Temuan ini menjadi penting karena jumlah investor muda di Indonesia terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Selama ini banyak pihak beranggapan bahwa literasi keuangan orang tua merupakan faktor utama yang membentuk kebiasaan investasi anak. Namun hasil penelitian menunjukkan kenyataan yang berbeda. Dukungan ekonomi keluarga justru memiliki pengaruh yang lebih nyata dibandingkan kemampuan orang tua dalam memahami investasi.
Pasar modal Indonesia terus berkembang seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap berbagai instrumen investasi, terutama saham. Kehadiran teknologi digital, aplikasi investasi, serta kemudahan memperoleh informasi membuat Generasi Z semakin aktif mengenal dunia investasi sejak usia muda. Kondisi tersebut mendorong para peneliti untuk mengetahui apakah pengaruh keluarga masih menjadi faktor dominan dalam membentuk niat berinvestasi generasi muda.
Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif terhadap 199 investor saham yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah. Seluruh responden merupakan individu yang telah melakukan transaksi saham di pasar modal Indonesia. Data dikumpulkan melalui kuesioner daring dan dianalisis menggunakan metode statistik untuk mengukur hubungan antara karakteristik orang tua dengan minat investasi anak.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua karakteristik orang tua memberikan pengaruh terhadap minat investasi Generasi Z.
Temuan utama penelitian meliputi:
- Literasi keuangan orang tua tidak berpengaruh signifikan terhadap minat investasi anak.
- Pengetahuan investasi orang tua juga tidak memberikan pengaruh yang berarti.
- Tingkat pendidikan orang tua tidak terbukti memengaruhi niat investasi Generasi Z.
- Sebaliknya, pekerjaan orang tua memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap minat investasi anak karena berkaitan dengan kemampuan ekonomi keluarga.
Menurut penulis, hasil tersebut menunjukkan bahwa Generasi Z tidak lagi sepenuhnya bergantung pada orang tua dalam memperoleh pengetahuan investasi. Mereka lebih banyak belajar secara mandiri melalui media sosial, platform digital, seminar, komunitas investasi, hingga aplikasi edukasi keuangan yang kini semakin mudah diakses.
Di sisi lain, pekerjaan orang tua menjadi faktor yang lebih menentukan karena berhubungan langsung dengan kondisi finansial keluarga. Orang tua yang memiliki pekerjaan lebih stabil umumnya mampu memberikan dukungan berupa uang saku, modal awal investasi, maupun rasa aman secara ekonomi sehingga anak lebih percaya diri untuk mulai berinvestasi. Kondisi ini memperbesar peluang Generasi Z memasuki pasar modal dibandingkan keluarga dengan kemampuan ekonomi yang lebih terbatas.
Penelitian ini juga menemukan bahwa variabel keluarga yang diteliti hanya mampu menjelaskan sekitar 9,5 persen variasi minat investasi Generasi Z. Artinya, masih terdapat banyak faktor lain yang memengaruhi keputusan investasi, seperti sikap terhadap risiko, pengalaman investasi, pengaruh teman sebaya, kepercayaan diri dalam mengelola keuangan, media sosial, hingga paparan informasi digital.
Bagi dunia pendidikan dan pembuat kebijakan, hasil penelitian ini memberikan pesan bahwa peningkatan literasi keuangan tidak cukup hanya menyasar orang tua. Program edukasi investasi perlu diarahkan langsung kepada Generasi Z melalui media digital yang memang menjadi sumber belajar utama mereka. Selain itu, perlu diperluas akses terhadap modal investasi yang terjangkau agar lebih banyak anak muda dapat mulai berinvestasi sejak dini.
Miswanto dan Jennie Bernadeth Harefa menjelaskan bahwa karakteristik sosial ekonomi keluarga, khususnya pekerjaan orang tua, lebih berperan dalam membentuk minat investasi dibandingkan transfer pengetahuan keuangan antargenerasi. Temuan ini memperkaya kajian keuangan perilaku (behavioral finance), terutama dalam memahami bagaimana kondisi ekonomi keluarga memengaruhi keputusan investasi Generasi Z di negara berkembang seperti Indonesia.
Ke depan, para peneliti merekomendasikan agar studi serupa melibatkan wilayah yang lebih luas serta memasukkan faktor-faktor lain seperti motivasi investasi, pengaruh media sosial, influencer keuangan, dan efikasi diri agar dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai perilaku investasi generasi muda Indonesia.
Profil Penulis
Jennie Bernadeth Harefa merupakan peneliti dari STIE YKPN School of Business Yogyakarta yang memiliki minat penelitian di bidang investasi dan perilaku keuangan.
Miswanto merupakan peneliti di STIE YKPN School of Business Yogyakarta dengan keahlian pada bidang manajemen keuangan, investasi, perilaku konsumen, kewirausahaan, dan literasi keuangan. Ia telah menghasilkan berbagai publikasi ilmiah pada bidang keuangan, pasar modal, serta manajemen bisnis.
Sumber Penelitian
Harefa, Jennie Bernadeth & Miswanto. (2026). The Influence of Financial Literacy, Investment Knowledge, Education, and Parents' Work on Their Children's Investment Intentions in The Capital Market (Case Studies in the Special Regions of Yogyakarta and Central Java). International Journal of Economic, Finance and Business Statistics (IJEFBS), Vol. 4 No. 3, hlm. 229–248.
DOI: 10.59890/ijefbs.v4i3.8.
URL: http://journalijefbs.my.id/index.php/ijefbs
0 Komentar