Samarinda — Struktur modal perusahaan kelapa sawit di Indonesia ternyata tidak hanya ditentukan oleh kondisi internal perusahaan, tetapi juga dipengaruhi oleh dinamika harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar global. Temuan ini diungkap dalam riset terbaru yang ditulis oleh Retno Damayanti, Felisitas Defung, dan Ike Purnamasari dari Universitas Mulawarman pada 2026.
Studi yang dipublikasikan dalam East Asian Journal of Multidisciplinary Research (EAJMR) itu mengulas bagaimana profitabilitas dan likuiditas memengaruhi keputusan penggunaan utang pada perusahaan perkebunan sawit yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia selama periode 2016–2025. Hasilnya penting karena industri sawit merupakan salah satu tulang punggung ekspor nasional dan sangat sensitif terhadap perubahan harga komoditas global.
Dalam industri perkebunan sawit, kebutuhan modal sangat besar. Perusahaan harus membiayai pembelian lahan, perawatan tanaman, pupuk, hingga pembangunan pabrik pengolahan. Karena itu, keputusan tentang berapa banyak utang yang digunakan menjadi hal krusial untuk menjaga stabilitas keuangan.
Selama satu dekade terakhir, harga CPO mengalami fluktuasi signifikan. Pada saat harga naik tajam, pendapatan perusahaan cenderung meningkat. Sebaliknya, ketika harga turun, tekanan terhadap arus kas juga ikut membesar. Situasi inilah yang mendorong para peneliti untuk melihat apakah harga CPO ikut memengaruhi hubungan antara kondisi keuangan internal perusahaan dengan kebijakan utangnya.
Penelitian ini menganalisis 10 perusahaan sawit yang memenuhi kriteria selama periode observasi, dengan total 100 data tahunan perusahaan. Data yang digunakan berasal dari laporan keuangan publik di Bursa Efek Indonesia dan data harga komoditas dari World Bank. Peneliti menggunakan pendekatan statistik untuk melihat hubungan antara profitabilitas, likuiditas, harga CPO, dan struktur modal perusahaan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa profitabilitas memiliki pengaruh negatif dan signifikan terhadap struktur modal. Artinya, semakin tinggi laba perusahaan, semakin kecil ketergantungan mereka terhadap utang. Ini menunjukkan bahwa perusahaan cenderung menggunakan dana internal terlebih dahulu sebelum mencari pendanaan eksternal.
Likuiditas juga ditemukan memiliki pengaruh negatif terhadap penggunaan utang. Perusahaan yang memiliki kemampuan lebih baik dalam memenuhi kewajiban jangka pendek ternyata lebih mampu menjaga tingkat utangnya tetap rendah.
Yang menarik, harga CPO ternyata tidak secara langsung memengaruhi struktur modal. Namun, harga komoditas ini terbukti menjadi faktor penguat dalam hubungan antara profitabilitas dan struktur modal. Ketika harga CPO naik, dampak profitabilitas terhadap penurunan utang menjadi lebih kuat.
Menurut Retno Damayanti dan tim dari Universitas Mulawarman, kondisi ini menunjukkan bahwa keuntungan yang diperoleh perusahaan saat harga CPO tinggi memberi ruang lebih besar untuk menggunakan dana internal. Dengan kata lain, perusahaan tidak perlu terlalu bergantung pada pinjaman.
Di sisi lain, harga CPO juga memoderasi hubungan likuiditas dengan struktur modal. Dalam kondisi harga CPO yang tinggi, perusahaan dengan likuiditas baik justru kadang tetap mengambil utang untuk ekspansi bisnis. Hal ini menunjukkan bahwa peluang pertumbuhan bisa mengubah pola konservatif perusahaan dalam penggunaan utang.
Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa faktor internal seperti laba dan likuiditas masih menjadi penentu utama kebijakan pendanaan perusahaan sawit. Namun, faktor eksternal berupa harga komoditas global tetap memainkan peran penting dalam memperkuat atau mengubah keputusan keuangan.
Temuan ini memberi pesan penting bagi pelaku industri sawit. Di tengah volatilitas harga komoditas, menjaga profitabilitas dan likuiditas menjadi kunci untuk mengurangi risiko keuangan. Bagi investor, indikator ini juga dapat menjadi acuan dalam menilai kesehatan perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi.
Dalam konteks ekonomi Indonesia, hasil riset ini menjadi relevan karena sektor sawit masih menjadi penyumbang devisa utama. Strategi pembiayaan yang tepat akan menentukan daya tahan perusahaan menghadapi gejolak pasar global.
0 Komentar