Eastern Samar — Implementasi Kurikulum MATATAG di Filipina mulai menunjukkan dampak positif bagi proses belajar siswa, tetapi masih dibayangi berbagai tantangan serius seperti kurangnya pemahaman masyarakat, minimnya fasilitas belajar, dan kesiapan guru yang belum merata. Hal itu terungkap dalam riset terbaru yang ditulis Jenny C. Cabantoc, Judy O. Baldizar, Cherry Ann R. Carpio, dan Jenylyn M. Bantilan dari Eastern Samar State University pada 2026. Studi ini penting karena menggambarkan bagaimana kebijakan pendidikan baru berjalan di tingkat sekolah dasar dan bagaimana keterlibatan masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilannya.
Kurikulum MATATAG diperkenalkan oleh Departemen Pendidikan Filipina sebagai jawaban atas rendahnya performa siswa dalam asesmen internasional dan persoalan lama dalam sistem K-12, termasuk materi pelajaran yang terlalu padat. Kurikulum baru ini dirancang untuk memperkuat literasi, numerasi, kemampuan berpikir kritis, dan pengembangan sosial-emosional siswa.
Namun, penerapannya di lapangan tidak semudah yang dibayangkan.
Penelitian yang dilakukan di Sulangan Central Elementary School, Guiuan, Eastern Samar, menunjukkan bahwa banyak pihak di luar sekolah, termasuk pemimpin gereja dan pelaku usaha lokal, bahkan belum memahami apa itu Kurikulum MATATAG. Kondisi ini menjadi hambatan awal dalam membangun dukungan komunitas terhadap sekolah.
Judy O. Baldizar dari Eastern Samar State University menilai bahwa rendahnya kesadaran masyarakat menjadi tanda adanya celah komunikasi antara sekolah dan lingkungan sekitar. Padahal, dukungan komunitas sangat dibutuhkan untuk memperkuat implementasi kurikulum.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap guru, siswa, orang tua, pejabat barangay, dan perwakilan sektor swasta. Pendekatan ini dipilih untuk menggali pengalaman nyata para pemangku kepentingan dalam menjalankan kurikulum baru tersebut.
Hasil penelitian menemukan bahwa salah satu masalah paling nyata adalah kurangnya bahan ajar dan sumber belajar. Guru mengaku kesulitan menyampaikan materi dengan optimal karena keterbatasan buku, alat bantu mengajar, dan media pembelajaran yang memadai.
Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas pengalaman belajar siswa. Dalam beberapa kasus, siswa mengaku materi yang diberikan terlalu sulit atau terasa seperti pelajaran untuk tingkat yang lebih tinggi.
Meski begitu, sisi positif dari Kurikulum MATATAG juga mulai terlihat. Banyak siswa merasa pembelajaran menjadi lebih menarik, interaktif, dan menyenangkan. Model belajar berbasis kolaborasi dan diskusi dinilai membuat mereka lebih aktif di kelas.
Temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan pembelajaran baru mampu meningkatkan keterlibatan siswa, terutama dalam membangun kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah.
Selain itu, kurikulum ini juga dinilai membantu pembentukan karakter siswa. Tidak hanya fokus pada akademik, MATATAG mendorong pengembangan keterampilan hidup, kerja sama, kreativitas, dan nilai moral yang lebih kuat.
Namun, keberhasilan ini tetap sangat bergantung pada kesiapan guru. Banyak guru mengaku masih membutuhkan pelatihan tambahan agar lebih siap menyesuaikan metode mengajar dengan tuntutan kurikulum baru.
Menurut para peneliti, guru adalah ujung tombak implementasi. Jika guru belum sepenuhnya siap, maka efektivitas kurikulum akan sulit tercapai secara maksimal.
Penelitian ini juga menunjukkan adanya peluang besar dari sisi dukungan komunitas. Meski banyak yang belum memahami MATATAG, pejabat lokal dan tokoh masyarakat menyatakan kesediaan untuk membantu melalui dukungan logistik, tenaga, bahkan pendanaan.
Bagi dunia pendidikan, temuan ini menegaskan bahwa reformasi kurikulum bukan hanya soal mengganti materi pelajaran. Keberhasilan kebijakan pendidikan sangat bergantung pada komunikasi, pelatihan guru, ketersediaan sumber daya, dan partisipasi masyarakat.
Dalam konteks Asia Tenggara, studi ini menjadi pengingat bahwa transformasi pendidikan harus berjalan secara inklusif. Kurikulum yang baik hanya akan berhasil jika seluruh ekosistem pendidikan bergerak bersama.
0 Komentar