Membangun Kembali Tobelo: Filosofi Hibua Lamo Jadi Kunci Rekonsiliasi Sosial Pascakonflik dan Tantangan Pembangunan Berkelanjutan

Gambar Ilustrasi AI

FORMOSA NEWS - Maluku Utara - Proses rekonstruksi sosial di wilayah pascakonflik tidak hanya bertumpu pada pemulihan infrastruktur fisik, tetapi juga pada penyembuhan trauma kolektif dan penguatan integrasi masyarakatPenelitian yang dilakukan oleh Abubakar Muhammad Nur, dari Universitas Muhammadiyah Maluku Utara dalam artikel penelitian yang dipublikasikan pada Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS) edisi Vol. 5 No. 6 Tahun 2026 menyoroti bahwa masyarakat Tobelo di Kabupaten Halmahera Utara berhasil memperkuat kembali kohesi sosial mereka melalui revitalisasi nilai-nilai adat lokal, khususnya filosofi Hibua Lamo.

Memulihkan Fondasi Budaya yang Sempat Retak
Tobelo merupakan salah satu wilayah yang terdampak serius oleh konflik komunal Maluku yang terjadi antara tahun 1999 dan 2001. Kekerasan masa lalu tersebut sempat melahirkan polarisasi agama, memicu gelombang pengungsian, menyisakan trauma kolektif, serta melemahkan tatanan nilai budaya lokal yang semula berfungsi sebagai perekat sosial. Faktor pemantik seperti fanatisme, fragmentasi sosial, hingga pengaruh ketegangan dari wilayah sekitar sempat merusak pola interaksi harmonis antarkomunitasMerespons dampak berkepanjangan tersebut, masyarakat Tobelo bersama tokoh adat dan tokoh agama menginisiasi gerakan pemulihan berbasis kearifan lokal. Filosofi kuno Hibua Lamo dihidupkan kembali sebagai fondasi budaya utama. Konsep ini mengingatkan kembali seluruh lapisan masyarakat bahwa terlepas dari perbedaan keyakinan yang ada, mereka semua tetap berada dalam naungan satu ikatan keluarga besar yang setara.

Pendekatan Studi Kasus Lapangan
Untuk memahami dinamika ini secara mendalam, Abubakar Muhammad Nur menggunakan metode studi kasus kualitatif dengan turun langsung melakukan pengamatan dan wawancara di Tobelo. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif terhadap aktivitas adat serta wawancara mendalam yang melibatkan 15 informan kunci. Para informan tersebut terdiri dari:
  • Pemuka agama.
  • Tokoh adat dan perwakilan masyarakat.
  • Pejabat pemerintah daerah.
  • Perwakilan organisasi pemuda lokal.
  • Warga sipil yang terdampak langsung oleh konflik masa lalu.
Keabsahan data dalam riset ini dijaga ketat melalui teknik triangulasi sumber dan pengecekan ulang (member checking) bersama para partisipan untuk memastikan seluruh interpretasi sosiologis berjalan akurat dan objektif.

Lima Dimensi Rekonstruksi Sosial dan Temuan Utama

Penelitian ini menemukan bahwa pemulihan sosial di Tobelo tidak bergerak secara linear, melainkan melalui proses adaptasi yang kompleks. Secara umum, terdapat lima dimensi utama rekonstruksi sosial yang berhasil diidentifikasi di lapangan:

  • Kohesi Sosial: Terjadi peningkatan bertahap dalam pola interaksi dan kerja sama antarkomunitas beragama yang awalnya sempat diwarnai kecurigaan.
  • Reintegrasi Budaya: Revitalisasi nilai-nilai Hibua Lamo dan praktik perdamaian adat terbukti efektif memperkecil jarak sosial.
  • Pemulihan Institusional: Adanya program perdamaian yang dipimpin oleh pemerintah daerah beserta rehabilitasi infrastruktur penunjang publik.
  • Kolaborasi Ekonomi: Munculnya aktivitas ekonomi bersama dan pasar inklusif yang melibatkan kelompok masyarakat lintas identitas.
  • Tantangan Tersisa: Persistensi trauma kolektif, segregasi permukiman informal, serta keterbatasan administratif lembaga lokal.
Meskipun komunikasi sehari-hari kini jauh lebih terbuka, sebagian korban konflik dan generasi tua masih memiliki sensitivitas emosional yang tinggi saat membahas isu komunal masa lalu. Kondisi ini menciptakan apa yang disebut para ahli sebagai "perdamaian yang rapuh" (fragile peace), di mana masyarakat tampak hidup berdampingan secara damai di permukaan, tetapi masih menyimpan memori psikologis yang membentengi interaksi yang lebih mendalam.

Implikasi Kebijakan: Menuju Tata Kelola Inklusif
Bagi para pengambil kebijakan, pemerintah daerah, dan lembaga swadaya masyarakat, hasil studi ini memberikan rekomendasi konkret. Pembangunan di wilayah pascakonflik seperti Tobelo wajib mengintegrasikan kebijakan pertumbuhan ekonomi dengan prinsip keadilan sosial dan pelestarian budayaPemerintah daerah disarankan untuk memperkuat program pemberdayaan ekonomi yang berbasis partisipasi lintas kelompok, memperluas pelatihan keterampilan bagi pemuda, serta menyusun regulasi pembangunan yang sensitif terhadap hukum adat. Tanpa adanya pemerataan ekonomi dan penguatan kelembagaan yang inklusif, modal sosial yang sudah dibangun melalui rekonsiliasi budaya akan menjadi rapuh dan rentan terhadap guncangan sosial baru.

Profil Peneliti
Abubakar Muhammad Nur adalah seorang peneliti, akademisi, dan sosiolog yang berbasis di Universitas Muhammadiyah Maluku Utara. Beliau memiliki fokus keahlian pada studi sosiologi pascakonflik, rekonsiliasi berbasis kearifan lokal, kohesi sosial, serta dinamika pembangunan masyarakat di kawasan Indonesia Timur.

Sumber Penelitian
Abubakar Muhammad Nur. Examining the Dynamics of Social Reconstruction in Tobelo After the Conflict and the Challenges of Sustainable Development. Formosa Journal of Applied Sciences (FJAS)Vol. 5, No. 6 2026. Hal. 1361–1376
DOI : https://doi.org/10.55927/fjas.v5i6.68 
URLhttps://journalfjas.my.id/index.php/fjas

Posting Komentar

0 Komentar