Mahasiswa yang menempuh pendidikan di
lingkungan internasional sering kali menghadapi kendala psikologis berupa
kecemasan saat harus menggunakan bahasa asing dalam kegiatan akademik.
Syamsurijal dari Universitas Negeri Makassar pada Mei 2026 mengembangkan model
Bimbingan Akademik Translanguaging sebagai kerangka
kerja sistematis untuk mereduksi hambatan tersebut. Inovasi ini menjadi krusial
dalam mendukung kenyamanan belajar mahasiswa di tengah era globalisasi
pendidikan tinggi yang semakin kompetitif.
Tantangan Kecemasan
Berbahasa
Kecemasan berbahasa bukan sekadar
masalah teknis kurangnya kosakata, melainkan fenomena multidimensional yang
dipengaruhi oleh faktor psikologis, metode pembelajaran, hingga ideologi
kebahasaan di lingkungan kampus. Banyak mahasiswa merasa tertekan dan kurang
percaya diri ketika standar akademik menuntut kefasihan bahasa asing secara
instan. Tanpa dukungan yang tepat, kondisi ini dapat menurunkan motivasi
belajar dan menghambat potensi akademik mahasiswa secara signifikan.
Metodologi
Pengembangan Model
Peneliti menggunakan metode Systematic Literature Review (SLR) dengan protokol
PRISMA untuk menyusun kerangka model ini. Tim peneliti meninjau 20 studi
empiris dari basis data Scopus dan Google Scholar yang diterbitkan antara tahun
2020 hingga 2025. Proses ini bertujuan untuk mensintesis prinsip-prinsip translanguaging—praktik fleksibel penggunaan dua bahasa
atau lebih dalam satu kegiatan—dan mengintegrasikannya ke dalam praktik
bimbingan akademik yang sudah ada.
Temuan Utama: Lima
Dimensi Intervensi
Model bimbingan yang dikembangkan
oleh Syamsurijal mengoperasionalisasikan translanguaging
melalui lima dimensi intervensi strategis:
· Penguatan Kecerdasan Emosional: Membangun
kesadaran diri mahasiswa untuk mengelola emosi dan rasa takut saat
berkomunikasi.
Integrasi Konten-Bahasa: Menghubungkan
pemahaman materi akademik dengan dukungan bahasa yang lebih fleksibel, sehingga
fokus mahasiswa tetap pada substansi pelajaran.
Pendampingan Personal: Menyediakan ruang
bagi mahasiswa untuk mengekspresikan diri menggunakan bahasa yang paling nyaman
bagi mereka sebagai langkah awal kepercayaan diri.
Lingkungan Bahasa Inklusif: Mendorong budaya
kampus yang menghargai keberagaman bahasa sebagai aset, bukan sebagai
penghalang.
Strategi Mitigasi: Penerapan teknik komunikasi yang
meminimalisir tekanan performatif dalam lingkungan kelas internasional.
Manfaat bagi Dunia
Pendidikan
Implementasi model ini menawarkan
harapan baru bagi perguruan tinggi untuk menciptakan lingkungan belajar yang
lebih inklusif. Menurut Syamsurijal dari Universitas Negeri Makassar,
pendekatan ini tidak hanya membantu mahasiswa mengatasi kecemasan, tetapi juga
meningkatkan performa akademik secara menyeluruh. Bagi dunia pendidikan tinggi,
model ini memberikan panduan praktis bagi dosen pembimbing dan konselor untuk
tidak sekadar menuntut kefasihan bahasa, melainkan memfasilitasi proses belajar
yang humanis dan mendukung perkembangan potensi mahasiswa secara maksimal.
Profil
Penulis:
Syamsurijal – Peneliti,
Universitas Negeri Makassar; bidang keahlian: Bimbingan Akademik dan Pendidikan
Tinggi.
Sumber
Penelitian:
Syamsurijal. (2026). "Development of a Translanguaging Academic Guidance Model: Integration of Academic Guidance/Learning to Overcome Student Language Anxiety". Journal of Educational Analytics (JEDA), 5(2), 548-563. DOI: https://doi.org/10.55927/jeda.v5i2.30
0 Komentar