi ini menunjukkan bahwa kapasitas lahan saat ini masih mampu melayani operasi normal, tetapi tidak memiliki ruang toleransi yang cukup ketika terjadi lonjakan kendaraan besar secara bersamaan.
Abdurrahman Mahdy Al Faishal dan tim menjelaskan bahwa solusi jangka pendek tidak selalu harus berupa perluasan lahan. Optimalisasi operasional dapat memberikan dampak signifikan.
Beberapa rekomendasi yang diajukan antara lain integrasi sistem tiket digital dengan data volume parkir secara real-time, pengaturan ulang jadwal kapal saat musim puncak, pengawasan ketat waktu buka-tutup ramp kapal, serta penyediaan buffer zone atau area penampungan sementara di luar kawasan pelabuhan.
Pendekatan ini dinilai lebih realistis mengingat kondisi geografis Pelabuhan Ketapang yang terbatas oleh garis pantai, jaringan jalan nasional, dan kawasan permukiman.
Secara lebih luas, penelitian ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur besar seperti jalan tol perlu diikuti dengan kesiapan titik simpul transportasi di ujung jaringan. Efisiensi perjalanan di jalan raya dapat hilang ketika pelabuhan tidak mampu menyerap peningkatan volume kendaraan.
Temuan ini juga membuka peluang penggunaan simulasi sistem dinamis sebagai alat pengambilan keputusan pada pengelolaan pelabuhan dan transportasi logistik di Indonesia.
Hanie Teki Tjendani - Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Budi Witjaksana - Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
URL : https://journalfjst.my.id/index.php/fjst
0 Komentar