Jalan merupakan infrastruktur utama yang mendukung aktivitas ekonomi, mobilitas masyarakat, serta pelayanan publik. Namun, di banyak daerah, kerusakan jalan sering muncul lebih cepat dari umur rencana konstruksinya. Kondisi tersebut juga terjadi di Jalan Taebenu, Kota Kupang, yang mengalami berbagai jenis kerusakan seperti lubang, pelepasan butiran aspal, dan amblas. Selain mengganggu kenyamanan berkendara, kerusakan tersebut meningkatkan potensi kecelakaan bagi pengguna jalan.
Selama ini, masyarakat umumnya melakukan perbaikan secara sederhana dengan mengisi lubang menggunakan tanah atau batu lepas tanpa bahan pengikat. Cara tersebut hanya bertahan dalam waktu singkat karena material mudah tergerus hujan maupun tekanan kendaraan. Kondisi ini menunjukkan masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai teknik pemeliharaan jalan yang benar.
Melihat kondisi tersebut, tim dosen Akademi Teknik Kupang menggandeng Karang Taruna sebagai mitra utama dalam kegiatan edukasi dan pelatihan. Organisasi kepemudaan dinilai memiliki peran strategis karena berada langsung di lingkungan masyarakat dan dapat menjadi motor penggerak dalam menjaga infrastruktur secara berkelanjutan.
Program dilaksanakan melalui dua tahapan utama. Tahap pertama berupa penyuluhan interaktif mengenai penyebab kerusakan jalan, jenis-jenis kerusakan perkerasan, serta pengenalan metode Lapen sebagai solusi perbaikan darurat yang relatif mudah diterapkan oleh masyarakat. Setelah memperoleh pemahaman dasar, peserta mengikuti praktik langsung di lapangan pada titik-titik jalan yang mengalami kerusakan di Jalan Taebenu.
Dalam praktik tersebut, peserta mempelajari seluruh tahapan pekerjaan, mulai dari membersihkan lubang jalan, menyusun agregat utama, menyiram aspal panas, menambahkan agregat pengunci, hingga melakukan pemadatan secara manual. Pendekatan praktik langsung atau hands-on training dipilih agar peserta tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan teknis yang dapat diterapkan secara mandiri di lingkungan mereka.
Hasil kegiatan menunjukkan perubahan yang signifikan pada kemampuan peserta. Sebelum pelatihan, sebagian besar anggota Karang Taruna belum memahami penyebab utama kerusakan jalan maupun teknik penanganan yang tepat. Setelah mengikuti penyuluhan dan praktik lapangan, mereka mampu mengidentifikasi berbagai bentuk kerusakan perkerasan sekaligus memahami pentingnya sistem drainase, beban kendaraan, dan kualitas material dalam menjaga umur jalan.
Selain peningkatan pengetahuan, pelaksanaan praktik menghasilkan perbaikan fisik pada beberapa titik jalan yang sebelumnya mengalami kerusakan cukup parah. Tambalan menggunakan metode Lapen menghasilkan permukaan yang lebih padat, lebih rapat, lebih kedap air, dan menyatu dengan lapisan jalan yang sudah ada. Dibandingkan metode penimbunan menggunakan material lepas, teknik ini memberikan daya tahan yang lebih baik sehingga diharapkan mampu mengurangi frekuensi kerusakan berulang.
Tim peneliti juga mencatat tingginya antusiasme masyarakat selama kegiatan berlangsung. Peserta aktif mengikuti setiap tahapan pelatihan dan menyatakan bahwa metode yang diajarkan mudah dipahami serta dapat diterapkan kembali ketika menemukan kerusakan jalan di lingkungan sekitar. Walaupun sempat menghadapi kendala dalam pengaturan suhu aspal dan koordinasi kerja kelompok, seluruh hambatan dapat diatasi melalui pendampingan langsung dari tim dosen Akademi Teknik Kupang.
Menurut tim penulis, keberhasilan kegiatan ini menunjukkan bahwa pemberdayaan masyarakat dapat menjadi salah satu solusi dalam pemeliharaan infrastruktur skala lingkungan. Dengan membekali masyarakat melalui edukasi dan praktik langsung, perbaikan awal terhadap jalan yang rusak dapat dilakukan lebih cepat tanpa harus selalu menunggu penanganan berskala besar dari pemerintah. Pendekatan tersebut juga memperkuat budaya gotong royong sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga fasilitas publik.
Dampak penelitian ini tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di Jalan Taebenu, tetapi juga berpotensi diterapkan di berbagai daerah lain yang menghadapi permasalahan serupa. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan organisasi masyarakat seperti Karang Taruna dapat menjadi model pemberdayaan yang efektif dalam menjaga kualitas infrastruktur jalan sekaligus meningkatkan keselamatan pengguna jalan. Tim penulis juga merekomendasikan agar pelatihan serupa dilaksanakan secara berkala, melibatkan lebih banyak peserta, serta disertai evaluasi jangka panjang mengenai ketahanan hasil perbaikan menggunakan metode Lapen.
Profil Penulis
Ari Esclesias Sinaga merupakan dosen Program Studi D3 Teknik Sipil, Akademi Teknik Kupang. Penelitian ini ditulis bersama Benny Tua Siahaan, Agnesius Tlonaen, Adveni Hesty Altisari Lada, Yeni Emilia, Charisal A. Manu, dan I Made Suparta, yang juga berasal dari Akademi Teknik Kupang. Bidang keahlian tim penulis meliputi teknik sipil, konstruksi jalan, pemeliharaan infrastruktur, serta pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan pengabdian.
0 Komentar